Membaca Realitas

Bentuk Toleransi saat Malam Lailatul Qadar di Kota Ternate

Uci Sabea ini Dimulai dengan Iring-iringan Personel dari Tabanga yang Beragama Nasrani

TERNATE (kalesang) – Malam Lailatul Qadar merupakan malam penuh keistimewaan dan selalu dinanti-nantikan bagi ummat muslim di tiap tahunnya pada akhir bulan suci ramadan.

Di Kota Ternate, Maluku Utara, malam Lailatul Qadar dimeriahkan dengan beberapa ritual yang dilakukan oleh Kedaton Kesultanan Ternate, salah satunya prosesi Uci Sabea atau turun salat ke Masjid Kesultanan Ternate atau Sigi Lamo.

Di mana, dalam perjalanan menuju Masjid Kesultanan Ternate atau Sigi Lamo tersebut, Sultan Ternate ditandu oleh pasukan kedaton dan dikawal oleh beberapa pasukan.

“Uci Sabea ini dimulai dengan iring-iringan personel dari Tabanga yang memakai baju hitam-hitam yang mana mereka ini adalah beragama nasrani.” Kata Fanyira Kadaton Ternare, Rizal Effendi kepada kalesang.id, Senin (17/4/2023) malam.

Baca Juga: Sambut Lailatul Qadar, Kesultanan Tidore Gelar Sejumlah Ritual Adat

Justru, lanjutnya, dengan beragama Nasrani para personel Tabanga ini merupakan paling depan ketika mengantarkan Sultan Ternate ke Sigi Lamo untuk melaksanakan Salat Isya dan Tarawih.

“Hal tersebut merupakan simbol toleransi dan pada saat Sultan Ternate melaksanakan Salat Isya dan Tarawih di Sigi Lamo justru pasukan Tabanga ini berjaga di depan.” Sebut Rizal.

Baca Juga: Meriahkan Festival Ela-ela, Warga Kampung Makasar Timur Antusias

Selain itu, kata dia, di belakang pasukan Tabanga tersebut terdapat pasukan Ngongare Ici, pasukan itu berjumlah 12 orang yang membawa alat-alat kebesaran dan pusaka leluhur.

“Jadi pasukan Tabanga itu merupakan bentuk toleransi dalam beragama.” Pungkasnya.

 

Reporter: Tim Redaksi

Redaktur: Junaidi Drakel