Membaca Realitas

Dari Botol Plastik untuk Anak Yatim

TERNATE (kalesang) – Guratan hidup jelas terlihat di wajah yang penuh keriput dimakan usia. Kulitnya legam terbakar mentari. Sungguh wajah sorang wanita tua yang telah melewati berbagai getirnya hidup. Nurbia Djalali terlihat kelelahan, sorot mata nenek 67 tahun yang ditemui kalesang saat tengah mengepul botol plastik bekas air mineral itu, muram.

Hingga sore, baru setengah kantong plastik lebih yang ia kumpulkan, jika dihitung mungkin hanya belasan botol. Demi itu, seharian Nurbia harus berjuang berjalan kaki dari gang ke gang, lorong ke lorong dengan sendal karet tipis tergerus aspal.

Dalam pikirannya, masa depan dua cucunya jauh lebih penting dari segalanya, meski ia harus berjalan dengan pakaian basah kehujanan dan kepanasan dihantam terik matahari.

Botol yang sudah sudah dikumpul tak bisa langsung dijual, tapi harus dibersihkan dengan air lalu dibungkus kantong plastik. Keterbatasan fisik mebuatnya hanya mampu mengumpulkan uang paling banyak Rp20 ribu.

Memang jumlah itu tak cukup untuk membayai pendidikan kedua cucunya apalagi kebutuhan sehari-hari, namun Nurbila yakin jika Allah maha memberi, apalagi kedua cucunya adalah anak yatim piatu yang akan selalu dibukakan pintu rezeki.

“Jangan sampai cucu saya tak makan karena saya tak punya uang, sedangkan teman-temannya bisa makan. Saya sedih kalau bgitu.” Ungkapnya getir.

Nurbia sebenarnya tak sendiri, ia memiliki 13 orang anak hasil buah cintanya dengan Khalil Kahar yang sudah sejak lama kembali ke haribaan Allah. Ada 9 laki-laki dan 4 perempuan anaknya. Entah berapa orang yang masih hidup, Nurbia tidak menjelaskan.

Namun, anak-anak Nurbia menetap di beberapa kabupaten di Pulau Halmahera, Jakarta, Sulawesi, Taliabu, ada juga di Ternate. Sejak lama wanita tua kelahiran Sulawesi Selatan tahun 1955 ini, harus berjuang seorang diri menghidupi dua cucu laki-lakinya yang sejak kecil ditingal mati sang anak dan suaminya.

Kini keduanya telah duduk di bangku salah satu SMP di bagian selatan Kota Ternate, Maluku Utara. Mereka bertiga hidup di sebuah rumah sederhana di lingkungan RT/02 RW/01 Kelurahan Fitu.

“Biar hanya sederhana, saya punya rumah sudah permanen. Yang penting jangan menumpang di orang, karena saya memelihara anak yatim piatu.” Ungkap Nurbia.

Sebelum jadi pengepul botol plastik, Nurbia sempat menanam kangkung dan daun pandan dekatan rumahnya, sayang lokasinya berkebun masuk dalam sengketa lahan, hingga ia terpaksa banting setir mencari cara untuk mendapatkan biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari sang cucu dengan menjadi pengepul.

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari Nur sering mendapat bantuan dari  orang-orang yang prihatin. Kadang mereka membawa bahan makanan, ada juga yang sekadar memberi uang belanja untuk membantu agar dapur Nurbia tetap mengepul.

“Saya terkadang kondisi mendesak tak punya uang tiba-tiba ada yang membawa beras, gula, teh, minyak kelapa ke rumah. Saya sebatas mengirim doa semoga orang-orang sering memberi bantuan itu, Allah berikan rezeki yang melimpah.” Beber Nurbia.

Nurbia mengeluh, ia mulai khawatir dengan kondisi kesehatannya yang menurun. Apalagi matanya tak bisa lagi melihat jelas akibat lapisan katarak yang mulai menebal. Belum lagi sakit maag yang tak jarang mendera. Namun belum juga ia memeriksakan diri ke dokter.

“Mau bagaimana ingin sekali periksa ke dokter, hanya saya tak punya uang dan anak-anak bilang mereka juga tak ada uang.” Ucap Nurbia dengan mata berkaca-kaca.(tr-02)

 

Reporter: Dedi Sero-Sero

Redaktur: Wawan Kurniawan