Pasokan Pangan Bergantung dari Luar, Ternate Perkuat Kerja Sama dengan Probolinggo
TERNATE, Kalesang – Pemerintah Kota Ternate, Maluku Utara, menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Probolinggo, Jawa Timur, untuk memperkuat stabilitas harga pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kerja sama tersebut ditandai dengan pelaksanaan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan penandatanganan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan yang difasilitasi Bank Indonesia itu dihadiri sejumlah pejabat dari kedua daerah, di antaranya Wali Kota Probolinggo dr. H. Aminuddin, Sekretaris Daerah Kota Ternate Dr. Rizal Marsaoly, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang Abidin Abdul Haris, serta Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara Handi Susila.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mengatakan kerja sama tersebut penting karena Ternate merupakan daerah kepulauan dengan keterbatasan lahan pertanian sehingga sebagian besar kebutuhan pangannya masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kota Ternate tidak memiliki lahan pertanian yang cukup dan bukan daerah penghasil pangan. Sekitar 80 persen pasokan kebutuhan pangan kami mendatangkan dari luar Maluku Utara, terutama dari Jawa Timur,” kata Rizal.
Menurut dia, tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gejolak harga dan inflasi di Kota Ternate.
Selain persoalan pasokan, tingginya permintaan komoditas pangan dari sektor industri dan perusahaan tambang berskala besar di Maluku Utara juga turut memengaruhi ketersediaan pangan di pasar lokal.
Untuk mengantisipasi gejolak harga, TPID Kota Ternate bersama Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara secara rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi pasokan dan perkembangan harga pangan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah membangun jalur pasokan langsung dari daerah penghasil pangan, termasuk Kota Probolinggo.
### Fokus pada Bawang Merah
Pasca penandatanganan KAD, rombongan Pemkot Ternate melanjutkan kegiatan dengan kunjungan lapangan dan sharing session bersama Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kota Probolinggo.
Bawang merah menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian karena kerap mengalami gangguan pasokan dan turut memengaruhi pergerakan harga pangan di Kota Ternate.
Dalam kunjungan tersebut, Pemkot Ternate turut membawa lima pengusaha atau pedagang besar komoditas Barito, yakni bawang, rica atau cabai, dan tomat, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengusaha Pemasok Pangan Kota Ternate.
Rizal mengatakan, kehadiran para pelaku usaha tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama bisnis secara langsung antara pemasok pangan di Ternate dan pelaku usaha di Probolinggo.
“Kami mengajak langsung para pelaku usaha pedagang dari Ternate agar usai kunjungan ini terjadi kesepakatan Business-to-Business (B2B) secara komersial dengan Asosiasi Bawang Merah di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Menurut Rizal, pola kerja sama langsung antarpelaku usaha diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi sekaligus menjamin ketersediaan komoditas pangan di Ternate.
Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga akan melakukan pengawasan serta memfasilitasi proses kerja sama tersebut agar berjalan transparan dan akuntabel.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kelancaran dan keamanan rantai pasok serta menciptakan manfaat yang berimbang bagi petani di Probolinggo, pelaku usaha di Ternate, hingga masyarakat sebagai konsumen.
Rizal menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Probolinggo dan Bank Indonesia, khususnya Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, yang telah memfasilitasi kerja sama tersebut.
Ia berharap kolaborasi antardaerah ini dapat menjadi langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas di Kota Ternate.

