TERNATE (kalesang) – Membangun sebuah usaha adalah hal yang tidak mudah. Butuh tekad yang kuat untuk mencapai sebuah kesuksesan.
Meski begitu, resiko kegagalan pasti ada. Maka dari itu, tidak semua orang berani terjun dalam sebuah bisnis. Dalam menjalankan sebuah usaha, modal adalah hal utama. Namun, jika tidak dibarengi dengan tekad yang kuat, hal seperti itu tidak akan terwujud.
Bicara soal bisnis, ada seorang anak muda yang bangun kedai kopi yang saat ini cukup diminati oleh kalangan masyarakat Kota Ternate, Maluku Utara, yaitu Fitrah Akbar Muhammad.
Usaha Fitrah diberi nama Rotasi Coffee, yang beralamat di Keluraha Kayu Merah, Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara.
Di usia yang menginjak 27 tahun, Fitrah sudah punya kedai kopi yang diberi nama Rotasi Coffee Lab dan beberapa usaha lainnya.
Pakai nama Rotasi, Fitrah mengatakan, itu merupakan hasil renungan yang ia pikirkan cukup lama. Bagi sebagian orang, kata Rotasi yang artinya perputaran. Namun, baginya punya makna filosofis sendiri yang dalam.
Dengan Rotasi ini membawanya menjadi ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Ternate dan bangun jejaring.
Meski begitu, saat ini Fitrah dikenal sebagai orang yang sukses, tidak banyak yang ketahui perjalanan panjang untuk mencapai tujuan tersebut.
Sejak kecil, Fitrah bukanlah anak yang banyak meminta kepada kedua orang tuanya. Sejak di SD, ia pernah jualan tas kresek di pasar. Baginya hal itu dilakukan bukan karena paksaan, tapi keinginan dari diri sendiri.
“Bahkan beberapa kali, saya beli mainan pakai uang hasil kerja saya sendiri. Tak hanya itu, saya juga jual kue keliling dan pisang goreng. Waktu kecil saya bukanlah orang yang dikenal banyak orang waktu itu.” Katanya, Selasa (28/2/2023).
Baca Juga: Dari Jual Kue Musiman, Kini Punya Brand Sendiri
Bahkan, ketika duduk di bangku SMP, ia masih jualan di sekolah. Hal ini, dilakukan karena ia sendiri sadar bukan terlahir dari keluarga yang berada.
“Dan saya bukanlah orang yang punya banyak teman sejak masih sekolah.” Ujarnya.
Setelah lulus SMA di tahun 2013, Fitrah melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Bandung, Jawa Barat. Awal kuliah, ia sudah belajar tentang dunia kopi. Karena ia pernah minum kopi yang dibuat oleh salah satu temannya. Hingga akhirnya rasa penasaran pun mulai muncul di benaknya.
Hingga ia memutuskan untuk belajar tentang kopi, di salah satu desa di Jawa Barat selama dua bulan. Selama tinggal di kebun kopi, banyak hal yang ia pelajari, bagaimana cara orang menanam kopi, merawat hingga panen.
“Dari situ saya banyak belajar bahwa kopi tidak sesederhana yang orang lain katakan.” Ungkapnya.
Setelah itu, Fitrah mulai masuk ke dunia industri kopi dan bangun relasi dengan beberapa orang. Kemudian berani buka kedai kopi bersama tiga temannya. Ia bahkan dipercaya sebagai manager 372 kopi.
Selain itu, Fitrah mengaku, sejak di bangku kuliah ia juga bekerja paruh waktu menjadi karyawan di pizza hut, McDonald, dan beberapa usaha lainnya. Hal ini dilakukan agar uang kuliah yang dikirim orang tuanya tidak terpakai untuk nongkrong.
“Jadi, saya kerja sambil kuliah waktu itu. Dan alhamdulilah saya bisa menyelesaikan S1.” Ungkapnya.
Setelah lulus S1, Fitrah pun melanjutkan S2 di Bandung, perjalanan panjang waktu itu tidaklah mudah. Hingga akhirnya di tahun 2021 ia lulus, kemudian memutuskan untuk kembali ke Kota Ternate bersama dengan keluarganya.
Melihat lahan keluarga yang tidak terpakai, Fitrah pun mendiskusikan untuk bangun usaha di tempat tersebut.
“Sampai di Ternate, saya putuskan untuk bangun usaha kedai kopi. Berkat pengalaman juga pernah menjadi seorang barista di kedai kopi, sejak kuliah.” Ucapnya.
