TERNATE, Kalesang – Laju inflasi bulanan (month to month/m-to-m) di Provinsi Maluku Utara pada Desember 2025 masih berada dalam kondisi terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat inflasi m-to-m sebesar 0,05 persen, yang dipicu oleh kenaikan sejumlah komoditas pangan dan barang nonpangan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Secara tahunan (year on year/y-on-y), Maluku Utara mencatat inflasi sebesar 1,63 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,03. Capaian ini disampaikan BPS Provinsi Maluku Utara dalam rilis resmi yang digelar pada Senin (5/1/2026).
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Maluku Utara, Evida Karismawati, menjelaskan bahwa penyumbang terbesar inflasi tahunan berasal dari kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil mencapai 0,85 persen.
Sementara itu, inflasi bulanan terutama didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas, seperti cabai rawit, bawang merah, serta emas perhiasan yang mengalami peningkatan permintaan menjelang akhir tahun.
“Meski terdapat tekanan harga pada komoditas bumbu dapur akibat siklus akhir tahun, secara umum inflasi Maluku Utara masih sangat terkendali,” ujar Evida.
Menurutnya, laju inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas perikanan, terutama ikan segar seperti ikan cakalang dan ikan malalugis. Selain itu, subsidi tarif angkutan laut dari pemerintah turut berperan sebagai penahan inflasi.
Selain perkembangan inflasi, BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Utara pada Desember 2025 mengalami penurunan sebesar 0,59 persen menjadi 103,77.
Di sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Maluku Utara menunjukkan tren positif. Secara bulanan, TPK naik sebesar 0,42 poin, dengan hotel berbintang mencatatkan tingkat okupansi tertinggi sebesar 50,93 persen. Peningkatan ini didorong oleh tingginya aktivitas pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE) yang diselenggarakan pemerintah.
Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri hingga November 2025 masih mencatatkan surplus neraca perdagangan yang signifikan, mencapai US$ 7.131,01 juta. Tiongkok tercatat tetap menjadi mitra dagang utama Provinsi Maluku Utara.
Reporter: Nur Imaniar Naraya
Editor : Yunita Kaunar
