Membaca Realitas

Aku Bersaksi Siapa Pembunuhnya

Oleh: La Ode Zulmin

Pegiat Literasi Independensia

 

Lepaskan kami. Tolong kami! Siapa pun, tolong selamatkan kami!

Teriakan itu bertalu-talu dari hulu sungai, benar-benar menarik perhatian kami saat melakukan petualangan di hutan. Rasanya pada teriakan terkahir tampak berbeda, seperti leher tergorok. Dengan sigap kami melesat menuju hulu, menyisir gosong, melompati bebatuan, pohon-pohon tumbang dan akar merambat di atas tanah. Dari jarak jauh kami bersembunyi dan mengintip di balik daun-daun, sungguh, seonggok tubuh telah terkapar tak bernyawa di atas gosong, aliran sungai yang semula jernih berubah kemerah-merahan.

Di seberang sungai, dengan teropong kulihat dua orang lelaki yang sepertinya menjadi tawanan. Satu berbadan ramping, dan satunya badanya kekar agak berisi. Pelipis dan pipinya berlumur darah, tangannya diringkus dengan rontan. Di sekeliling dua tawanan ada tiga orang yang sedang menggenggam parang, bila terkena sinar matahari parangnya akan memantulkan cahaya. Barangkaliparangnya baru usai diasah.

Untuk melihat lebih dekat dan memastikan ada penawanan di sana, kami berjalan ke hilir sekitar satu kilometer agar tak diketahui oleh orang-orang yang sedang cekcok itu. Arus sungai memang begitu megah, dan ganas, sesekali merobohkan tubuhku dan terbawa arus ke hilir. Hingga satu batu yang berhasil kuraih, menjadi pahlawan keselamatanku. Namun, pongahnya sungai, tak dapat menumbangkan pendirian Patah. Kuda-kuda kakinya sangat kokoh dan kuat menghadang amukkan sungai. Hal ini sangat bertolakbelakang dengan nama yang ia miliki, ‘Patah’.  Ternyata nama tak menjadi penentu atas kekuatan.

Patah sampai duluan di seberang sungai, menungguku di atas gosong. Kami pelan-pelan mendekati lokasi pembantaian itu. Kuperhatikan dengan saksama, dari ujung rambut hingga ujung kaki si pelaku. Dari balik semak belukar, tampak beberapa bekas kibasan parang pada tubuh mereka; baju sobek dan dada mereka berlumuran darah. Ini semula pasti terjadi pertengkaran hebat. Entah apa masalah kedua kubu ini, aku tak tahu. Bila menerka-nerka, sepertinya ini bukan persoalan sepele, tetapi masalah yang cukup serius.

Aku pasang baik-baik bola mataku, perawakan tawanan agaknya saya kenal betul. Aku berjalan berjingkat laksana ninja, mengintip dan memastikan siapa tawanan itu. Ketika para penjahat menjambak rambut tawanan dan mendongak, sangat gamblang wajah mereka. Ya Tuhan, seorang yang berwajah keriput, berambut putih, memilik gigi tonggos, dan berbadan ramping itu adalah ayah dari seniorku, Ayu, sementara lelaki muda yang tampan dan berbadan kekar, itu Abang Firje.

Aku dan Patah maju selangkah mencoba menangkap wajah dari tubuh yang tergeletak tak bernyawa di atas gosong. Oh, Tuhan, itu ayah Pilus, kawan kami. Kukenali betul rambut ikalnya yang telah digimbal, menjulur sampai di bahunya. Kami berdua tercengang, bulu kudukku berdiri. Mataku lebih teliti memperhatikan para pelaku kejahatan itu dan mencari penjahat yang lain barangkali ada. Ternyata mereka hanya bertiga. Aku pikir, teman-temanya sedang bersembunyi dan membiarkan ketiga lelaki itu yang mengeksekusi tawanan.

Bila dilihat dari perawakan mereka, pakaian yang dikenakan lusuh dan dekil, seperti setelan pakaian orang berkebun. Kalau orang suku pedalaman hutan tentu tak mengenakan pakaian lengkap hingga menutupi seluruh tubuh, melainkan hanya sehelai ‘sabeba’ (penutup kemaluan), dengan membawa panah. Boleh saja aku berasumsi bahwa para pelaku itu adalah warga desa sebelah, sebab, kalau warga dari desaku pastilah aku mengenalnya, dan tak mungkin pula para pelaku kejahatan itu adalah orang suku pedalaman di hutan. Dari bahasa yang mereka pakai berkomunikasi tampak seperti bahasa pasar yang kami pakai sehari-hari.Tentu mereka sudah mengenyam peradaban modern.

