Pemenuhan kebutuhan gizi pada bayi lewat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif akan mampu mengatasi permasalahan anak mengenai stunting (pendek dan berbadan kecil). Pertumbuhan bayi sangat rentan jika tidak dibarengi dengan ASI sejak lahir. Hal ini menjadi perhatian ketika si ibu tidak bisa memberi ASI kepada anaknya, tentu akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangan bayi.
Kita ketahui saat pandemi Covid-19 lalu, banyak merenggut nyawa para ibu, sehingga hal ini membuat anak kekurangan pemenuhan ASI. Kejadian ini, menjadi salah satu topik yang diperbincangkan perlunya menyediakan bank ASI saat situasi darurat. Bahkan berbagai kalangan pun mendukung program ini untuk membantu anak-anak dalam memenuhi kebutuhannya pasca ibu melahirkan.
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mendapatkan permintaan untuk mencari donor ASI saat pandemi. Namun permintaan tersebut tidak diindahkan, dengan alasan meskipun ibu terinfeksi Covid-19, tapi masih bisa menyusui. Kehadiran bank ASI sendiri dinilai seolah-olah peran ibu telah tergantikan. Namun, sebagian kalangan berpandangan, bahwa munculnya Bank ASIjustru sangat membantu perkembangan bayi dalam proses pertumbuhan.
Negara Australia misalnya, sudah menerapkan Bank ASI kepada warganya. Dilansir melalui laman ABC Australia, Jumat, 8 Mei 2021 menuliskan, bahwa cadangan ASI diperuntukkan bagi ibu yang membutuhkan apabila kekurangan ASI, akibat terdampak peristiwa darurat. Seperti kebakaran, kekeringan, banjir dan pandemi Covid-19.
Pendiri dan Direktur Bank ASI, Marea Ryan, mengidentifikasi adanya kebutuhan mendesak untuk cadangan setelah melihat celah di sekitar keadaan darurat baru-baru ini, “kami telah meluncurkan proyek untuk mengumpulkan sebanyak mungkin ASI, sehingga kami dapat memiliki cadangan darurat ASI dengan layanan darurat di setiap negara untuk semua bayi yang membutuhkan” (Republika.co.id, 2020).
Diketahui, ASI termasuk makanan terbaik bayi. Pemberian ASI semenjak bayi berusia 0-6 bulan merupakan sebuah keharusan, sebab jika anak kekurangan ASI eksklusif akan menyebabkan jumlah sel otak berkurang 15-20%. Olehnya itu, Kementerian Dinas Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) perlu memfasilitasi Bank ASI sebagai upaya mendukung pencegahan stunting.
Di Maluku Utara sendiri masih terdapat banyak bayi yang menderita stunting akibat pemenuhan ASI yang kurang. Hal ini diungkapkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku Utara, di mana angka pravelensi stunting tertinggi berada di Kabupaten Taliabu sebesar 35, 2 persen.
Sementara data Kalesang.id pada 1 Februari 2023, mencatat trend angka kematian bayi di Maluku Utara pada tahun 2022, yang disebabkan oleh lamanya pemberian ASI terhadap si bayi mencapai 28,61 persen. Di mana angka kematian bayi tertinggi berada di Kabupaten Kepulaun Sula sebesar 36,71 kejadian per 1000 kelahiran hidup, sedangkan yang terendah berada di Kota Ternate sebesar 22,06 kejadian per 1000 kelahiran hidup.
Hal ini pula bisa terjadi di daerah lainnya, misalnya dalam studi lapangan penulis, di Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate,Kota Ternate, Provinsi Maluku Utarapada tahun 2021 lalu, mengenai “Sistem Perawatan Kesehatan Tradisional Pada Balita di Masyarakat Rua”. Saya menemukan beberapa sampel, yakni ibu-ibu setelah melahirkan tidak memiliki ASI, dan untuk menggatikannya, bayi mereka diberi susu toko, ada pula yang memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sekitar.
Mengkonsumsi bahan pengganti ini, serta pemanfaatan tumbuhan di lingkungan sekitar, merupakan sistem pengetahuan bagi masyarakat setempat, dengan kepercayaan yang dimiliki. Akan tetapi hal ini saja tidak cukup, bayi harus mengkonsumsi ASI demi pemenuhan gizi-nya di awal masa perkembangan. Jika tidak, akan berpotensi padagejala stunting terhadap bayi tersebut. Padahal ASI menjadi makanan pertama yang harus diperhatikan dalam masa pertumbuhannya pasca melahirkan.
Olehnya, memenuhi kebutuhan ASI dalam keadaan darurat seperti ibu melahirkan tanpa ASI, hingga dipengaruhi faktor tertentu sehingga ibu meninggal dunia. Selain itu, perlu adannya dorongan edukasi lebih jauh terhadap orang tua, mengenai pertumbuhan bayi mengkonsumsi ASI, maupun pola makan anak ke depannya yang selalu berubah, tidak ada ketetapan makanan yang dimakan.
Edukasi soal kebutuhan ASI serta perlunya pembentukan Bank ASI tentu harus dikampanyekan, terlebih dalam perayaan Hari Gizi misalnya, maupun dilakukan dalam bentuk sosialisasi pada hari-hari nasional lainya terkait penting ASI dalam petumbuhan dan perkembangan si bayi.
Alasan ini dilakukan guna mencegah secara dinigejala stunting pada bayi, ketika ibu hamil kekurangan gizi, maka sudah tentu berpotensi melahirkan bayi stunting. Karenanya penting Bank ASI hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menanggulangi dalam keadaan saat darurat semacam ini.
Pembentuk Bank ASI ini, guna mencegah stunting yang dominan menyerang bayi. Untuk itu, kita tidak bisa memungkiri dengan adanya keberadaan Bank ASI yang sangat membantu bayi, terlebih jika si bayi kehilangan sosok ibu, bahkan dalam kondisi darurat pun, pemenuhan ASI akan tetap terpenuhi dengan adanya Bank ASI pada berbagai daerah di Indonesia.***
