Membaca Realitas

Bersketsa Dahulu Baru Ngopi

TERNATE (kalesang) – Membahas soal dunia seni memang tidak akan pernah ada habisnya dan salah satu hal yang paling menarik untuk dibahas, yaitu mengenai Sketsa.

Ketika orang-orang mendengar kata tersebut, biasanya yang diingat tentang gambar wajah yang diukir dengan bentuk ala kartun. Belakangan ini banyak tumbuh komunitas yang mengembangkan karya seni terapan tersebut.

Nah, untuk teman-teman di Maluku Utara yang belum terlalu mengenal dengan karya seni Sketsa atau yang ingin mengembangkan bakat dalam seni terapan Sketsa, yuk join bareng komunitas Skethcda yang bermarkas di Benteng Oranje Ternate.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan bertemu dengan para fasilitator dari Komunitas Sketchda saat berkunjung ke kegiatan workshop pada tanggal 15 Januari 2023 lalu di gedung Magazin Art Space, Fort Oranje.

Di sela-sela workshop saya diajakan ngobrol oleh tiga anak muda yang dipercaya sebagai fasilitator Komunitas Skecthda, yakni Rangga Putra, Joshua Ekaprasetya dan Rizky Jihad selaku fasilitator dari Komunitas Skechtda.

Saking penasaran dengan nama komunitas mereka saya langsung bertanya ke Rangga selaku Koordinator Komunitas terkait proses pendirian dan pemilihan nama Skecthda.

Menurutnya, Komunitas Skecthda sendiri didirikan pada bulan Oktober tahun 2021 lalu atas inisiasi dari Kak Fadriah Syuaib yang saat ini menjadi mentor mereka.

Fasilitator Sketcda Ternate, M. Rangga Putra

“Jadi, setelah agenda pameran di Magazin Art Space waktu itu, Kak Fadriah melihat ada beberapa anak-anak yang bisa diajak untuk bergabung bersama di Sketcda.” Ungkapnya

Rangga bersama teman-temanya saat itu merasa bahwa ide dari Kak Fadriah untuk membentuk komunitas yang dapat memberi ruang bagi mereka dalam karya seni Sketsa langsung meyetujui ide tersebut. Kemudian mereka secara bersama menyepakati untuk memberi nama Komunitas dengan sebutan “Skecthda”.

“Jadi nama Sketchda ini, sebenarnya lahir dari kata sketsa, kemudian ditambah dengan kata “da”, yang bermakna ajakan dan seruan yang bisa orang Ternate sering gunakan. Jadi mari Torang ba sketsa dah, seperti itu.” Ucap Angga sambil tertawa.

Rangga juga jelaskan lahirnya Komunitas Skecthda bertujuan untuk meningkatkan seni rupa dan menumbuhkan rasa percaya diri pada teman-teman yang memiliki bakat di dunia seni sketsa.

“Karena banyak sekali yang punya bakat, tetapi kurang percaya diri dengan adanya komunitas ini, mungkin bisa membantu dalam sebuah ide bersama, berkumpul bersama agar bisa lebih efektif. Dalam hal ini dia tahu tentang sketsa, bisa bikin gambar, tapi mungkin belum percaya diri.” Tuturnya.

Saking seriusnya saya bersama Rangga ngobrol soal sejarah singkat pendirian Skecthda kami sampai lupa kalau di samping kami berdua rupanya masih ada Joshua sama Rizky.

Giliran Joshua nih, yang dari tadi kelihatan sudah tidak sabar untuk menceritakan apa yang sudah dibuat oleh teman-teman dari Komunitas Skecthda.

Bung Joshua menegaskan kalau saat ini teman-teman Sksecthda tidak hanya ngumpul dan menghabiskan waktu di akhir pekan. Akan tetapi, mereka memanfaatkan waktu akhir pekan untuk berkarya.

“Jadi kami di Sketchda tidak asal kumpul-kumpul dan berkarya yang kami lakukan semua itu untuk mengembangkan bakat kami.” Tegas Joshua dengan mimic yang serius.