Aku masih penasaran dengan pokok permasalahannya. Mungkin masalah kenyakinan, atau jangan-jangan perselisihan tersebut akibat perebutan tanah antara warga desa kami dan desa tetangga, sehingga masing-masing menyimpan dendam kesumat dan saling membenci satu sama lain. Aku hanya beranggapan sesuai dengan apa yang kutahu. Karena kemarin terjadi keributan di perbatasan kedua desa, pasalnya ada perebutan tanah. Tapi itu kebenarannya belum dapat dipercaya karena tak ada bukti yang kuat. Ah, sudahlah.

Sungguh jahanam! Rambut Abang Firje dijambak dan dibenturkan ke batu.Ia menjerit kesakitan. Tapi yang paling nahas, ia sedikit berontak. Murka penjahat bergejolak, kibasan parang dilepaskan hingga mendarat di batok kepalanya. Meletus. Bunyinya seperti bambu yang ditebas.Aku melihat kejadian itu sangat terkejut, keringat dingin muncul, wajahku seketika pucat pasi, dan gemetaran.

Setelah kibasan itu mendarat, kemudian disusul dengan kibasan berikutnya. Tawanan yang setengah duduk, ditumbangkan dengan kibasan parang bertalu-talu. Tapi anehnya,ia tak tewas, hanya bisa mengerang, menunggu beberapa menit kepalanya bakal terpisah dari tubuhnya. Lantas kemudian tawanan muda yang berbadan kekar itu, berteriak histeris karena unjung parang telah membelah perutnya. Darah memuncrat mengenai wajah penjahat. Melihat satu irisan tak mempan, penjahat berulang mengiri-iris perut sampai isinya keluar semua. Aku tak habis pikir, dan dapat melihat kejadian itu dengan nyata. Aku bisa merasakan betapa tersiksanya tawanan itu.

Patah yang menyaksikan peristiwa itu, tak tahan ingin muntah, tapi dengan sigap ia menyumbat kembali mulutnya. Memang, ia tak bisa melihat darah, apalagi sampai melihat isi perut keluar semuanya, bikin ia ngeri. Mukanya pucat pasi! Setelah dua tawanan sudah tewas di tangan penjahat, selanjutnya ayah Ayu yang bakal dieksekusi. Perlahan-lahan penjahat itu menjambak rambut, melayangkan tendangan berkali-kali ke punggung dan menyeretnya di atas tumpukkan batu. Berulang-ulang kepala yang penuh uban itu dibenturkan, sampai darah menyembur seperti air mancur.

Jujur saja, aku sangat anti dengan kekerasan, apalagi sampai menyiksa dan membunuh. Tak sabar kakiku ingin bergerak menuju arah penjahat dan melerai. Serasa tak ada lagi ketakutan dalam diriku, bahkan mati sekalipun aku sudah siap. Tapi lagi-lagi Patah yang ketakutan di sampingku mencegah langkahku. “Jangan!Aku tak ingin mati konyol di sini.” Katanya.

Aku tetap berontak. Ia tetap mencegahku. Pertengkaran kami menimbulkan sedikit berisik. Berkat itu, penjahat mengetahui keberadaan kami. Mendengar suara yang lantang dari mulut penjahat, seketika nyaliku ciut dan keberanian pupus. Patah segera menarik kerah bajuku, “Ayo, cepat lari!” tanpa berpikir panjang, aku dan Patah melesat seperti peserta lomba lari, masing-masing ingin mencapai garis finis duluan.

Satu orang penjahat menyusul kami, ia berlari sambil menyeret parangnya di bebatuan. Gesekkan parang di batu memekakan telinga membuat nyaliku raib dari diriku. Kami terus berlari tunggang-langgang, hingga sampai di sebuah gua, dan bersembunyi di sana. Napas terengah-engah nyaris kehabisan oksigen, membuat kami begitu kehausan, tapi tak sempat meneguk air.

