Oleh
Hasdi Umagapi
Hidup Yang Penuh Dengan Liku-Liku Yang Menuntut Untuk Sebuah Kemandirian Dalam Mengartikan Kehidupan di Dunia
Pada tanggal 11 januari 1997 dimana saya dilahirkan di dunia dengan nama Hasdi Umagapi dari pasangan suami istri Hamis Umagapi dan Aila Tidore. setelah saya berumur tiga bulan, saya diserang oleh salah satu penyakit kanker yang terdapat pas di leher saya dan tragisnya saya kehilangan seorang ibu yang meninggal dunia ketika melahirkan saya, dikarenakan mederita sakit parah. Setelah kepergian ibu saya kemudian diasuh oleh seorang bibi yang bernama Nur Umagapi yang juga seorang janda tiga anak yang ditinggalkan suaminya ketika meninggal dunia.
Namun perjuangan seorang janda tiga anak itu penuh dengan jatuh bangun ketika mengurus anak-anaknya sendirian sembari mengurus saya yang sedang sakit dan masi sangat bayi, ayah saya pun kembali menikah dengan seorang janda anak satu yang bernama Sarbanun Umanailo di desa Pastina.
Ketika pada tahun 1998 keluarga memutuskan untuk membawa saya ke salah satu Rumah Sakit yang berada pada Kota Ambon yang sekarang adalah Ibu Kota Provinsi Maluku, untuk mengoprasi kanker yang berada pada leher saya.
Rumah Sakit yang terdapat di salah satu komplek Kristen yaitu Kelurahan Kuda Mati, pada tahun 1998 itu pula, terjadi konflik pertama pada Kota Ambon antara agama Kristen dan agama Islam, ketegangan dan kecemasan meraup diwajah keluarga saya hanya bermodalkan berani demi kesembuhan saya mereka pasrah tinggal bersama kaum kristiani di komplek Kuda Mati. di dalam Rumah Sakit lantunan Do’a dari lubuk hati yang paling dalam tiada henti-hentinya dipanjatkan kepada Allah Swt.
Berselang seminggu keluarga saya memutuskan agar kembali ke kampung halaman ( Desa Pastina). salah satu bibi saya mengatakan “ lebih baik katong pulang ba obat di kampong saja dari pada katong disini lama-lama akan katong mati orang baku potong kiri kanan model ini”.
Tidak tunggu lama merekapun bergegas barang-barang bawaanpun secepatnya disisipkan kedalam tas, kemudian salah satu paman saya menelfon seoarang Tentara yang kebutulan adalah keluarga mereka untuk mengawal mereka keluar dari Rumah Sakit yang berada di kelurahan Kuda Mati itu, setelah mereka bergegas untuk keluar dari Rumah Sakit seorang warga Kristiani yang juga berada di dalam Rumah Sakit serentak menanyakan kepada ayah saya
“om ade pung leher itu so bae-bae ka..?” ayah sangat ketakutan mengira iya akan dibunuh namun ayah berusaha menenangkan pikirannya dan kemudian menjawab dengan tenang sambil senyum kepada seorang warga kristiani itu “oiyo dia pung leher so bae-bae”. Setelah menjawab pertanyaan dari warga kristiani itu mereka lalu lanjut berjalan dengan pengawalan Tentara sesampainya di pelabuhan mereka menaiki Kapal dengan selamat sampai ke Kota Sanana kemudian mereka menaiki angkutan umum dan tiba di desa Pastina.
Sesampainya di desa Pastina saya kemudian tinggal bersama bibi saya yang bernama Nur Umagapi dan bersama tiga orang anaknya kamipun hidup penuh dengan bahagia. walaupun tanpa suaminya, sambil merawat saya yang masih sakit akibat bekas operasi di leher saya bibi pun tak pernah lalai merawat tiga orang anaknya, kasih sayang pun ia berbagi sama rata antara saya dan tiga orang anaknya.
Seiring berjalannya waktu luka pada leher saya akibat dari bekas operasi itu mulai membaik tepat pada tahun 2000 luka pada leher saya sudah sembuh dan menyisakan bekas-bekas jahitan pada leher saya. Kemudian pada tahun 2000 pula di Kota Ambon pun terjadi konflik perang Agama yang kedua kalinya, keteganganpun menciuk sampai di kota sanana maupun daerah-daerah yang lain.