Dalam Komunitas Sketcda ini, punya program yang sifatnya reguler per dua bulan. Selain itu, Sketcda punya kegiatan reguler setiap akhir pekan. Dengan lakukan traveling sketsa di Kota Ternate dan sekitar Benteng Oranje.

“Kita setiap tiga bulan itu ada pameran dari hasil karya teman-teman yang semuanya tentang Kota Ternate.” Ungkapnya.

Saat saya masih fokus mendengarkan obrolan dari Joshua tiba-tiba si Rizky sodorkan beberapa hasil karya Sketsa dari teman-teman Skecthda. Saya benar-benar dibuat kagum dengan hasil buah tangan dari mereka. Saya hanya bisa ucapkan satu kata untuk mereka, Waw!.

Saya hanya dapat membayangkan jika karya para anak muda kreatif yang ada di Komunitas Skecthda dapat difasilitasi dan dikembangkan dengan baik oleh Pemerintah Maluku Utara khususnya Kota Ternate agar dapat dipamerkan ke tingkat Nasional. Karena, karya-karya mereka bisa menjadi media promosi daerah.

Sambil membuka lembar per lembar hasil desain teman-teman Skecthda yang diperlihatkan, Rizky juga bilang, dengan adanya Komunitas Sketcda ini, sangat memberi tempat bagi semua orang yang suka gambar, yang tidak tahu karyanya mau diapakan.

“Jadi, Sketcda ini, bisa buat sadar orang-orang kalau hobi menggambar itu tidak salah, dan terus kembangkan bakat yang kita punya.” Tuturnya dengan bangga.

Sejak tadi kami berempat saling berbagi informasi tentang Komunitas Skecthda sampai pada melihat hasil karya Sketsa mereka membuat saya lupa bertanya tentang latar belakang mereka hehehehe.

Rupanya mereka bertiga para fasilitator Komunitas Skecthda ini masih berstatus sebagai mahasiswa loh. Rangga, Joshua dan Rizky merupakan Mahasiswa Arsitek dari Fakultas Tehnik Universitas Khairun Ternate. Begitu juga para anggota komunitas lainnya yang juga masih berstatus sebagai mahasiswa di beberapa universita di Kota Ternate.

Di penghujung obrolan kami, Angga sapaan akrab dari Rangga menyampaikan, semoga ke depan untuk Komunitas Skecthda bisa memotivasi anak-anak muda, jadi ruang ekspresi serta bisa survive di era perkembangan teknologi.

“Untuk harapan ke depan, tentunya kami berharap agar seni rupa yang ada di Maluku Utara terus tumbuh dan anak-anak muda punya minat di dunia seni rupa itu semakin tinggi, dengan adanya fasilitas atau komunitas seperti ini, adalah salah satu cara atau strategi yang bisa menumbuhkan minat di seni rupa lebih banyak.” Harapnya.

Anggota Komunitas Skecthda Ternate

Angga juga berterima kasih atas dukugan dari para mentor Kak Fadriah, Kak Rika, dan Kak Aiya sejak berdirinya komunitas. Dirinya juga menyampaikan Komunitas Skecthda saat ini memiliki anggota sudah lebih dari 20 orang.

“Saat ini, yang tergabung dalam Komunitas Sketcda, sudah lebih dari 20 orang. Kami buka ruang, siapa saja bisa gabung di sini, namun kami membatasi usia, sekiranya harus 16 tahun keatas.” Bebernya.

Untuk rekrutmen ini ada dua cara yang dilakukan oleh Angga dan teman-temannya. Melalui google formulir, dan registrasi melalui keanggotaan tetap ada juga keanggotaan yang sifatnya temporer yang artinya yang bisa mengikuti saat-saat dimana sedang melakukan tour.

Tak terasa, obrolan kami berempat cukup lama. Angga, Joshua dan Rizky meminta izin untuk lanjutkan kegiatan workshop di Gedung Magazin Art Space.

Di sana, sudah terlihat teman-teman yang hadir cukup antusias. Dari mereka sudah membawa alat-alat untuk sketsa nantinya.

Mereka bertiga pamit sambil berkata, kami bersketsa dahulu ngopinya nanti yah.

 

Penulis: Sitti Halimah Duwila

Editor: Wendi Wambes