Tak lama bersembunyi, penjahat itu nongol, kulihat wajahnya lebih seram daripada setan. Aku berlari kencang, Patah menyusulku dengan celana yang sudah basah di bagian gespernya. Kami mengayunkan kaki sekuat tenaga, dan memasuki gua yang tak dalam. Di ujung gua ada pintu keluar, di sana kami menerobos hingga sampai di desa. Masing-masing kembali ke rumah. Aku menghambur ke kamar dan langsung terlelap.

Sungguh, aku takut penjahat itu mengenali wajahku. Saat malam tiba, tidurku tak senyenyak kemarin. Sesekali aku mengigau menyebut-nyebut penjahat itu dan meminta agar tidak membunuhku: “Jangan bunuh aku!”. Di saat yang sama Patah pun mengalami hal yang serupa. Tapi ia dibarengi dengan demam sekaligus ngigau sepanjang malam. Ibu kami heran melihat tingkah-laku yang aneh itu.

Esoknya, aku bangun lebih dulu sebelum mentari tunjuk gigi. Tak biasanya. Itu sebab aku tak dapat tidur tenang, sesekali tersadar karena merasa dihantui oleh penjahat itu. Berita kematian ketiga tawanan itu sampai juga di telinga warga desa, salah satu petani menemukan mereka sudah tak bernyawa di gosong. Lantas, warga membopong pulang ketiga mayat itu.

Semua orang mulai mencari tahu siapa dalang dari misteri pembunuhan. Tapi karena tak menemukan bukti-bukti, mereka pun menyimpulkan bahwa si pembunuh adalah orang pedalaman di hutan yang sudah berabad-abad tak pernah berinteraksi dengan peradaban modern.

Orang suku pendalaman itu tak tahu bahwa dunia sudah berada pada zaman modern dan bebas dari kungkungan kolonialisme dulu. Itu sebabnya, mereka tak mau bertemu atau didatangi oleh orang asing, dan sangat hati-hati, pun siap untuk melawan dan bahkan bisa membunuh bila perlu. Kendati begitu, mereka tak sembarang bunuh, bila eksistensi mereka tidak diganggu oleh orang asing. Tapi sayang, mereka menjadi korban tuduhan warga.

Tuduhan itu diperkuat dengan pengakuan salah satu pelaku pebunuhan, yang datang dari desa tetangga untuk mendistorsi fakta, supaya warga desa kami yakin bahwa pelaku pembunuhan itu adalah orang suku pedalaman hutan. Ia mengaku menjadi saksi kejahatan itu. Mengarang cerita sedemikian rupa sampai semua warga desa percaya dengan kebohongannya. Pengalihan fakta dan penghilangan bukti-bukti kejahatan sangat rapih dibuatnya. Warga desa tak tahu bahwa si pelapor adalah pelaku yang sebenarnya. Benar-benar warga termakan tipu daya pelaku.

Keluarga korban segera melapor ke pihak berwajib dan meminta agar diizinkan untuk ikut dalam penangkapan orang suku pedalaman yang diduga sebagai dalang dari pembunuhan ketiga warga desa kami. Sepekan kemudian, dengan persiapan yang mantap,mengerahkan lima orang polisi tak berseragam dinas dan lima orang dari keluarga korban, melesat ke dalam hutan. Senjata api, parang, tombak, pun busur terselempang di bahu untuk memburu orang suku pedalaman.

Sebagaimana adanya, kehidupan orang pedalaman hutan itu nomaden, maka para polisi dan keluarga korban sangat sulit menemukan jejak, dan harus sabar mencari. Sekitar dua puluh kilometer mereka menerobos hutan, kediaman sekelompok orang suku pedalaman ditemukan. Asap yang mengepul di udara memberi petunjuk bagi polisi dan keluarga korban. Perlahan-lahan mereka mendekati rumah orang suku pedalaman, tak berdinding dan beratap daun woka.

Beberapa orang suku pedalaman tampak sedang duduk di pinggir perapian. Di sebelah kanan ada seonggok tubuh hewan yang diletekaan di atas daun woka. Mereka bakal memanggang babi.Sebab itu, bahkan tak terpikirkan untuk membawa salawaku (parang) untuk pengaman diri. Melihat kesempatan besar, dengan sigap para polisi, dan keluarga korban mengepung, lantas menodongkan senjata api ke arah orang suku pedalaman. Tanpa negosiasi para polisi dan keluarga korban bersiap-siap meringkus para orang suku.

