Talud Penahan Ombak di Depan Pasar Basanohi Sanana Diprediksi Rusak Total
SANANA (kelesang) – Pembangunan talud penahan ombak di depan pasar Basanohi Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Provinsi Maluku Utara (Malut), diprediksi akan rusak total.
Sebab, material bangunan hanya menggunakan batu biasa yang sering digunakan pada fondasi penahan bangunan yang ada di daratan. Sementara konstruksi di bagian pesisir harus gunakan desain yang berbeda.
“Jadi kalau setiap kali musim angin timur, bangunan tidak mampu tahan hantaman ombak. Berpotensi akan rusak total.” Kata magister Pengambangan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Irawan Duwila kepada kalesang.id, Rabu (27/7/2022).
Irawan mengatakan, jika dilihat kondisi air pasang, maka ketinggian air laut akan lebih tinggi dari daratan reklamasi. Jika kondisi ini berjalan bertahun-tahun, maka setiap angin timur, kawasan yang berada di reklamasi akan tenggelam di dasar laut.
Selain itu, lanjutnya, dokumen analisis dampak lingkugan (Amdal) di reklamasi tersebut sangat diragukan. Karena sampai saat ini masyarakat tidak pernah ketahui dampak yang terjadi dari hasil reklamasi tersebut. Untuk itu, Irawan menilai dua tahun lagi talud yang berada di kawasan pasar Basanohi ini bakal lenyap ditelan ombak.
“Data Oseanografi seperti kondisi arus, kecepatan angin, pasang surut, gelombang, data teknis kondisi topografi, break water atau pemecah ombak, rata untuk tanggul reklamasi dibuat kontruksi paku bumi terlebih dahulu, sehingga adanya ombak besar taludnya bisa kokoh.” Ungkap Irawan.
Talud yang berada di laut itu ada rangka tulang besi dan paku bumi. Sementara talud yang ada sekarang tidak memiliki bentuk konstruksi itu. Jadi wajar saja kalau mudah rusak.” Sambung Irawan.
Sebenarnya, kata Irawan, tujuan pembangunan talud atau reklamasi ini diperuntukkan untuk siapa. Kalau untuk masyarakat, setidaknya diperhitungkan teknisnya secara matang.
“Saat ini meskipun sudah diperbaiki. Tetapi konstruksinya akan tetap rusak, terkesan hanya menghabiskan anggaran daerah. “Saya akui buatan tangan manusia pasti ada kekurangan. Paling tidak suatu bangunan tersebut bisa bertahan lama.” Pungkasnya.(tr-02)
Reporter: Karman Samuda
Redaktur: Junaidi Drakel
