Ternate, Kalesang – Kinerja ekspor Provinsi Maluku Utara pada triwulan I 2026 menunjukkan dominasi kuat komoditas nikel dengan pasar utama ke Tiongkok. Ketergantungan pada sektor tambang ini masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor daerah. Senin (5/5/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Maluku Utara periode Januari–Maret 2026 mencapai US$3.826,42 juta atau naik 19,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$3.198,74 juta. Sementara itu, pada Maret 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$1.657,26 juta atau meningkat 26,80 persen dibandingkan Maret tahun sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Maluku Utara, Simon Sapary, menjelaskan bahwa lonjakan ekspor ini sangat dipengaruhi oleh tingginya permintaan terhadap komoditas berbasis logam, khususnya nikel.
“Komoditas nikel mengalami peningkatan nilai ekspor terbesar, yakni naik US$375,33 juta atau sebesar 36,24 persen. Selain itu, bahan kimia anorganik juga mencatat pertumbuhan signifikan secara persentase,” ujarnya.
Secara struktur, ekspor Maluku Utara masih didominasi oleh tiga komoditas utama, yakni besi dan baja (HS 72) sebesar US$2.065,33 juta, nikel (HS 75) sebesar US$1.410,92 juta, serta bahan kimia anorganik (HS 28) sebesar US$221,90 juta. Ketiga komoditas ini menyumbang hingga 96,65 persen dari total ekspor.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor mencapai US$3.612,87 juta atau setara 94,42 persen dari total ekspor. Negara lain yang juga menjadi tujuan ekspor antara lain Korea Selatan sebesar US$83,90 juta, Amerika Serikat sebesar US$59,39 juta, Jepang sebesar US$58,86 juta, serta Taiwan sebesar US$7,67 juta.
Menurut Simon, peningkatan ekspor Maluku Utara tidak lepas dari naiknya permintaan global, terutama dari Tiongkok yang mengalami kenaikan impor dari Maluku Utara sebesar US$539,67 juta atau 17,56 persen. Jepang juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 45,47 persen.
Selain itu, sebagian aktivitas ekspor Maluku Utara masih dilakukan melalui pelabuhan di luar daerah. BPS mencatat nilai ekspor yang dimuat melalui provinsi lain mencapai US$223,98 juta atau 5,53 persen, dengan kontribusi terbesar melalui DKI Jakarta sebesar US$218,93 juta.
Meski menunjukkan tren positif, Simon menekankan pentingnya diversifikasi komoditas ekspor agar perekonomian daerah tidak terlalu bergantung pada satu sektor utama.