Awalnya, orang suku pedalaman itu tak tahu bahwa benda yang ada pada gengaman para polisi itu adalah pistol. Mereka tetap mendekat dan menghadang polisi. Satu dua langkah orang suku itu maju. Polisi siaga membidik. Orang suku tetap maju, hingga moncong senjata sudah berada di jidat mereka. Segera saja senjata itu dicegah orang suku. Dari arah belakang orang suku pedalaman, keluarga korban tengah bersiap menyergap.Satu dua tiga, orang suku tertangkap, tetapi disambut dengan pemberontakkan. Mereka saling bergelut di tengah rimba.

Keluarga orang suku: anak, istri, orang tua, menyaksikan dengan wajah penuh kecemasan. Mereka beringsutmenghilang ditelan rimba. Para polisi dan keluarga korban biarkan mereka pergi, sementara tiga orang lelaki suku itu masih adu jotos. Seketika, saat keluarga korban kalah, orang suku lari tunggang-langgang. Polisi memberi peringatan dengan menarik picu yang diarahkan ke langit, tetapi tak dihiraukan oleh ketiga orang suku. Secepat kilat peluru menyusul dan tertancap di tungkai mereka. Terjatuh. Tangan mereka diringkus dengan borgol.

Orang suku pedalaman itu dibawa ke kantor polisi dan bakal diadili. Barangkali akan dijebloskan ke penjara selama sepuluh tahun. Mendengar kabar penangkapan orang suku pedalaman, semua warga di desa kami sangat girang dan penuh rasa syukur, tetapi tidak bagi aku dan Patah yang benar-benar tahu bagaimana peristiwa pembantaian itu terjadi dan siapa pelaku sebenarnya.Ingin sekali aku membuka mulut, tapi rasa takutku tak bisa dikompromi. Suatu saat, ketika aku membongkar kejahatan itu, pasti para pelaku bakal mengintaiku setiapwaktu, dan tak segan membunuhku.

Begitupun Patah. Ia tak berniat sama sekali membongkar kejahatan itu. Bukan hanya takut yang menjadi alasan, tapi ia malas berhadapan dengan hukum. Bagaimanapun bila ia buka mulut pasti bakal terseret juga menjadi saksi, dan bisa jadi ia juga bakal dijebloskan ke penjara bila keterangannya diragukan dan terjadi distorsi.

***

Sebulan berlangsung jalannya persidangan, ketiga orang suku malang itu ternyata tak dipenjara selama sepuluh tahun, melainkan seumur hidup. Saat mendengar itu, naluri kemanusiaanku bergetar dan tergerak, ketiga orang suku tak bersalah mereka adalah yang dikambinghitamkan dalam kejahatan ini. Apa pun resikonya, aku harus berani mengungkapkan dan siap menjadi saksi kejahatan itu. Kebenaran harus ditegakkan dan kejahatan harus ditelanjangi. Tak ada toleransi akan hal ini. Sebab, jika kebenaran terus dipenjarakan atau dibungkam, maka keburukan bakal terus merajalela.

Pada sidang terakhir yang bakal memutuskan hukuman kepada ketiga orang suku itu, aku hadir. Sebelumnya, aku menemui para jaksa dan hakim di rumah mereka. Menceritakan tentang kesaksianku bersama Patah bulan lalu, bahwa seseorang orang yang datang kemarin ke desa kami dan mengabarkan tentang tuduhan kepada orang suku pedalaman hutan adalah ia pelaku yang sebenarnya.

Telah kuceritakan semuannya, berharap mereka bakal melepas jerat hukum ketiga orang suku itu. Tapi, omongan anak kecil berumur empat belas tahun sepertiku sering dibilang bualan semata. Mereka tak percaya pada kesaksianku. Putusan terakhir persidangan ketiga orang suku yang tak bersalah itu dijatuhkan hukuman seumur hidup, sementara pelaku sebenanya berkeliaran dengan tenang di luar jeruji.

