“…Maaf jika tingkah kami harus membuatmu menahan lapar,” ucap ayah sambil mengusap air mata.
***
Kala itu di sebuah gubuk tua di pedesaan yang terletak jauh dari titik keramaian. Hidup sepasang suami istri yang memiliki seorang putra bernama Nat berusia 6 bulan. Untuk menaburi hidup pada hari yang dilalui kerja sepasang suami hanyalah bertani.
Satu waktu digulita yang hitam tampak suara gemuruh melantunkan tangisan dengan kaki menepak lantai gubuk tua, sontak dari suara yang bergumam sambil meraba-raba dalam gelap gubuk tua sosok perempuan dengan daster kusut bersiul halus untuk menenangkan sang buah hati kecil berusia 6 bulan dengan disuguhi susu dari asi sang ibu kendati si kecil menangis karena kelaparan.
Di tengah gejolak, poci kecil (lampu tradisional) dinyalakan oleh sang ayah dan diletakkan di peyangga tiang gubuk tua itu. Semenit beranjak tangisan Nat si kecil yang berumur 6 bulan menyelam, timbul kemudian suara ayah bertanya pada ibu.
“Beras masih cukup untuk besok?”
Menata tabah, suara ibu dengan segenap pengertian menyahut bahwa beras masih cukup untuk makan besok, padahal beras tersisa segepal tangan.
Dalam dengung lebat penderitaan, hiruk pikuk masalah tentu mendarat dalam pikiran sepasang suami istri, untuk hidup yang keberlangsungan perihal makan pun menjadi masalah dalam kehidupan.
Dengan harapan yang tebal dan niat sosok ayah yang mengepal di tengah bising yang meyambar suara meyakinkan ayah menepuk jawaban ibu bahwa besok kita akan makan makanan enak bersama keluarga.
Satu malam telah berlalu, tiba saat gulita beranjak pergi meniggalkan cerita di gubuk tua itu. Keesokan harinya, di pagi yang dingin, sang ayag beranjak keluar meniggalkan ibu dan Nat dalam rumah yang masih ketiduran.
Tak lama kemudian dengan beranjaknya ayah dari gubuk tua, tangisan Nat kembali menyapa, ibu yang terlihat lelah pun memaksakan diri bagun dari tidur sembil menepuk-nepuk bagian belakang sang buah hati serta beberapa kali memanggil-manggil nama sang suami meski tak kunjung bersuara.
Ibu yang kini sendirian tempuh waktu terus-menerus mendiami Nat yang tak henti menangis karena kelaparan. Tiba waktu, sang suami pulang. Dari kejauhan dengan raut wajah bahagia memanggil sang istri sembari menujukan hasil belanjaan yakni 3 butir telur dan sekilo beras.
“Alhamdulilah kita bisa makan 3 hari ke depan pak,” nyaut ibu dengan nada bahagia.
Dalam keramaian tangisan Nat, sang istri sontak bertanya kepada suami prihal dari mana dapat beras dan telur tersebut. Dengan nada rendah penuh cinta, ia menjelaskan bahwa itu adalah hasil dari kerja mendorong gorobak yang mengangkut barang dari salah seorang pengusaha yang ada di desa.
Degan akhir penjelasan ayah, Nat yang kembali ditemani sang ayah, ibu kemudian mengambil langkah ke belakang gubuk dan kemudian memasak makanan untuk makan siang.
Dengan mata yang berkaca-kaca sang ayah kemudian memandang nat dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan ayah dan ibu yan Nat, maaf jika tingkah kami, membuatmu harus menahan lapar,” ucap ayah sambil mengusap air mata.
Tampak sedih dan bahagia menyelimuti sepasang suami istri, kendati hidup susah bukan pilihan namun konsekuensi hidup tentu selalu ada, dengan ikhlas dan iktikad baik, tuhan hadirkan rizeki lewat pelantara.
Sekalipun terbengkalai menjahit selimut hidup, ayah dan ibu kerap bersyukur atas rezeki yang didapatkan hari ini. 3 butir telur dan sekilo beras mewarnai bahagia siang itu.
Degan penuh tabah, ayah menasehati sang istri yang lagi masak di dapur, bahwa semangat menghidupi keluarga adalah misi utama, selagi berkah dan halal kanapa tidak. Asalkan bukan mencuri dan kerja yang tidak halal.
