Membaca Realitas

Sepucuk Surat yang Terabaikan

Oleh: Jandri Fokatea

Sudah tiga hari pesantren kilat berjalan. Umi kerap menatap penuh perasaan terhadap Zulmin. Kendati begitu, tatap itu tampaknya tidak merisaukan Zulmin.

Sepanjang pesantren kilat berlangsung, tiba-tiba sebuah batu kerikil mengenai bahu Zulmin. Ternyata batu tersebut melayang dari Umi yang merasa kesal karena sedari tadi tak digubris.

Zulmin lalu menoleh ke arah Umi sembari melempar senyuman. Dari situ, perasaan Umi semakin membludak karena ia berfikir bahwa Zul menanam perasaan yang serupa padanya.

Syahdan, usai pesantren kilat, rutinitas mereka kembali seperti semula. Menggeluti rutinitas di sekolah. Akan tetapi, Umu justru terlihat murung. Sebab, Zulmin tak pernah menampakan barang hidungnya di sekolah. Hal ini membuat Umi semakin rindu pada Zul.

Suatu hari Umi bercerita pada Mawar teman Zul, tentang perasaan yang selalu menghantuinya. Wajah Zul selalu terbayang ketika ia duduk sendiri, bahkan ketika ia rebahan di kamar. Dan ia tak bisa menghempas pikiran itu.

Karena ia sadar, sebagai perempuan ia tak mungkin secara langsung mengutarakan isi hati lebih dulu. Namun, salahkah, bila perempuan lebih dulu mengutarakan isi hatinya? Rasanya soal ini mesti kita diskusikan kembali. Ada semacam diskriminasi terhadap perempuan, bukan?

Untuk sekadar, memuntahkan keresahannya, Umi lalu bercerita kepada Mawar. Umi langsung meminta pendapatnya kepada Mawar.

“Bagaimana jika perasaan cinta semacam ini kau rasakan. Apakah sebagai perempuan kau akan mengutarakan isi hatimu?” tanya Umi.

Mawar lalu bercerita kepada Umi soal kutipan yang ia pernah baca. Itu merupakan ungkapan dari M. Quraish Shihab.
“Jangan pendam cintamu! barang siapa yang mencintai seseorang, sampaikan kepadanya orang yang dicintai itu’. Semuanya begitu, Umi.” Ujar Mawar mengulangi kalimat M Qurais Shihab.

Tapi Mawar. Aku takut cinta yang kuutarakan, kelak tidak akan dibalas. Sungguh aku takut, dan pasti aku bakal malu jika berpapasan dengan Zul,” ketakutan itu menggerogoti Umi.

“Sudah kau coba? Dan Zul akan menolakmu?” tanya Mawar.
“Belum, War. Adakah saran yang kau ingin sampaikan padaku?”

“Cobalah kau kirimkan surat padanya. Barangkali dapat ia baca dan membalas Cintamu. Nanti aku yang bakal memberikan surat itu pada Zul di Sekolah.”
Wajah mendung Umi perlahan-lahan cerah ketika mendengar ucapan Mawar. Dan ia bakal segera menulis sepucuk surat cinta untuk Zul.
“Tolong, ya, Mawar, ” pinta Umi

Dengan girang Umi menulis surat kepada Zul.
“Kepada Zul, sengaja aku menulis surat ini sebagai pelampiasan isi hatiku yang selama ini aku pendam dalam dada, entah mengapa tangan dan dada bergetar ketika aku menulis surat untukmu. Sebagai bukti bahwa aku menyukai dan menyayangimu sejak kau dan aku bertemu di pesantren kilat beberapa Minggu yang lalu, kau tahu wajahmu selalu mengganggu pikiran dan hatiku setiap waktu. Aku takut cinta ku tak kau balas, bersama surat ini mewakili isi hatiku yang selama ini aku pendam karena takut kau tak membalas cinta ini, semoga kau membalas cinta perempuan yang naif ini.” _Dari Umi.

Setelah menulis, ia lalu memasukan sepotong surat ke dalam amplop putih. Dan menyodorkan kepada Mawar dengan harapan surat cinta mendapat balasan. “Nanti aku berikan pada Zul,” Mawar meraih amplop dan diselundupkan ke dalam tas.

***
Dua pekan dilalui tanpa kehadiran Zul di sekolah membuat Umi semakin risau. Umi khawatir jika Zul tak lagi bersekolah di SMA Sul-Bar. Namun, selama berhari-hari menanti, akhirnya tepat Senin, 12 Februari 2015, Zul datang juga ke sekolah. Ketika melihat Zul hati Umi merasa girang bak seorang istri menunggu suaminya datang dari perantauan.

Beberapa menit meletakkan bokonya di kursi, Zul segera dihampiri Mawar. “Sebentar nanti aku memberikan kau sebuah surat. Nantikanlah,” bisik Mawar yang tak digubris Zul.