Selepas masa ketegangan akibat konflik perang agama itu saya pun memulai bersekolah pada tahun 2004 di SD Alhilal pastina. Saya memulai masa kanak-kanak dengan teman-teman yang penuh dengan kegembiraan, masa kanak-kanak yang hanya penuh dengan bermain ini di barengi dengan kentalnya alam yang memaksakan kita untuk bermain bersamanya. S
alah satu permainan yang sangat terkenal pada waktu itu adalah bermain merah. Merah adalah jenis permainan yang hanya bermain ketika tiba musim hujan yang mengakibatkan air kali menjadi warna kecoklatan, permainannya cukup simpel cukup yang mendapat hukuman untuk mengejar kita dan dapat menyentuh salah satu dari tubuh kita dan bergantian kita yang telah dapat disentuh berbalik mengejarnya di situ yang tidak mendapat hukuman lari dan menyelam kedalam air kemudian memegang batu atau akar pohon di dalam air untuk mengalabui mereka yang mendapat hukuman.
Selain bermain, di rumah bibi juga mengajarkan saya untuk mandiri beliau mengatakan “ katong ini harus kerja dari kacil jang talalu bermain, supaya terbiasa di waktu katong so basar mau kerja apa saja katong harus kerja jang malu dalam keraja, jang dolo tau badai deng perempuan tunggu so basar dapa hidop dolo baru badai kalo so dapa hidop bukan katong yang cari parampuan akang nanti parampuan yang cari katong itu nanti katong duduk-duduk abis perempuan naik duduk di katong pung atas paha.”
Bibi menasehati saya dengan sambil bercanda bibi juga menasehati saya dengan mengatakan “su sekolah jaga belajar-belajar lagi jang talalu bermain usahakan dapa peringkat. jang cuman orang lain orang lain saja bisa dapa peringkat kong katong seng bisa itu aneh orang lain punya mata,hidung,telinga,kepala, kaki, tangan sama saja deng katong kong dong bisa katong seng bisa kha..?”
Saya pun hanya terpaku diam nasehat bibi membuat saya sangat termotivasi hingga ketika saya bermain saya selalu mengingat nasehatnya sambil saya sisipkan waktu untuk sering belajar. Bibi mengajarkan saya untuk sering bekerja seperti mencuci piring, mengambil kayu bakar, membersikan rumah, pergi ke kebun dan lain sebagainya, saya pun melakukannya dan mulai terbiasa dengan hal itu.
Beliau sempat memberikan saya nasehat ketika saya bekerja dengan mengatakan “ karja bagitu supaya kasana-kasana pi merantau duduk deng orang itu su bisa karja jang orang karja baru kamong duduk pangku kaki apalagi ose pi duduk deng ose pung mama tiri itu kong tara karja la cuman duduk pangku kaki akan antua pukul se sampe se minta-minta ampun;”
Nasehat bibi yang begitu bermanfaat bagi saya membuat saya sempat menangis karena teringat almarhum ibu saya yang sesekali di ceritakan kisahnya oleh orang – orang yang terdengar sampai ketelinga saya, saya pun merindukan sosoknya ingin mendapatkan belaian kasih sayang darinya.
Suka dan duka terasa ketika saya memasuki kelas tiga SD dimana bibi yang mengasuh saya ingin mengembalikan saya kepada Ayah dan Istri barunya dengan alasan agar saya dan saudara/saudari tiri saya dapat mengasihi dan menyayangi satu sama lain dengan sahutnya;
“ ose kasana di papa dong dolo ee supaya nanti se bisa baku bawa baku lia satu sama lain deng ade-ade dong jang nanti abis so basar kamong bakupukul takaruang”
dengan kerendahan hati akan ketakutan di masa mendatang, bibi saya yang mengsuh saya itu rela melepaskan saya pergi dengan berlinang air mata saya pun tak kuasa meninggalkan bibi saya itu yang saya panggil beliau dengan sebutan mama kemudian saya mengatakan
“ mama beta seng mau pigi di papa dong beta seng biasa deng papa dong beta tako papa pung bini baru bt mau tinggal deng mama saja” tangisan pun pecah antara saya dan bibi saya namun dengan keadaan terpaksa saya pergi tinggal bersama ayah dan istri barunya.
Ayah dan istri barunya mempunyai sepasang dua orang anak satu laki-laki satu perempuan. Hidup sayapun sangat tertekan yang tadi baisanya mendapat nasehat yang bermanfaat kini berubah menjadi 90 derajat saya sering di marah-marahi oleh ibu tiri saya yang biasa saya memanggilnya dengan sebutan mama Nun sesuai dengan namanya Sarbanun Umanailo dirumah ayah saya telah jarang bermain dengan teman-teman saya tugas saya adalah menjaga adik-adik saya, bersih-bersih di rumah dan berjualan Roti ibu tiri saya setiap pagi.
