Membaca Realitas

MALOOKA: “Mari Katong Samua” dan Jalan Menuju Peradaban Persaudaraan dalam Pengembangan SDM

Oleh: Abu Zubair Latupono

Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen Universitas Terbuka

Di tengah perubahan dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan, dan meningkatnya tuntutan kompetensi, pengembangan sumber daya manusia (SDM) tidak cukup hanya berfokus pada pendidikan formal, pelatihan teknis, atau pencapaian target kinerja. Pengembangan manusia juga memerlukan karakter, integritas, kepercayaan, solidaritas, dan kemampuan bekerja sama di tengah perbedaan.

Dalam konteks tersebut, gagasan MALOOKA “Mari Katong Samua” dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa depan pengembangan SDM di Maluku dan Maluku Utara.

Berdasarkan keterangan penulis, MALOOKA berasal dari bahasa Hatuhaha dan bermakna “Mari Katong Samua”. Asal-usul, ejaan, dan konteks penggunaannya masih perlu didokumentasikan serta diverifikasi bersama penutur Hatuhaha dan sumber budaya yang relevan. Karena itu, MALOOKA dalam tulisan ini diposisikan sebagai gagasan konseptual yang dikembangkan penulis, bukan sebagai filosofi tradisional yang telah terverifikasi secara akademis.

Persaudaraan sebagai fondasi pengembangan manusia

Pengembangan SDM pada dasarnya bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kapasitas individu agar mampu berkontribusi secara produktif dan bertanggung jawab. Namun, kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis. Kualitas tersebut juga tercermin dalam cara seseorang memperlakukan orang lain, menyelesaikan konflik, membangun kepercayaan, dan menggunakan kemampuannya untuk kepentingan bersama.

Gagasan “Mari Katong Samua” dapat ditafsirkan sebagai ajakan untuk memastikan bahwa proses pengembangan manusia tidak meninggalkan kelompok yang memiliki keterbatasan akses dan kesempatan. Pendidikan, pelatihan, kesempatan kerja, dan pengembangan karier perlu dibangun berdasarkan kompetensi, transparansi, serta keadilan.

Persaudaraan bukan berarti menghilangkan kompetisi atau menyamakan semua orang. Sebaliknya, persaudaraan mendorong kompetisi yang sehat, penghargaan terhadap prestasi, dan kerja sama yang saling memperkuat. Setiap individu perlu diberi ruang untuk berkembang, sementara organisasi harus menyediakan lingkungan yang memungkinkan kompetensi dan integritas tumbuh secara berkelanjutan.

Kepemimpinan yang mengembangkan manusia

Kualitas pengembangan SDM sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan. Pemimpin bukan hanya pemberi instruksi, melainkan juga pembentuk lingkungan belajar, pemberi teladan, dan pengarah pengembangan potensi anggota.

Akdere dan Egan (2020), melalui penelitian pada organisasi layanan kesehatan di Amerika Serikat, mengkaji hubungan kepemimpinan transformasional, budaya pengembangan SDM, pembelajaran karyawan, dan hasil kinerja. Temuan mereka mendukung pentingnya dukungan pemimpin terhadap pembelajaran dan kinerja dalam membangun budaya pengembangan SDM.

Dalam kerangka konseptual MALOOKA, kepemimpinan yang mengembangkan manusia berarti kepemimpinan yang membangun kepercayaan, membuka ruang dialog, memberikan umpan balik, dan membantu anggota meningkatkan kompetensinya. Pemimpin juga perlu memastikan bahwa penilaian kinerja dan pengembangan karier berlangsung secara objektif.

Kebersamaan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengutamakan kedekatan personal atau melindungi pelanggaran. Persaudaraan yang dewasa harus berjalan bersama profesionalisme. Solidaritas tidak menghapus akuntabilitas; justru solidaritas memperkuat tanggung jawab setiap orang terhadap organisasi dan masyarakat.

Pendidikan dan kompetensi masa depan

Pengembangan SDM di wilayah kepulauan perlu memperhatikan akses pendidikan, mutu pembelajaran, literasi digital, dan kesempatan meningkatkan keterampilan sepanjang hayat. Kondisi geografis serta keterjangkauan layanan perlu dipertimbangkan agar kesempatan belajar tidak hanya dinikmati oleh masyarakat yang tinggal dekat pusat pelayanan.

MALOOKA dapat dikembangkan sebagai ajakan untuk membangun ekosistem pembelajaran yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan keluarga. Kerja sama tersebut dapat diarahkan pada penguatan keterampilan dasar, pemikiran kritis, komunikasi, kolaborasi, kewirausahaan, serta pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.

Di era kecerdasan buatan, manusia tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital. Mereka juga harus mampu menilai informasi, mempertimbangkan aspek etika, memahami risiko, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Teknologi semestinya memperluas kesempatan pengembangan manusia, bukan memperbesar kesenjangan antara kelompok yang memiliki akses dan kelompok yang tertinggal.