Baca Juga: Intip Menu Favorit Kedai Sinar Gemilang
Hingga akhirnya di bulan Agustus 2019, running bangunan dan di tanggal 1 Maret 2020 opening Rotasi bertepatan dengan Covid-19. Awalnya tidak terlalu berpengaruh. Namun, ia harus tutup karena aturan dari pemerintah.
“Awal Rotasi jalan, saya tetap bangun brand dan untuk pelanggan saya benar-benar mulai dari nol. Hingga akhirnya bangun branded Rotasi dan mulai dikenal. Saya percaya media sosial itu efektif dan semua mengalir saja dari mulut ke mulut, akhirnya sekarang sudah mulai dikenal banyak orang.” Katanya.
Dari proses yang dilalui oleh Fitrah dan masuk di dunia industri kopi, bertemu dengan beberapa relasi. Jika pun usahanya rugi, ia tidak akan pernah tutup. Karena baginya Rotasi merupakan proses sejak lama dan wujud dari prosesnya itu adalah Rotasi.
“Untuk Rotasi sendiri, bagi saya bukan soal bisnis. Karena ini adalah proses yang perlu saya wujudkan. Inilah yang menjadi prespektif saya tentang Rotasi. Saya percaya bahwa usaha yang tidak mati adalah usaha yang dicintai.” Ucapnya.
Dalam proses yang digeluti oleh Fitrah, ia selalu menggunakan kata koma bukan kata titik. Jadi orang-orang melihatnya di hari ini, dengan proses ini ia bersyukur karena sangat panjang, bukan pucuk yang langsung seperti ada di tahap ini.
“Keberhasilan orang saat ini ketika orang lain melihat saya yang saat ini, bukan di masa lalunya. Jadi orang melihat saya di hari ini masih seperti di masa lalu, berarti ia tidak ada perubahan.” Jelasnya.
Sebagai owner Rotasi, Fitrah punya visi ke depan untuk membangun ekosistem kopi di Maluku Utara lebih subur. Karena menurutnya, berbicara ekosistem di dalam dunia kopi ada tiga pilar, yaitu petani, roastery, konsumen dan pelaku usaha.
“Jadi, makin banyak kedai kopi di Maluku Utara, berarti ekosistem kopi itu subur.” Tambahnya.
Untuk konsep bangunan yang ia memilih, ada indoor dan outdoor. Hal ini dilakukan agar orang-orang lebih bebas memilih untuk datang di Rotasi. Bahkan untuk acara formal pun bisa dilaksanakan di kedainya.
“Yang datang hanya sekadar nongkrong atau buat tugas lebih leluasa, full musik juga ada di sini.” Katanya.
Baca Juga: Cerita Ahmad Alhaddar, Rela Berhenti Kuliah demi Bangun The Manicos Caffee Shop
Fitrah punya prinsip sendiri dalam usaha maupun karyawan yang membantunya saat ini. Bahkan ketika siapapun yang bekerja di Rotasi, ke depannya ia berharap agar mereka punya usaha sendiri dan harus berkembang.
“Barista di Rotasi ini, paling lama itu setahun. Saya suruh cabut, bukan karena tidak mau mereka lama untuk kerja. Tapi kalau hanya di sini, mereka tidak berkembang. Dan saya tetap membantu mereka jika mau bangun usaha.” Bebernya.
Lelaki yang saat ini profesi sebagai dosen di Universitas Muhamadiyah itu bilang, untuk bangun usaha kedai kopi, hal yang pertama dilakukan adalah mulai saja. Dengan dasar pikiran bahwa jangan harus ada untung dalam konteks untungnya harus sekian. Kalaupun untungnya sekian, itulah yang didapatkan.
“Siapapun yang bangun usaha, jika itu kedai kopi dia harus belajar tentang kopi ataupun bisnis pakaian, dia harus belajar hal yang serupa. Sehingga pelaku tersebut punya pengetahuan tentang usaha yang dibangun tersebut.” Jelasnya.
Kedai kopi di Ternate ini, kata Fitrah, terhambat dalam berbagai macam hal, yaitu tingginya bahan baku disertai dengan ketersediaan bahan baku yang masih terbatas.
Fitrah punya harapan besar, ke depan agar industri kopi di Maluku Utara harus jadi industri kopi timur. Lebih banyak pelaku usaha kopi, maka lebih baik.
“Besarnya industri kopi itu bukan karena modal, tetapi adanya solidaritas antar pelaku usaha, solidaritas antar barista, communitynya kuat, gerakannya kuat, edukasi yang kuat. Maka, industri kopi itu harus besar.” Tandasnya. (tr-04)
Redaktur: Siti Halima Duwila
Redaktur: Junaidi Drakel
