Oleh
Abdul M. Ashab
Aku Bagai Asing di Pelupuk Matamu..
Semula Kita Pernah Tumbuh Diantara Bentang Kata Bernama Cinta
Alam Menjadi Saksi Bisu diatas Altra Lapisan Langit 99 Wujud Rindu
Sehelai Nafas Terbungkus Ayat Ragaku Tersirat Namamu
Matamu yang dingin Membutakan Seribu Narasi Dinding Logika Ku
Nada Rasa Tertulis Rindu Kau Terbangkan
Bersama Angin Dicerca Burung di Persimpangan KotaNona..Aku Tak Mampu Bernafas Meresapi Alam
Betapa Kau Buat Ku Tenggelam Ke Dasar Selat dan Teluk Halmahera
Masih Ingatkah Kau Akan Raut Wajahku .?
Nona…Di Dalam Semesta Hatiku ini..
Ada Seberkas Rindu Yang Mengguncang yang Tak Kunjung Habis dan Terpaut
Di Dalam Rentang Masa Yang Kian Memuai
Ada Segores Nama Yang Tak Jua Pupus dari Memoriku
Yang Menyayat teramat Dalam..
Nona…Aku Hampir Mati Menanggung Cinta, Dan Membendung Rindu ini
Yang Berserakan Bersama Karang – Karang
Terbawa Arus Hingga Ku Jauh Berlalu Semakin Jauh..
Waktu Berjalan Begitu Cepat, Kaupun Hilang Dimakan Zaman
Catatan Rasa Telah Hancur Berderai Berceceran
Diatas Jalan Tangisan Cinta Bertinta Merah..
Dalam Hitungan 1 2 3 Jiwa Ini Sengit Tak Berdaya
Bila Teringat Raut Wajahmu seakan Menderu Perkasa di Benakku
Nona…Aku Harap Kau Dengar Ratapanku Ini..
Entah Kapan Kita Dapat Bersua dan Bercumbu Lagi
Bagai Masa – Masa yang Lalu…
Aku Masih Menunggumu dipersimpangan Tanjung
Yang penuh Cinta tanpa Memikirkan Duka
Dengan Penuh Pengharapan…
