Generasi Z sering disebut sebagai generasi yang paling beruntung. Mereka lahir dan tumbuh di tengah kemajuan teknologi, internet berkecepatan tinggi, serta akses informasi yang nyaris tanpa batas. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah fenomena di Maluku Utara yang layak menjadi bahan renungan bersama.
Di berbagai ruang publik, forum diskusi, hingga kegiatan edukasi, justru terlihat generasi builders, generasi baby boomers, dan generasi Y yang paling aktif membicarakan, menggerakkan, serta menghidupkan semangat literasi. Mereka hadir sebagai penulis, pembicara, penggerak komunitas, hingga penyelenggara berbagai kegiatan yang mendorong budaya membaca dan menulis.
Sebaliknya, keterlibatan generasi Z dalam gerakan literasi masih belum tampak dominan. Memang ada sebagian anak muda yang aktif menulis, mengelola komunitas baca, atau menghasilkan karya ilmiah. Namun, belum sebanding dengan potensi besar yang dimiliki generasi digital tersebut.
Teknologi yang semestinya menjadi pintu masuk menuju dunia pengetahuan, dalam banyak kasus justru lebih sering dimanfaatkan untuk hiburan. Bermain games, menghabiskan waktu di media sosial, atau sekadar berkumpul di kafe menjadi aktivitas yang lebih menonjol dibandingkan membaca buku, berdiskusi, atau mengikuti kegiatan literasi. Fenomena ini tentu tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh Gen Z, tetapi cukup terlihat sebagai kecenderungan yang patut mendapat perhatian.
Masihkah Ada Buku di Rumah?
Pertanyaan sederhana itu pernah diulas pada sebuah opini oleh Herman Oesman, penulis, akademisi, sekaligus pegiat literasi di Maluku Utara. Pertanyaan tersebut sesungguhnya mengandung kritik yang mendalam.
Banyak keluarga rela menghabiskan puluhan juta rupiah untuk membangun rumah yang indah dan membeli berbagai dekorasi, tetapi menganggap membeli buku seharga seratus ribu rupiah sebagai pemborosan. Padahal, ketika buku tidak lagi diberi ruang di dalam rumah, sesungguhnya kita sedang mengurangi ruang bagi pikiran untuk bertumbuh.
Pertanyaan “Masihkah ada buku di rumah?” seharusnya tidak hanya ditujukan kepada keluarga, tetapi juga kepada generasi muda. Sebab, rumah yang dipenuhi gawai belum tentu menjadi rumah yang dipenuhi pengetahuan.
Di Maluku Utara, masih banyak tokoh notabenya senior yang konsisten menjaga semangat literasi. Nama-nama seperti Herman Oesman, Asgar Saleh, Rusli Saraha, Abdul Malik Ibrahim, Yanuardi Syukur, Masyur Djamal serta sejumlah penulis senior lainnya terus produktif menulis buku, melakukan penelitian, berdiskusi, dan membangun tradisi intelektual. Di usia yang tidak lagi muda, mereka justru menunjukkan energi literasi yang luar biasa.
Fenomena ini menarik. Di saat sebagian generasi muda memiliki akses teknologi yang jauh lebih lengkap, justru generasi yang lahir puluhan tahun sebelumnya masih menjadi motor penggerak literasi. Memang belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan kondisi tersebut, tetapi pengamatan di berbagai aktivitas publik maupun ruang digital memperlihatkan kecenderungan itu.
Momentum Mengajak Gen Z
Harapan tentu belum terlambat. Salah satu momentum penting adalah penyelenggaraan Festival Buku (Book Fest) Maluku Utara 2026 yang akan digelar pada Agustus mendatang di Benteng Oranje. Festival ini akan menghadirkan peluncuran buku, diskusi literasi, penghargaan bagi pegiat literasi, pameran penerbit, pertunjukan seni dan budaya, hingga berbagai kegiatan kreatif lainnya.
Festival tersebut semestinya tidak hanya menjadi panggung bagi para penulis senior, tetapi juga menjadi ruang lahirnya generasi penulis baru dari kalangan Gen Z. Literasi tidak boleh dipandang sebagai aktivitas yang kaku dan eksklusif, melainkan harus hadir dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Karena itu, perpustakaan, komunitas baca, dan lembaga pendidikan perlu beradaptasi dengan platform yang akrab bagi Gen Z seperti Instagram, Facebook, TikTok, YouTube, hingga podcast. Konten literasi harus dikemas lebih kreatif, interaktif, dan relevan dengan kehidupan mereka.
Pada akhirnya, membangun budaya literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, perpustakaan, atau pemerintah. Ini merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Generasi senior telah menunjukkan keteladanan melalui karya dan konsistensi. Kini saatnya generasi Z mengambil estafet tersebut.
Teknologi yang mereka kuasai seharusnya tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi jembatan untuk melahirkan generasi pembaca, penulis, peneliti, dan pemikir masa depan. Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pesatnya perkembangan teknologi, melainkan juga dari kuatnya budaya literasi yang tumbuh di tengah masyarakat.