Kebutulan waktu jam sekolah pada SD kelas tiga adalah waktu siang ketika siswa kelas tiga jam pertama Pulang pada pukul 11.00 wit jadi pada waktu pagi saya mengisinya dengan berjualan roti ibu saya di samping jalan raya kemudian tiba waktu ke sekolah saya bergegas pulang ke rumah mandi dan berangkat ke sekolah selesai pulang dari sekolah saya kembali menjaga adik-adik tiri saya yang masi kecil dan membersihkan rumah dari mencuci piring kotor dan lain sebagainya.
Kemudian pada suatu hari saya sangat ingin bermain dengan teman-teman yang kebutulan kami sudah kelas empat SD kami pergi bermain di pantai sampai dekat waktu sholat magrib sesampainya dirumah saya di pukuli oleh mama tiri saya dan mengusir saya mama tiri dengan perkataannya yang begitu marah mengatakan
“ ose pi keluar dari rumah ose pi cari ose pung sodara sapa ka la ose duduk deng dong jang ose duduk di rumah”. Sambil memukul saya ibu tiri saya mengambil pakaian saya dibungkusin dengan kain sarung dan menyerukan saya agar cepat pergi dari rumah.
Ayah yang melihat tingkah laku istrinyapun hanya duduk terdiam dan tidak mengatakan apa-apa saya yang penuh dengan kekecewaanpun bergegas pergi dari rumah berlinang air mata ketika saya keluar dari rumah. saya sangat teringat Almarhum Ibu saya dan Bibi yang mengasuh saya waktu saya masih bayi, rasa dilemapun menghantui saya entah mau kemana lagi saya pergi dengan putus asa di dalam pikiran saya hanya ada do’a kepada sang ilahi agar cepat-cepat mengambil nyawa saya. Tidak ada jalan lain sayapun kemudian pergi ke rumah bibi yang mengasuh saya itu sesampainya di rumah bibi dan anak-anaknya sedang makan malam, saya melihat mereka sambil bersembunyi di sudut dinding dengan berlinang air mata kebahagiaan mereka sangat menusuk hati saya dalam hati kecil saya berkata
“seandainya kalo mama masih hidup pasti beta juga dapa rasa apa yang sekarang dong rasa”. Tak kuasa menahan air mata saya kemudian melarikan diri dari rumah pakaian saya yang dibungkukan dengan kain sarung itu saya melemparnya ke kamar anak laki-laki bungsu bibi saya bibi dan kedua anaknya mendengar suara langkah dari kaki saya dan merekapun sembari mengejar saya sementara satu anak laki-laki dari bibi saya telah menempuh pendidikan perguruan tinggi di Kota Ternate.
Bibi dan kedua anaknya mencari saya kesana kemari kemudian bertemu dengan salah seorang laki-laki tua yang bernama om Kau merekapun menanyakan saya kepada om kau tersebut om kau pun menyahutnya dengan mengatakan “oiyo tadi beta dapa lia hasdi pigi deng kain bungkus tadi dia pigi di kamong rumah abis tadi dia keluar deng manangis kong lari kasana tadi.”
Setelah mendengar itu bibi dan kedua anaknya mencari saya hingga kamipun bertemu di depan sekolah SD Alhilal pastina saya yang berlinang air mata duduk termenung di bawah pohon nangka itu kemudian mereka sembari saya dan mengatakan “mari sudah la katong pigi dirumah” sayapun berdiri tanpa mengatakan apa-apa dan mengikuti mereka untuk pergi ke rumah sesampainya dirumah mereka menanyakan masalahnya “kanapa sampe ose datang di rumah deng pakeang bungkus kain bagini”,
Sayapun dengan tergesa-gesa mengatakan masalahnya kepada mereka. Setelah mengatakan masalahnya bibi dan anaknya mengijinkan saya untuk tinggal dirumah bersama mereka waktu demi waktu kami lalui bersama-sama suka maupun dukapun kami sama-sama merasakannya. setelah saya masuk MTS. LPM Pastina hingga SMK N 3 Sanana, bibi tidak mempunyai uang karena beban menyekolahkan Ketiga anaknya dengan sendirian.
