Tiga tahun lamanya mereka menghabiskan waktu secara bersama. Bahkan, membuat janji tidak ada jurang pemisah.
Hari-hari telah dilalui dengan rasa bahagia, itu dilakukan atas dasar cinta yang kuat. Hubungan mereka terbilang mesra, meski sering mengalami masalah.
Cinta mereka dimulai pada tahun 2018. Hubungan itu dijalani penuh kegembiraan. Suka duka telah dilewati. Berjanji akan hidup bersama selama-lamanya.
Itu yang membuat cinta tumbuh dengan subur, berjalan dengan makmur. Ketulusan menjadi pegangan utama dalam kisah yang sempurna itu, sehingga tidak ada penghalang.
Waktu terus berputar, mereka selalu bersama-sama. Di mana ada Emi, di situpun ada Egi. Semua orang dibuat takjub dengan kisah mereka, karena begitu harmonis.
Sayangnya, kisah indah itu hanya terlihat di mata Egi. Sementara Emi, diam-diam mencintai lelaki lain. Sosok itu merupakan cinta pertama Emi. Tejo nama panggilannya.
Hubungan yang dijalani bersama Egi hanyalah bentuk kekaguman saja, karena lelaki berbadan ramping itu begitu mahir melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Bukan hanya Emi, semua orang pasti dibuat melongo dengan suara khas yang dimiliki Egi. Banyak sekali wanita menaruh kekaguman kepadanya, namun entah kenapa harus Emi yang dipilih.
Hingga suatu ketika, cinta yang dijaga selama tiga tahun itu harus kandas di jalan. Bukan mendengar dari orang lain, tetapi dari mulut Emi sendiri.
Emi secara terang-terangan menjelaskan kepada Egi bahwa, ada orang lain di dalam hatinya. Semantara Egi adalah orang kedua yang dicintainya.
Mendengar itu, Egi begitu tidak yakin, seakan tidak percaya dengan perkataan Emi. Sampai-sampai sempat berfikir ini adalah sebuah mimpi yang sedang menghantuinya.
Tak terasa, air mata mulai membanjiri kedua pipinya. Perlahan-lahan Egi mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah jalan yang harus diterima.
Meskipun belum siap, tapi itu resiko dalam mencintai. Segala bujukan telah disampaikan oleh Egi, namun tidak meluluhkan hati wanita bermata bulat itu.
Tekadnya sudah bulat, keinginan untuk berpisah tidak bisa diurungkan lagi. Sebab jadwal pernikahan sudah dibicarakan bersama dengan Tejo. Semua keluarga telah sepakat.
Mendengar ucapan itu, Egi semakin terpukul. Mengapa Emi begitu kejam mempermainkan perasaannya. Padahal, ia begitu tulus mencintai Emi. Namun semua sia-sia.
Dengan penuh lapang dada, perlahan menarik nafas, Egi mulai menerima keputusan wanita itu. Meski dalam hatinya, ia belum siap menghadapi kenyataan pahit ini.
“Okelah, kalau memang itu adalah mau mu, aku tidak bisa paksakan. Mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu.” Ucap Egi sembari meninggalkan Emi.***
