Membaca Realitas

Ariyani Menjadi Barista Bermodal Pengalaman

TERNATE (Kalesang) – Saat ini, barista adalah salah satu profesi yang cukup familiar di sejumlah kalangan. Tentu, hal itu bukan rahasia umum lagi, di mana barista merupakan panggilan yang dialamatkan kepada seseorang yang pandai meracik kopi.

Untuk menjadi seorang barista, paling tidak harus memiliki pengetahuan tentang biji kopi, cara menyeduh kopi, dan yang terpenting bagaimana menikmati proses pembuatan kopi itu sendiri sebelum diberikan kepada pelanggan.

Tetapi, ada seorang barista di Kota Ternate yang perjalananya menarik untuk dibicarakan. Dia adalah Ariyani, yang berasal dari Kabupaten Sudrap, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Awalnya, anak tertua dari tiga bersaudara itu hanya suka nongkrong di cafe sambil menikmati kopi. Dari situ, dia penasaran dengan orang yang tempatnya berada di dalam bar.

Sebelum masuk lebih jauh, Ariyani pertama kali datang di Ternate pada tahun 2015. Ia memilih ke kota rempah ini untuk mengikuti kedua orang tuanya sekaligus mencari pekerjaan.

Setibanya di Ternate, Ai sapaan akrab Ariyani itu memulai pekerjaannya menjadi seorang SPG Tisu Passeo. Selain itu, ada juga beberapa pekerjaan yang ia jalani untuk bisa bertahan hidup.

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2017, ayah Ai mulai sakit-sakitan dan memilih balik ke kampung halaman. Berselang seminggu lebih, kabar duka menampar telinga perempuan yang pernah menjadi mahasiswa kebidanan di salah satu kampus di Makassar itu.

Mau tidak mau, perempuan yang suka mendaki gunung itu juga harus balik ke kampung halaman untuk menghadiri pemakaman almarhum ayahnya.

“Saya seakan kehilangan semangat untuk hidup, ketika ayah pergi meninggalkan kita semua.” Ucap Ai kepada kalesang, Sabtu (5/11/2022).

Dua minggu setelah ayahnya meninggal, Ai menceritakan, bahwa ia harus balik lagi ke Ternate untuk kembali bekerja. Mengingat, dirinya menjadi tulang punggung bagi ibu dan kedua adiknya.

Setelah di Ternate, Ai mengatakan, ia bekerja di JR Cafe di bidang promosi selama 3 bulan. Kemudian menjadi seorang SPG Susu bayi dan SPG produk baterai.

“Tapi di JR Cafe, saya sedikit-sedikit belajar tentang kopi.” Ucap perempuan yang pernah mengikuti tes Polwan itu.

Setelah malang melintang di dunia sales, Ai lantas mendapatkan pekerjaan yang cukup cocok dengannya yaitu Rumah Kopi tepatnya diperkerjakan di bagian dapur. Kata dia, walaupun bekerja di bagian dapur, dirinya sering dipercayakan untuk membuat kopi.

“Di situ saya kerja selama 4 tahun. Seringkali dipercayakan untuk meracik kopi dan mulai belajar membuat kopi secara otodidak.” Katanya.

Selama bekerja, dia mengaku sudah beberapa kali membuat kopi seperti Espreso, Bon-Bon Vietnam, Es Kopi Amerikano, Robusta, Arabika dan Blen. Walaupun begitu, Ai menyebutkan, dirinya masih meracik kopi secara manual, sama sekali belum memegang mesin seperti barista pada umumnya.

“Belajar buat kopi, karena memang saya suka minum kopi. Yang paling saya suka bikin itu kopi Robusta. Kurang minat Arabika.” Ungkapnya.

Kini, perempuan itu bekerja di Sabeba Cafe. Dengan bermodalkan pengetahuan dan keberanian yang tinggi. Ai bercita-cita mendirikan cafe pribadi.

“Kalau misalnya saya ada modal, saya akan memulai usaha kopi.” Jujur saja, saya banyak belajar tentang pembuatan kopi dengan Eza atau Thezar.” Pungkasnya.(m-01)

 

Reporter: Rahmat Akrim

Redaktur: Junaidi Drakel