Bibi pun mengatakan kepada saya agar untuk menyerukan kepada ayah dan istri barunya untuk membayar uang sarana dan prasarana di SMK N 3 Sanana. Ayah dan istrinya meresponnya dengan mengatakan “ tunggu papa ada uang dolo baru bayar ose pung uang sekolah ” saya pun terima dengan perkataan ayah sambil pergi kesekolah kemudian pada suatu hari guru-guru disekolah mulai menanyakan kepada saya
“kapan kamu membayar uang sarana dan prasarana kalau kamu tidak bayar maka kamu tidak bisa bersekolah” sayapun menjawabnya denga kata “iya pak secepatnya saya akan membayarnya” sepulang sekolah saya menjadi frustasi dan pikiran ketika mengatakan perkataan guru tersebut kepada ayah dan istrinya yang ada hanyalah saya menyaksikan mereka bertengkar, sambil menangis sayapun keluar dari rumah dikarenakan ayah dan istri barunya tidak meresponnya.
Kemudian ayah dan istrinya menjadi gosip di kalangan masyarakat sampai terdengar di telinga kakak dari istri ayah yang bernama Rajak Umanailo beliaupun marah dan mendatangi rumah ayah sambil memarahi adiknya yaitu Sarbanun Umanailo yang merupakan istri ayah. Setelah memarahi adiknya beliaupun pamit untuk pergi kemudian berselang dua hari mama nun memberikan uang kepada saya dan mengatakan
“ uang itu abis pigi di sekolah la bayar uang sarana itu sudah” kemudian pada hari senin saya pergi kesekolah dan membayar uang sarana dan prasana kepada guru di sekolah SMK N 3 Sanana saya pun mulai bersekolah seperti biasanaya tanpa tekanan uang sarana dan prasarana saya mulai belajar mandiri yang lebih dewasa dengan membiyai keperluan sekolah seperti Foto copyan dan lain sebagainya dengan mendapatkan uang dari hasil membuat Kopra. Setelah lulus saya ingin berkuliah di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan yang sesuai dengan jurusun yang saya ambil pada waktu sekolah di SMK N 3 Sanana.
Namun sayangnya ayah tidak menyetujuinya dengan alasan tidak ada uang faktor ekonomi membuat saya pasrah akan persoalan kehidupan, saya kemudian melalui hari-hari sebagai penganggur.
Kebutulan pada suatu hari seorang paman saya yang berada di Namlea Pulau Buru menelfon ayah saya dan menanyakan keadaan saya kemudian ayah saya mengatakan kepada paman bahwa saya sudah selesai Ujian Nasional di SMK N 3 Sanana tapi belum mendengar hasil pengumuman kelulusan, paman saya dengan serentak mengatakan
“kalo bagitu suru dia berangkat kamari di Namlea la beta kasih masuk dia Bahonor” dengan tanpa pikir panjang ayah mengatakan kepada saya untuk segera pergi mengecek jadwal kapal feri di pelabuhan Malbufa setelah sampai di pelabuhan malbufa dan saya mengecek jadwal kapal feri dan ternyata ada dan keberangkatan di jadwalkan pagi setelah berangkat sampai di namlea satu hari langsung saya masuk kerja setelah kerja sampai beberapa bulan teman-teman saya merayakan hasil kelulusan SMK N 3 Sanana pada tahun 2015
Sayapun sangat bersedih karna tidak bersama-sama dengan mereka berselang waktu sambil kerja sayapun mendaftar di salah satu Universitas di Namlea yaitu Universitas Iqra Buru. beberapa hari kemudian setelah selesai ospek saya mendapat masalah dikarnakan pacaran dengan seorang wanita kristen dari pulau seram. paman dan istrinyapun tidak menyukai saya pacaran dengan wanita itu dan mengusir saya dari rumah. Saya pun pulang ke kampung halaman pada akhir bulan 2018 sesampainya di kampung halaman saya hanya hidup nganggur dengan mengikuti teman-teman yang nakal disana,
Kemudian pada tahun 2019 kakak saya yang berada di Ternate menelfon saya dan menyuruhku untuk pergi ke Ternate dan bekerja disana tak pikir panjang saya pun berangkat ke pulau Ternate pada tahun 2019 sesampainya saya di Ternate setelah tiga hari
kemudian sayapun langsung bekerja sebagai Juru Pelihara di salah satu tempat bersejarah Yaitu Benteng Front Oranje sambil bekerja sayapun menyisipkan sebagian uang dari hasil keja saya untuk menabung dan membeli sebuah sepeda motor bekas. dan sisa uangnya lagi saya mendaftar kuliah di salah satu kampus di Ternate yaitu Institut Agama Islam Ternate (Iain Ternate) dan mengambil Jurusan Sejarah Peradaban Islam. kini saya mulai mengartikan hidup yang begitu panjang dengan kemandirian saya dan saat ini saya kuliah sambil bekerja untuk membiayayai perkuliahan saya.