Begitu pulang sekolah tiba, Mawar menguntit di belaka Zul. Lalu menyodorkan sepucuk surat “Nanti baca di rumah, ya. Jangan disini. Banyak orang. Takut tahu isi surat itu.

Zul mengangguk paham sembari memasukkan surat ke dalam tas dan surat itu lupa dibaca oleh Zul

***

Sepekan kemudian, balasan surat dari Zul belum juga sampai kepada Umi. Ini yang bikin Umi semakin terpuruk. Sebab ia berpikir surat bersama perasaannya seperti angin lalu di hadapan Zul.

Di sekolah, ketika Umi berpapasan dengan Zul tampak tak ada apa-apa. Seolah tak ada harapan.

“Kok, ekspresi Zul terlihat biasa saja tanpa ada perasaan kepadaku. Atau surat kuasa belum dibaca ya?” gerutunya.

Tanpa menunggu lama, ia pun langsung menemui dan bertanya kepada Mawar.
“Kau sudah memberikan surat pada Zul, kok dia terlihat dingin tanpa respons kepadaku?”
“Sudah kok. Tapi aku tak tahu Zul sudah membacanya belum. Nanti aku tanyakan kepada Zul, ya,” ucap Mawar.

Usai itu, Mawar langsung pergi menghampiri Zul.
“Hay, Zul” Sapa Mawar
“Hay, Mawar” Jawab Zul
“Beberapa hari lalu, aku memberikan kau septong surat. Apakah surat itu sudah diaca?” tanya Mawar.
“Astaga, aku lupa, Mawar.” Jawab Zul dengan penyesalan. “Nanti pulang sekolah, akan kubaca. Eh, emang surat itu isinya apa?” tanya Zul.
“Ya, aku juga tidak tahu” Jawab Mawar dengan nada mengelak. “Tapi janji ya. Pulang sekolah jangan lupa surat itu dibaca.”

“Iya, nanti dibaca kok. Sepertinya surat itu penting sekali.”

Lepas Mawar bertemu Zul, ia ke Umi yang sedang berada di Perpustakaan Sekolah.
“Umi, Umi,” panggil Mawar. “Ternyata Zul belum membaca surat yang aku berikan kemarin.” Sambungnya.

“Goblok sekali anak itu, ya,” kata Umi dengan . “Emang Zul belum memeliki pacar, ya, Mawar?” tanya Umi.
“Sepertinya belum Mi. Selama aku berteman dengan Zul belum sama sekali ia bercerita tentang kekasih atau gebetan. Zul orangnya dingin susah sekali ditebak orangnya. Semoga saja ia membaca suratmu, Umi.”

***

Di rumah, tiba-tiba Zul teringat surat yang diberikan Mawar beberapa hari kemarin. Zul langsung mengeledah ranselnya, dan membaca surat tersebut. Ia langsung langsung tertegun kali pertamanya membaca bait pertama. Ternyata selama ini Umi menyukai dirinya. Selepas membaca surat Umi, hari-hari di kepala Zul penuh dengan tanda tanya apakah ia membalas surat cinta dari Umi ataukah ia membiarkan surat itu larut begitu saja bersama waktu.

Berhari-hari entah kenapa hati Zul menjadi girang membaca surat itu. Usai itu, Zul memilih untuk membalas surat Umi.

“Kepada Umi, perempuan yang saat ini cinta telah tumbuh di dadanya, kata-kata yang aku tulis sebagai bukti cinta yang sakral. Tapi belum rampung, aku bingung mulai dari mana? Sebab cinta adalah sebuah kesepakatan antara aku dan kamu menjadi kita. Kiranya kau jangan berkecil hati sebagai perempuan yang aku cinta. Aku tak menolak engkau sebagai kekasih yang telah kau tambatkan di hati. Kau mesti pahami bahwa cinta tidak tumbuh dalam waktu dekat. Tapi ia tumbuh bersama dengan kepedihan dan air mata, semoga kau tak menangis penolakan ini”_Zul

Setelah Zul menulis surat untuk Umi, berat rasanya surat ini harus dikirim melalui tangan Mawar. Olehnya itu, Zul memilih memberikan surat ini langsung kepada Umi. Zul bertemu dengan Umi di Perpustakaan Sekolah.

“Mi, bolehkah aku berbicara sebentar?” tanya Zul.
“Boleh!” jawab Umi.
“Aku telah membaca suratmu Umi, tapi tak elok bila seseorang lelaki menolak cinta seorang perempuan yang menambatkan cinta yang dalam ke dasar dadanya.”
“Zul, aku terpaksa harus menulis surat kepadamu,” kata Umi. “Sebab cinta timbul secara tiba-tiba. Sudihkah kau menolak cinta yang penuh pengharapan ini,” ujar Umi dengan wajah sedih.

Namun Zul bersih keras menolak cinta Umi. Tapi surat yang Umi tulis untuk Zul masih disimpan. Sampai mereka lulus dari sekolah. Dan mereka tak pernah berkabar lagi. (*)