Aku melihat kepincangan ini sangat nyata. Tak akan kubiarkan kasus ini raib dengan kebusukkan. Aku akan tunjukkan bagaimana seorang anak kecil yang menobatkan diri sebagai “kapita” sepertiku tak akan putus asa, sebagaimana para kapita dulu di tanah ini yang begitu gagah beraninya melawan para musuh. Aku ke sana sini mencari tempat pegaduan, kepada ayah, ibu, guru, dan bahkan polisi sekalipun, tetap sangsi terhadap pengakuanku.

Setelah aku merasakan bagaimana diabaikan, jiwa pemberontakkanku sebagai anak kecil yang nakal, bergelora. Mungkin orang menganggap kasus ini sudah beres, tetapi bagiku belum berakhir. Anak kecil sepertiku memang tak paham betul soal  hukum, tetapi aku sangat paham bagaimana kebenaran dan keadilan itu mesti ditempatkan. Aku merasa iba kepada ketika orang suku pedalaman itu. Mereka tak salah, dan patut mendapat keadilan.

Sebulan persidangan berlalu, aku, masih merasa terganggu dengan bayang-bayang ketidakadilan itu. Tetapi, bagaimanapun tak ada yang percaya padaku, kecuali Patah, karena selain aku, ia juga menyaksikan kejadiannya, tapi ia tetap menutup mulut, tak berani bersuara.

Hari-hari kulalui masih pada rutinitas yang sama, ke sekolah, bermain, dan berpetualang. Tetapi tak lagi seasyik dulu menerobos belantara lebih dalam. Di hutan, besar kemungkinan ada bahaya yang menunggu kami. Selain hewan buas, ada para penjahat yang mengenali wajah kami, pasti tak hanya diam setelah membunuh ketiga warga desa, sekaligus tak tenang hidupnya, karena mesti menghadapi anak kecil nakal, keras kepala dan dan nekat sepertiku.

Mereka tahu kami sering berpetualang, aku berpikir mereka bakal berpangkal di hutan, dan menunggu kami. Aku tahu, mereka mengintai dan mengincar kami berdua, karena kebenaran masih berpeluang untuk menunujukan dirinya, dan semua itu ada di tangan kami berdua yang masih hidup.Jalan satu-satunya bagi mereka adalah menghabisi kami.

Ada keanehan dalam diriku.Semula, aku sangat girang di sekolah, tetapi belakangan aku selalu murung, karena kejahatan itu selalu membuntuti pikiranku, dan sukar bagiku untuk dipecahkan. Berbeda dengan Patah, ia tetap riang dan tak ada perubahan dalam sikapnya. Kadang-kadang aku berpikir, sampai kapan anak kecil sepertiku berambisi besar untuk menelanjangi sebuah kejahatan besar. Rasanya aku ingin berhenti saja.Aku lelah. Meskipun berhenti, pasti para penjahat itu tetap mengincarku. Sial betul hidupku.

Melihat perubahan dalam diriku, teman-teman di kelas heran, begitupun para guru. Sekalipun mereka heran, tapi tak ada yang benar-benar serius mempertanyakan penyebabnya. Senin pagi, ketika aku melangkah gontai ke sekolah, aku berpapasan dengan salah satu penjahat itu yang melintasi jalan desa kami. Saat itu desa sedang ramai-ramainya, karena ada acara resepsi pernikahan. Spontan kuteriaki dia: “Hei, dasar pembunuh. Dia yang membunuh, tiga warga desa.” Aku menunjukknya. Seketika tenagaku terkumpul, berlari tunggang-langgang. Tubukuhku mandi peluh. Dari atas sepeda motor, sorot matanya menikam hingga ke jantung. Ia sungguh menahan malu dan amarah, tetapi karena ramai ia berlalu begitu saja.

Sepulang sekolah, aku, Patah dan tiga kawanku berjalan beriringan. Di sepanjang jalan tak ada satu rumah yang berdiri. Sunyi.Memang sekolah kami terletak dua kilometer dari kampung. Aku tak pernah terpikirkan bahwa penjahat itu bakal menunggu kami di pertengahan jalan. Tiba-tiba penjahat itu muncul dari balik semak-semak bersama kedua rekannya. Mengepung kami semua. Karena yang diincar adalah kami berdua, ketiga teman kami berhasil lolos. Tangannya meringkus leher Patah dan leherku. Sungguh aku ketakutan minta ampun, seketika celanaku basah.