Budaya lokal dan pembelajaran lintas generasi

Budaya lokal dapat menjadi sumber refleksi mengenai identitas, tanggung jawab sosial, dan hubungan antarmanusia. Namun, pengintegrasian budaya ke dalam pengembangan SDM harus dilakukan dengan menghormati pengetahuan masyarakat dan menghindari generalisasi yang tidak didukung bukti.

Dalam pengembangan gagasan MALOOKA, dokumentasi bahasa, cerita, sejarah komunitas, dan pengetahuan lokal dapat menjadi bagian dari pembelajaran lintas generasi. Proses tersebut perlu melibatkan penutur, tokoh budaya, pendidik, generasi muda, dan pihak yang memahami konteks setempat.

Dengan pendekatan ini, pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Budaya dapat menjadi ruang pembelajaran yang mendorong dialog, kreativitas, penghormatan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab bersama. Namun, makna setiap tradisi harus tetap dijelaskan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pengembangan SDM yang inklusif dan berkeadilan

Peradaban persaudaraan tidak akan terwujud jika kesempatan pengembangan hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Akses terhadap pendidikan bermutu, pelatihan, pekerjaan, promosi jabatan, dan kepemimpinan perlu didasarkan pada prinsip keadilan, kompetensi, serta transparansi.

World Bank menempatkan kepercayaan, tujuan bersama, dan kesediaan untuk bekerja sama sebagai unsur penting kohesi sosial. Lembaga tersebut juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan prioritas pembangunan lokal (World Bank, n.d.-a, n.d.-b). Prinsip ini relevan untuk pengembangan SDM: masyarakat perlu diperlakukan bukan sekadar sebagai penerima program, melainkan sebagai pihak yang berpartisipasi dalam menentukan kebutuhan dan mengevaluasi manfaatnya.

Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi kerja dapat menerjemahkan prinsip tersebut melalui pemetaan kebutuhan kompetensi, pelatihan yang relevan, pendampingan karier, sistem evaluasi yang objektif, serta pengukuran hasil yang jelas.

Keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah pelatihan yang diselenggarakan. Evaluasi perlu melihat perubahan kompetensi, pemerataan kesempatan, kualitas pelayanan, produktivitas, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

MALOOKA sebagai agenda tindakan

Agar tidak berhenti sebagai semboyan, MALOOKA perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang terukur.

Pertama, memperluas akses pembelajaran dan pelatihan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Kedua, membangun kepemimpinan yang berintegritas, terbuka, dan berorientasi pada pengembangan manusia. Ketiga, memperkuat literasi budaya dan digital dengan dokumentasi yang bertanggung jawab. Keempat, membuka kesempatan pengembangan karier dan ekonomi secara adil berdasarkan kompetensi. Kelima, membangun kolaborasi lintas komunitas dan lembaga dengan sasaran, indikator, serta evaluasi yang transparan.

Agenda tersebut perlu dirancang melalui dialog dengan masyarakat dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Indikator keberhasilannya dapat mencakup peningkatan kompetensi, akses terhadap pelatihan, pemerataan kesempatan, kualitas pelayanan, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan program.

Dengan demikian, MALOOKA bukan sekadar ajakan untuk berkumpul, melainkan kerangka konseptual untuk menghubungkan pengembangan kompetensi dengan kepercayaan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial. Kerangka ini masih perlu dikembangkan serta diuji melalui dialog masyarakat dan penelitian lebih lanjut.

Membangun peradaban yang memuliakan manusia

Pada akhirnya, pengembangan SDM bukan semata-mata usaha meningkatkan produktivitas, melainkan proses membangun manusia yang mampu menggunakan pengetahuan dan kemampuannya secara bertanggung jawab. Kemajuan membutuhkan individu yang kompeten, sedangkan keberlanjutan membutuhkan kepercayaan, etika, dan kerja sama.

MALOOKA “Mari Katong Samua” dapat menjadi ajakan untuk menghubungkan pengembangan kompetensi dengan penguatan persaudaraan. Ajakan ini tidak menuntut keseragaman, melainkan mendorong setiap orang untuk berkembang, menghormati perbedaan, dan berkontribusi bagi kehidupan bersama.

Dari Maluku, gagasan tentang kebersamaan dapat dikembangkan menjadi percakapan yang lebih luas mengenai masa depan SDM Indonesia: bagaimana membangun manusia yang unggul tanpa kehilangan kemanusiaan, profesional tanpa kehilangan integritas, serta maju tanpa meninggalkan kelompok yang membutuhkan kesempatan.

Sebab, peradaban tidak hanya dibangun oleh gedung, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Peradaban juga dibangun oleh manusia yang saling menghargai, berbagi pengetahuan, memperluas kesempatan, dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.