Waktu menunjukan pukul 05:00 WIT, lelaki itu mulai bangun menyiapkan barang jualan, setelah semuanya selesai, ia mulai balik ke kosan dan mandi untuk bergegas ke sekolah.
Andi bekerja di sebuah ruko milik Mba Yani. Majikannya itu wanita berketurunan Jawa. Pekerjaan itu dilakukan setelah pulang dari sekolah. Terkecuali hari Minggu, ia harus masuk bekerja pagi.
Ketika tanggal muda tiba, gaji yang diterima Andi hanya Rp100 ribu, karena sudah dipangkas dengan uang kos-kosannya, Andi dan majikannya telah bersepakat dalam pekerjaan tersebut.
Dimana, Mba Yani akan membayar kos-kosan Andi perbulan, asalkan ia bekerja dengannya. Meskipun begitu, Andi selalu mensyukuri itu, semua dilakukan demi bisa bersekolah.
Untuk mewujudkan impiannya, Andi rela merantau dan bersekolah di negeri orang. Hal itu dilakukan lantaran di kampung mereka, sekolah yang dibangun hanya SMP saja, sedangkan SMA belum.
Di perantauan Andi rela bekerja apa saja yang penting halal. Segala cara ia lakukan agar bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan sekolah, makan minum, dan membayar kos-kosannya.
Dengan kehidupan yang pas-pasan, berjalan kaki menjadi hal yang wajar bagi Andi ketika bepergian ke sekolah. Meskipun begitu, ia selalu bersyukur dan menikmati hidup yang sederhana itu.
Saat perjalanan, sering ada teman-teman sekolah yang memberikan tumpangan kepadanya untuk sama-sama pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor.
Pagi itu, dari kejahuan terlihat suasananya begitu ramai. Di emperan jalan, pedagang mulai sibuk menyiapkan barang jualan mereka masing-masing, berupa gorengan, roti dan nasi kuning.
Ketika sedang berjalan ke sekolah, Andi sering menyapa mereka dengan baik, namun hari itu ia tidak bisa berlama-lama, karena lagi sedikit terburu-buru.
“Andi, tumben pagi ini kamu begitu terburu-buru ke sekolah.” Tanya Bi Ima.
“Iya Bi Ima, soalnya takut terlambat.” Sahut Andi sambil menebarkan senyum halus.
“Kalau begitu, sini ambil roti untuk serapan kamu di sekolah nanti.” Ajak Bi Ima.
Setelah mengambil roti yang dikasih Bi Ima, Andi bergegas ke sekolah. Saat sampai, Andi hendak menghampiri tempat duduk yang berada di depan kelasnya sambil meneguk air yang diisi menggunakan tumbler.
Sembari menunggu gurunya masuk untuk memberi pelajaran, kebiasaan Andi adalah masuk lebih awal untuk merapikan meja dan kursi yang amburadul serta membersihkan coretan di papan tulis yang masih tersisa.
Persoalan rapi dan bersih, jangan tanya pada Andi, karena itu sudah menjadi makanan hari-hari saat ia bekerja di ruko Mba Yani. Hampir sejam mereka menghabiskan waktu di dalam kelas untuk belajar.
Tibalah istirahat, teman-teman Andi sibuk merapikan buku dan pulpen untuk dimasukan ke dalam tas. Saat keluar kelas, Andi sering duduk di tempat santai yang terbuat dari bambu, sangat nyaman dan sejuk, karena dikelilingi pohon yang rimbun.
Terlihat, Di samping gerbang masuk sekolah, kantin Bu Tati mulai dipenuhi para siswa berbelanja. Sedangkan di muka gerbang, terparkir sebuah sepeda ontel tua yang juga berjualan es kantong dan pentolan.
Itulah sepeda Mas Pardi, pria yang selalu murah senyum saat disapa oleh siswa. Teman-teman sekolah mulai berdantangan untuk belanja. Kelihatannya Mas Pardi sangat sibuk melayani.
Andi masih santai di tempat itu, sesekali ada teman yang mengajaknya pergi ke kantin, tapi Andi sering menolak. Bukan tidak mau, namun Andi sering tidak membawa uang jajan saat ke sekolah.
Hampir setiap hari Andi hanya mengandalkan sebotol tumbler yang diisikan air saat bepergian ke sekolah untuk menghilangkan rasa haus dan lapar. Kebetulan pagi tadi Andi juga diberikan dua buah roti oleh Bi Ima.
Saat pulang sekolah, Andi berjalan kaki seperti biasa. Namun siang itu matahari sedikit menyengat. Sesampainya di kosan, ia menggantikan pakaian dan kembali bergegas ke tempat kerja.
Aktivitas itu dilakukan setiap hari sampai pada pukul 22:00 WIT. Tapi Andi juga tidak lupa untuk belajar. Pekerjaan itu ia lakukan hingga lulus SMA, yakni tiga tahun lebih.
Saat ini, Andi kembali menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota. Andi selalu menggunakan waktunya untuk terus membaca dan berdiskusi.
Bagi Andi, menjadi seorang mahasiswa kalau tidak mengunakan waktu untuk belajar maka semua akan sia-sia. Benar saja, dari hasil belajar itu, Andi selalu memperoleh nilai yang baik.
Hal itu tentu membawa sedikit kemudahan bagi Andi, karena ia tidak lagi mengharapkan kiriman dari orang tua. Sebab, sudah mendapatkan beasiswa karena dinilai berprestasi.
Beasiswa itu sangat mendorong kebutuhan Andi saat berkuliah di kota, dan nasib itu tentu tidak datang begitu saja, melainkan hasil kerja keras dari proses belajar yang sering ia lakukan.
“Memang benar apa yang sering dikatakan para senioritas, proses tidak pernah menghianati hasil. Barang siapa yang banyak menanam maka, dia pula yang banyak memanen hasilnya.” Ujar Andi dengan penuh syukur.***
