Nobar Pesta Babi Digelar di Kawasi, Warga Sebut Film Dekat dengan Realitas Lingkar Tambang
Halsel, Kalesang – Warga Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di pelataran jalan umum desa, Minggu (17/5/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Canga Kawasi itu menjadi ruang refleksi bersama terkait isu kerusakan lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat adat di Papua maupun Maluku Utara.
Kegiatan tersebut diikuti puluhan warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pemuda hingga lansia. Antusiasme warga terlihat selama pemutaran film karya sutradara Dhandy Dwi Laksono bersama timnya itu berlangsung.
Setiap bagian cerita yang ditampilkan dalam film disebut menghadirkan respons emosional dari peserta. Sejumlah warga tampak mengikuti jalannya pemutaran dan diskusi dengan serius.
Baca Juga:
TNI Bubarkan Nobar Film Pesta Babi di Ternate, AJI Sebut Kebebasan Berekspresi Terancam
TNI Bubarkan Nobar “Pesta Babi” di Gedung UKM Unkhair, Mahasiswa Sebut Bentuk Intimidasi
Salah satu warga Kawasi, Jemi Karteang, menilai isi film Pesta Babi memiliki keterkaitan dengan pengalaman masyarakat yang hidup di wilayah lingkar tambang, termasuk di Desa Kawasi.
“Film Pesta Babi sangat mewakili kami sebagai warga Kawasi, atau lebih tepatnya masyarakat yang hidup di kawasan lingkar tambang di Maluku Utara,” ujar Jemi.
Ia mengatakan sejumlah persoalan yang digambarkan dalam film, seperti kerusakan lingkungan hingga dugaan intimidasi terhadap masyarakat, dinilai memiliki kemiripan dengan kondisi yang dirasakan sebagian warga di wilayah tambang.
“Fakta tentang pengrusakan, intimidasi dan persoalan lain yang ditampilkan dalam film menjadi sesuatu yang menurut kami juga dirasakan masyarakat di Papua Selatan maupun warga Kawasi,” katanya.
Pemutaran film tersebut disebut menjadi perhatian tersendiri karena dilakukan di kawasan yang berada di sekitar aktivitas industri pertambangan di Pulau Obi, termasuk area yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan nikel.
Dalam sesi diskusi, salah satu pembicara, Mubalik Tomagola, menyampaikan bahwa film Pesta Babi memberikan pesan kuat bagi generasi muda, khususnya masyarakat adat di Papua dan wilayah lain di Indonesia.
Menurutnya, film itu menggambarkan adanya dampak sosial dan ekologis yang perlu menjadi perhatian bersama.
“Kejahatan yang terstruktur dan sistematis dalam film Pesta Babi menunjukkan ada pihak yang harus menanggung dampaknya. Dalam pandangan kami, masyarakat adat dan generasi mendatang menjadi kelompok yang paling rentan,” ujarnya.
Mubalik juga menyoroti kondisi di Maluku Utara yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan isu yang diangkat dalam film. Ia menilai perlu adanya perhatian terhadap keberlanjutan wilayah adat dan sumber pangan lokal di tengah pembangunan dan aktivitas industri.
Kegiatan nobar dan diskusi berlangsung hingga film berdurasi lebih dari satu jam itu selesai diputar.
“Bagi peserta, pemutaran tersebut tidak hanya menjadi ruang menonton bersama, tetapi juga wadah bertukar pandangan mengenai lingkungan, masyarakat adat, serta masa depan wilayah yang mereka tempati,” tandasnya.