Ketiga kawan kami ciut nyalinya berlari terbirit-birit. Kami diseret ke hutan. Pipi imutku dan badan mungilku, penuh lebam dihantam ketiga penjahat itu, karena aku memberontak. Sekalipun Patah tak memberontak sepertiku, tapi ia mendapatkan perlakuan yang serupa denganku.

Ketiga kawanku sampai di desa mengabarkan penculikkan itu. Untungnya, ketiga kawanku mengenali salah satu dari ketiga penjahat itu, karena beberapa bulan lalu ia datang menuduh orang suku sebagai pelaku pembunuhan. Mendengar kabar dari ketiga kawan kami, semua warga desa bersiap menuju desa tetangga. Karena kedatangan salah satu pembunuh di desa sudah dikenal beberapa orang dan tahu siapa nama dan di mana rumahnya, warga desa melesat ke sana.

Saat tiba di rumah Jarot (pelaku pembunuhan) tampak seorang gadis cilik berumur tujuh tahun sedang duduk di bibir pintu rumah. Ia lantas masuk mencari ibunya karena takut dengan segerombol massa yang beridiri di depan rumah mereka. Ibunya keluar.

“Di mana Jorot?” tanya Paman Baros.

“Di kebun. Sudah dua hari ia tak balik ke rumah. Ia mengaku bakal memanen cengkih di sana. Besok mungkin sudah ada di rumah.” Jelas ibu itu.

Tanpa menunggu besok, saat itu pula massa bergerak menuju kebun yang dituntun oleh Masimah, istri Jarot. Di pertengahan perjalanan mereka berunding mengatur siasat untuk menangkap Jarot. Para massa saling membagi empat kelompok untuk mengepung Jarot, dan kedua sejawatnya: dari barat, timur, selatan dan utara. Mereka bersepakat menggunakan suara tiruan burung kasturi sebagai kode. Saat suara burung itu sudah terdengar, mereka bakal mengepung dalam waktu yang bersamaan.

Paman Baros di bagian utara bersama ketiga kawanku, dan ayah, nongol dari balik pohon besar. Aku dan Patah bahagia saat melihatmereka datang, karena sebentar lagi bakal bebas dari ketiga penjahat itu.

Jarot sedang memanaskan air untuk bikin kopi, sementara Kijang, dan Sarap sedang duduk menjaga kami. Mereka saat itu tak menenteng senjata bahkan parang sekalipun tak sempat disiapkan. Penyergapan itu tiba-tiba. Suara tiruan burung  kasturi terdengar. Semua lari berjingkat tanpa bunyi sedikit pun, dan seketikamassa sudah mengepung pondok kebun milik Jarot. Ketiga penjahat itutak dapat bergerak, jalan-jalan sudah penuh dengan massa, lantas menangkap mereka. Sesekali Ayahku ngamuk dan menonjok mereka bertiga. Barangkali kesal karena aku diculik oleh mereka.

Keberadaan massa itu tak menjadi penentu atas penghakiman dan pembantaian kepada ketiga penjahat itu. Massa tahu diri, ada hukum yang akan mengadili. Mereka malah menyeret penjahat itu ke kantor polisi dan memprosesnya ke pihak berwajib. Saat persidangan berlangsung, aku dan Patah hadir dan siap menceritakan kejadiannya. Aku dan Patah diberikan kesempatan untuk bercerita. Secara detail aku mengungkapkan kembali kejahatan itu bahwa bukanlah orang suku pedalaman hutan yang membunuh tiga warga desa kami, tapi Jarot, Kijang dan Sarap lah pelaku pembantaian itu.

“Mereka menangkap kami berdua, karena takut kami bakal membongkar kejahatan yang mereka lakukan.” Aku mencoba menyakinkan semua yang berada dalam ruangan itu termasuk hakim dan jaksa. Setelah beberapa jam berjalannya sidang, akhirnya, putusan pengadilan ditetapkan. Ketiga penjahat itu dijebloskan ke penjara.

Semua orang pulang dengan riang, dan menunggu sidang berikunya tentang status jerat hukum ketiga orang suku pedalamanyang tak bersalah, dan yang pantas untuk dibui seumur hidup itu adalah pelaku yang sebenarnya. Aku hanya bisa berharap ketiga orang suku pedalaman dapat dibebaskan dan mendapatkan keadilan pada sidang berikutnya.***