Membaca Realitas

Dampak Geopolitik Timur Tengah, Harga Plastik di Ternate Melonjak hingga 70 Persen

Ternate, Kalesang – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada perekonomian daerah. Di Kota Ternate, Maluku Utara, harga berbagai jenis kantong plastik dan alat pembungkus makanan dilaporkan melonjak drastis hingga 70 persen dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga ini dipicu oleh terhambatnya pasokan biji plastik global, menyusul penutupan Selat Hormuz di Iran. Selain itu, peningkatan biaya ekspedisi dari Pulau Jawa yang mencapai 30 persen turut memperparah kondisi di tingkat daerah.

Berdasarkan pantauan di sejumlah toko distributor, salah satunya Toko Putri Aulia di Kelurahan Gamalama, lonjakan harga terjadi merata pada hampir semua jenis plastik sejak dua minggu menjelang Lebaran.

Pemilik toko, Imron, mengatakan kenaikan harga sulit dihindari karena faktor pasokan dan distribusi.

“Plastik ukuran 15 kategori orisinil misalnya, yang sebelumnya dijual Rp7.000, kini naik menjadi Rp13.000 per bungkus,” ujar Imron.

Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu pedagang gorengan dan minuman, Cindar Muntaha, mengaku harus mencari cara agar usahanya tetap berjalan di tengah lonjakan biaya operasional.

“Biasanya saya beli plastik kemasan Rp9.000 per paket, sekarang sudah naik jadi Rp13.000. Ini sangat memberatkan, karena kami pedagang kecil sulit menaikkan harga jual,” bebernya.

Dampak kenaikan harga juga dirasakan hingga ke luar wilayah Ternate. Dewi, pedagang sekaligus reseller plastik asal Pulau Obi, Halmahera Selatan, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar saat berbelanja dalam jumlah partai.

“Biasanya satu karung sekitar Rp1.050.000, sekarang dengan kemasan yang sama harganya sudah mencapai Rp1.500.000,” ungkap Dewi.

Sebagai reseller, ia terpaksa menyesuaikan harga jual di wilayah Pulau Obi, yang berpotensi berdampak pada daya beli masyarakat.

Warga dan pelaku UMKM di Maluku Utara kini berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus berlanjut, harga produk makanan dan minuman di pasaran akan ikut mengalami kenaikan yang tidak terkendali.