Membaca Realitas

Sula Pijakan Terakhir

SANANA (kalesang) – Gerimis di sore hari. Sepanjang jalan begitu sunyi. Di bawah pohon lebat pijakan kaki melangkah ke kebun. Kakinya masih kencang. Tapi usianya tak lagi muda. Semangatnya masih berapi-api.

Mohtar, lelaki asal Flores, Nusa Tenggara Timur itu meretapi nasibnya di Desa Fokalik, Kecamatan Sulabesi Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara.

Di usia 14 tahun, Mohtar pertama kali keluar dari kampungnya untuk mencari pekerjaan. Waktu itu, ia bersama saudara naik kapal layar yang sedang memuat kopra.

Kemudian, di tahun 1979, lelaki 68 tahun itu pertama kali menginjak kakinya di Kepulauan Sula, tepatnya di Desa Pelita, Pulau Mangoli.

Di Pulau Mangoli sendiri, di tahun itu, rata-rata masyarakat masih menganggap pohon kelapa sebagai sumber kehidupan utama.

Sementara lelaki kelahiran 1955 itu, sama sekali tidak punya keahlian panjat pohon kelapa.

Demi bertahan hidup, tentu teman-temannya jadikan panjat kelapa sebagai sumber keuangan. Lantaran tak punya keahlian, Mohtar diberi tugas sebagai tukang masak.

Meski begitu, Mohtar sangat berkeinginan bisa panjat pohon kelapa, dengan usia yang masih muda, ia terus berusaha.

Akhirnya, beberapa minggu kemudian lelaki berambut kriting itu bisa menaklukkan pohon kelapa setinggi 10 hingga 15 meter.

Setelah bisa memanjat pohon kelapa, Mohtar berpindah ke Desa Dofa, Kecamatan Mangoli Barat. Di sana ia tinggal bersama warga setempat yang berketurunan Arab, yakni Dula.

“Di Dofa itu kami masih tetap panjat pohon kelapa. Lokasinya di Sanggalap, atau perbatasan Desa Dofa dan Desa Leko Kadai.” Kata Mohtar saat ditemui reporter kalesang.id, Minggu (5/2/2023).

Tentu, Mohtar mengatakan, selama bekerja di Desa Dofa, ia masih sisipkan uang untuk ditabung. Tak lama kemudian dia berangkat ke Kota Bitung.

“Ketika saya di Bitung, saya kerja di pabrik pembuatan paku dengan gaji tak seberapa.” Bebernya.

Tidak berhenti sampai di situ, di tahun 1980 Mohtar ikut saudaranya pergi ke Tumohon untuk memanen buah cengkeh.

“Usai panen cengkeh, saya langsung bawa ke Kota Surabaya untuk dijual dan saya balik ke Flores, tapi tak lama.” Ucapnya.

Masih di tahun 1980, Mohtar mengaku dirinya kembali lagi merantau. Kali ini, daerah yang dituju adalah Kabupaten Pualau Taliabu.

”Setiba di Taliabu, saya tak terlalu lama. Kemudian saya lanjutkan perjalanan dengan menumpang longboat menuju ke Desa Minaluli, Kecamatan Mangoli Utara.” Ujarnya.

Di Minaluli, Mohtar masih menjadi sebagai tukang panjat kelapa. Kelapa yang mereka panjat itu, rata-rata milik warga setempat. Jadi hasilnya harus dibagi dua.

“Saya bekerja selama dua minggu di Desa Minaluli. Uang yang saya dapat itu kalau tidak salah Rp250 ribu.” Terangnya.

Selepas dari Minaluli, lanjut Mohtar, ada juga Desa Binono, Salaobi, Modapia dan beberap desa lainnya.

Kemudian, di tahun 1988, Mohtar datang ke Desa Wailoba, Kecamatan Mangoli Tengah, dengan tujuan melamar kerja di perusahaan Mangtip I Barito yang pada saat itu sedang beroperasi.

“Alhamdulillah saya diterima sebagai karyawan survei hutan rimba yang berada di Pulau Mangoli.” Katanya.

Hingga tahun 1994 ia mengikuti Diklat Satpam gelombang pertama di Kota Ambon. Di tahun 1995, lelaki yang berkeliling Pulau Mangoli itu menikah dengan seorang perempuan asal Desa Waiman, Kecamatan Sulabesi Tengah, Hayati Umagapit.

“Kami dikarunia satu orang anak perempuan yang diberi nama Sulfa. Ketika Sulfa berenjak remaja, ibunya meninggal dunia akibat sakit yang tak bisa tertolong.” Tutur Mohtar.

Walaupun istrinya sudah meninggal, lelaki berjiwa perantau itu, tetap masih selalu membimbing anak gadisnya hingga tumbuh dewasa dan menikah.

“Jadi memasuki tahun 2000, saya mendapat pemutihan dari perusahaan Barito.” Katanya.

Pasca dari situ, lelaki bertubuh kecil itu kembali mengadu nasib di Kota Sanana. Di Sana, ia bekerja di perusahaan pengaspalan, yang pada waktu itu sedang tangani pekerjaan jalan dari Kecamatan Sanana hingga Kecamatan Sulabesi Selatan.

“Selama ini tuhan tidak pernah memberi tubuh saya terbaring di tempat tidur, karena sakit parah. Saya hanya merasakan demam biasa, tetapi ketika minum obat, langsung sembuh.” Ungkapnya.

Mohtar terus berusaha dan mencari pekerjaan di Sanana. Kemudian, ia mencari tanah di Desa Pohea, Kecamatan Sanana Utara untuk membuat kebun sekaligus dijadikan tempat tinggal.

“Saya berkebun selama beberapa tahun. Jadi di tahun 2019, saya pindah lagi ke Desa Fokalik dengan membeli tanah untuk membuat kebun pisang, ubi dan pohon cengkeh.” Ucapnya.

“Sekarang ini pohon cengkeh sudah berumur tiga tahun. Ada satu pohon yang sudah belajar berbuah.” Tukasnya.

Kebun cengkehnya saat ini, kata Mohtar, jarak tempuh kurang lebih 2 sampai 4 kilometer. Menariknya, di kebun itu Mohtar membuat gubuk kecil sebagai tempat istirahat, sesekali ia bermalam di kebun seorang diri.

“Mungkin di Kepulauan Sula ini adalah tempat terakhir saya untuk beristirahat hingga maut menjemput.” Ucapnya sambil mengusap air mata.

“Sebagai anak muda jangan pernah menyerah mendayung hingga menggapai mimpi.” Pungkasnya.

 

 

Reporter: Karman Samuda
Redaktur: Junaidi Drakel