Pelemahan Rupiah Belum Ganggu Inflasi Maluku Utara, Ini Penjelasan BI
Ternate, Kalesang — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami tekanan dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap inflasi di Maluku Utara.
Bank Indonesia Perwakulan Maluku Utara menyebut struktur konsumsi masyarakat di daerah masih didominasi komoditas lokal sehingga pengaruh pelemahan kurs terhadap harga barang relatif terbatas.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Handi Susila, mengatakan dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi daerah sejauh ini masih tergolong kecil karena sebagian besar komoditas penyumbang inflasi bukan berasal dari barang impor.
“Secara langsung dampaknya terhadap inflasi di Maluku Utara masih minim, karena kebutuhan konsumsi masyarakat tidak banyak bergantung pada komoditas impor,” kata Handi Susila saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).
Meski begitu, Handi mengakui pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai karena dapat berdampak tidak langsung, terutama jika kenaikan harga energi global berlanjut dan memicu peningkatan biaya distribusi maupun harga barang tertentu.
Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Baca Juga: BI Malut Soroti Dampak Gejolak Global dan Kuota RKAB terhadap Ekonomi Daerah
Empat Jurnalis RI Ditahan Israel, AJI Indonesia Minta Pemerintah Tempuh Langkah Diplomatik
Dari sisi global, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar tekanan pada pasar keuangan internasional, termasuk mata uang negara berkembang.
“Pelemahan rupiah memang dipengaruhi kondisi global, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan tekanan eksternal lainnya,” ujarnya.
Sementara dari dalam negeri, terdapat sejumlah faktor musiman yang turut meningkatkan kebutuhan valuta asing. Di antaranya pembayaran repatriasi dividen perusahaan, kewajiban utang luar negeri, hingga meningkatnya permintaan dolar menjelang dan selama musim haji.
Kondisi tersebut membuat permintaan valuta asing meningkat dan memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar keuangan melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF) dan pasar spot. Selain itu, BI juga memperkuat daya tarik aliran modal masuk lewat penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Intervensi terus kami lakukan. Kami optimistis ke depan rupiah akan kembali menguat secara bertahap,” kata Handi.
BI juga menerapkan penguatan pengawasan transaksi valuta asing dengan menurunkan batas transaksi tertentu dari sebelumnya sebesar 50 ribu dolar AS menjadi 25 ribu dolar AS.
Meski demikian, pelaku usaha maupun masyarakat yang membutuhkan transaksi valas dalam jumlah besar tetap dapat melakukan aktivitas tersebut sepanjang dilengkapi dokumen pendukung atau underlying yang jelas.
