Membaca Realitas
728×90 Ads

Aturan Penggunaan Toa di Masjid Terbit, Segini Besar Volume yang Dianjurkan

JAKARTA (kalesang) – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan surat edaran yang mengatur tentang penggunaan alat pengeras suara di Masjid dan Musallah.

Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musallah.

Salah satu poin penting yang diatur dalam edaran itu yakni batas volume pengeras suara masjid. Paling besar 100 dB (seratus desible) dengan suara tidak sumbang.

“Volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel).” Demikian bunyi poin 2c dalam Surat Edaran Menteri Agama, dilansir cnnindonesia.com, Senin (21/2/2022).

“Suara yang dipancarkan melalui pengeras suara perlu diperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara yang disiarkan memenuhi persyaratan: a. bagus atau tidak sumbang; dan b. pelafazan secara baik dan benar.” Bunyi poin 4.

Yaqut menyebut penggunaan pengeras suara di Masjid dan Musallah merupakan kebutuhan bagi umat Islam sebagai salah satu media syiar Islam di tengah masyarakat.

Namun pada saat bersamaan, masyarakat Indonesia juga beragam secara agama, keyakinan, latar belakang sehingga perlu upaya merawat persaudaraan dan harmoni sosial.

“Pedoman diterbitkan sebagai upaya meningkatkan ketenteraman, ketertiban, dan keharmonisan antarwarga masyarakat.” Ujar Yaqut.

Dikatakan, edaran ini turut ditujukan kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ketua Dewan Masjid Indonesia, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Islam, dan Takmir/Pengurus Masjid dan Musala di seluruh Indonesia.

Sebagai tembusan, edaran ini juga ditujukan kepada seluruh Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia.

“Pedoman ini agar menjadi pedoman dalam penggunaan pengeras suara di masjid dan musala bagi pengelola (takmir) masjid dan musala dan pihak terkait lainnya.” Kata Yaqut.

Poin lain dalam edaran itu juga mengatur sebelum azan Subuh, pembacaan Al-quran atau selawat/tarhim dapat menggunakan pengeras suara luar dalam jangka waktu paling lama 10 menit. Lalu, pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, dan kuliah Subuh menggunakan pengeras suara dalam.

Sementara sebelum azan Salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Salat Jumat, pembacaan Alquran atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 5 menit. Sesudah azan dikumandangkan, yang digunakan pengeras suara dalam.

Khusus untuk Salat Jumat, penyampaian pengumuman mengenai petugas Jum’at, hasil infak sedekah, pelaksanaan khutbah Jumat Salat, zikir, dan doa, menggunakan pengeras suara dalam.

“Volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB.” Bunyi salah satu poin edaran tersebut.

 

Editor: Zulfikar
728×90 Ads