Sewa Lapak Rp18 Juta, Pedagang Terminal Ternate Terancam Tutup
TERNATE, Kalesang – Memasuki awal Ramadan 1447 Hijriah, sejumlah pedagang pakaian di kawasan Terminal Ternate mulai menyuarakan keluhan terkait kebijakan penataan pedagang musiman oleh Pemerintah Kota Ternate. Pedagang menilai pembukaan pasar musiman di sejumlah titik baru, seperti kawasan Benteng Oranje, berpotensi menggerus pendapatan pedagang tetap di terminal.
Husna, salah satu pedagang pakaian di Terminal Ternate, mengaku kondisi penjualan sejak awal puasa masih sangat sepi. Ia khawatir, jika pusat keramaian dialihkan ke lokasi lain, ruko-ruko di terminal akan semakin ditinggalkan pembeli.
“Kalau pemerintah alihkan keramaian ke benteng, di sini pendapatan bisa jatuh. Harusnya ruko-ruko kosong di sini atau di Salero yang difungsikan, bukan malah buka tempat baru. Kalau begitu, kita yang sudah lama di sini bisa setengah mati,” ujarnya saat di temui, Senin (23/2/2026).
Selain persoalan lokasi, Husna juga menyoroti tingginya biaya sewa lapak musiman pada momen Kampung Ramadan. Menurutnya, tarif sewa tenda yang telah dilengkapi fasilitas penerangan berkisar antara Rp15 juta hingga Rp18 juta untuk durasi beberapa minggu selama Ramadan.
“Sewa paling rendah Rp15 juta, bahkan sampai Rp18 juta. Itu cuma beberapa minggu. Kalau harganya segitu, keuntungan lebih banyak ke pengelola. Pedagang kecil bisa rugi,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lain yang enggan disebutkan namanya. Ia berharap pemerintah lebih bijak dalam menerbitkan izin pasar musiman, mengingat Ramadan menjadi momen penting bagi pedagang untuk menutup biaya pajak serta modal usaha.
“Kita berharap cuma di bulan puasa saja bisa dapat lebih. Tapi kalau pasar terlalu banyak, pembeli terbagi semua. Kadang satu minggu terakhir baru ramai, itu pun dengan modal Rp10 juta susah kembali,” ungkapnya.
Para pedagang meminta Pemerintah Kota Ternate mengevaluasi kembali penempatan pasar musiman agar tidak mematikan usaha pedagang tetap. Mereka berharap ruko-ruko yang kini sepi dapat diprioritaskan untuk dihidupkan kembali, ketimbang membuka titik baru yang dinilai memecah konsentrasi pembeli.
“Jangan terlalu banyak bikin pasar musiman supaya semua bisa sama-sama dapat rezeki. Kalau begini terus, cari uang makan saja susah,” pungkasnya.
Reporter: Nur Imaniar Naraya
Editor : Yunita Kaunar
