Membaca Realitas

Ternate Barat Alami Perubahan Garis Pantai, Kelurahan Loto Abrasi Tertinggi 1,50 Meter

TERNATE (kalesang) – Sebagai provinsi yang dikelilingi ratusan pulau, Maluku Utara patut mengkhawatirkan dampak pemanasan global terhadap kelangsungan pulau-pulau kecil.

Ketua Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Khairun (Unkhair) Kota Ternate, Maluku Utara, Halikudin Umasangaji, mengungkapkan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh salah satu mahasiswanya, menunjukkan ada perubahan garis pantai disejumlah pulau.

Untuk diketahui, terdapat dua bentuk perubahan garis pantai yang terjadi di kawasan pantai, yakni pengikisan badan pantai atau abrasi dan penambahan badan pantai kearah laut biasa disebut sedimentasi atau akresi.

“Untuk mengidentifikasi, biasanya kami mengoleksi data citra yang direcord oleh satelit, data menggunakan foto drone, atau survey turun langsung ke lapangan untuk melihat langsung perubahan-perubahan yang terjadi.” Ungkapnya kepada kalesang.id, Senin (12/12/2022).

Terkait hal itu, ia membeberkan, salah satu lokasi yang mengalami perubahan garis pantai selama 6 tahun terakhir, adalah di Kecamatan Ternate Barat, dengan luas total penambahan sedimentasi sebesar 17 hektar atau 17.000 meter bujur sangkar.

“Dan juga pengurangan lahan sebesar 4,91 hektar.” Bebernya.

Lanjutnya, dari angka tersebut, jika dirinci, hasil luasan akresi tertinggi teradapat pada Kelurahan Rua dengan total 3,73 hektar dan luasan abrasi tertinggi terdapat di Kelurahan Loto sebesar 1,50 meter.

“Garis pantai berubah dari waktu ke waktu dan kita butuh waktu yang lama untuk mengidentifikasi perubahan itu.” Ucapnya

Ia menuturkan, terdapat berbagai fenomena yang menjadi pemicu terjadi perubahan pada garis pantai, diantaranya pemanasan global, dikarenakan volume air laut yang meningkat dan erosi di daratan, yang merupakan ulah manusia.

“Untuk pemanasan global ada risiko yang cukup besar dan ancamannya yaitu pulau-pulau tertentu bisa tenggelam, dan erosi di daratan sendiri, karena vegetasi maupun tumbuhan ditebang untuk kepentingan berbagai pihak.” Jelasnya.

Untuk mencegah situasi bertambah buruk, Halikudin mengatakan, perlu adanya pembangunan konstruksi untuk menahan garis pantai.

“Langkah-langkah antisipasinya membangun konstruksi pantai, seperti, sea wall, jetty, dan breakwater.” Pungkasnya. (M-02)

 

 

Reporter: Sitti Muthmainnah
Redaktur: Wawan Kurniawan