Ternate dan Halmahera Selatan Jadi Pusat UMKM Terbesar di Maluku Utara
TERNATE, Kalesang – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang penting perekonomian Maluku Utara. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM tahun 2024, jumlah UMKM di provinsi tersebut mencapai 194.996 unit usaha dengan kemampuan menyerap 584.988 tenaga kerja.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara, Handi Susila, menempatkan penguatan UMKM sebagai bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.
“Dari total UMKM tersebut, sekitar 95 persen merupakan usaha mikro, sedangkan sisanya terdiri atas usaha kecil dan menengah,” ungkap Handi.
Kota Ternate menjadi daerah dengan konsentrasi UMKM terbesar, yakni 69.742 unit usaha. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Halmahera Selatan sebanyak 48.279 unit.
Selanjutnya, Halmahera Barat memiliki 20.465 unit, Tidore Kepulauan 15.860 unit, Kepulauan Sula 10.005 unit, Halmahera Tengah 8.200 unit, Halmahera Utara 7.038 unit, Pulau Morotai 6.909 unit, Halmahera Timur 4.963 unit, dan Pulau Taliabu 3.085 unit.
“Meski memiliki jumlah usaha yang cukup besar, pengembangan UMKM masih menghadapi tantangan, terutama dalam memperoleh akses pembiayaan,” jelas Handi.
Data Bank Indonesia mencatat, penyaluran kredit UMKM di Maluku Utara pada September 2026 mengalami kontraksi sebesar 6,79 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu, penyaluran kredit UMKM masih didominasi sektor perdagangan dengan pangsa mencapai 67 persen.
Bank Indonesia mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama, yakni penguatan kelembagaan atau korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.
“Melalui penguatan tiga pilar tersebut, BI berharap pelaku UMKM dapat meningkatkan produktivitas, kualitas produk, kemampuan manajemen, serta memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas pasar,” beber Handi.
Besarnya potensi UMKM di Maluku Utara menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat.
