Membaca Realitas

Janji Hampa Nakes Merana

TERNATE (kalesang)-Keterlambatan pembayaran Tunjangan Tambahan Pendapatan (TTP) selama 15 bulan, yang pencairannya hingga awal 2023 masih ditunggu para Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Chasan Boesoirie (ChB) Kota Ternate, Maluku Utara, melahirkan berbagai cerita sedih.

Hanan Muksin salah satunya, pria paruh baya yang kini umurnya lebih dari setengah abad dan tinggal beberapa tahun lagi purna tugas sebagai pegawai negeri sipil di rumah sakit milik pemerintah tertua di Maluku Utara itu, berniat membangun rumah. Namun keinginan itu perlahan mulai sirna dari harapan panjang Hanan. Tak muluk, Hanan hanya berharap dimasa pensiunnya, ia dan keluarga punya rumah yang meski sederhana namun milik sendiri.

Saya Ikhlas Bekerja. Tiga kata yang keluar dari mulut Hanan Muksin, Tenaga Kesehatan (Nakes) yang sehari-hari bertugas sebagai perawat anastesi ketika ditanya soal pekerjaanya oleh kalesang.

Siang itu, ditengah ramainya suasana pelayanan, pria 54 tahun yang telah menghabiskan lebih dari setengah hidupnya bekerja di rumah sakit mengisahkan, awalnya ia memulai profesi sebagai tenaga perawat honorer di RSUD ChB tahun 1989 silam, setahun kemudian Hanan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Awal bekerja, Hanan ditempatkan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) selama 5 tahun. Tepat di tahun 1995, ia memutuskan melanjutkan studi di Kota Surabaya, Jawa Timur.

“Saya lanjutkan kuliah mengambil jurusan D3 anastesi, karena saat itu saya melihat perawat anastesi masih kurang khususnya di RSUD ChB.”Tuturnya kepada kalesang.id.

Usai menyelesaikan pendidikan tahun 1999 Hanan kembali mengabdi di RSUD ChB, bedanya kini ia telah menyandang gelar sebagai ahli madya perawat anastesi yang kemudian ditempatkan di ruang operasi.

“Saya sudah berniat untuk mengabdi di Maluku Utara, meski saat itu ada penawaran Rumah Sakit di Surabaya saya menolak.”Sembari menerawang mengingat masa itu.

Tak mudah katanya berprofesi sebagai tenaga kesehatan, berbagai tekanan yang bertalian dengan nyawa manusia seakan menjadi makanan setiap hari, namun Hanan mengaku tetap saja ada beberapa kejadian yang selalu membuatnya trauma.

“Stres luar biasa, memang benar adanya, manusia pasti meninggal. Namun rasanya beda jika meninggal di meja operasi, kalau ada kasus seperti itu saya tidak bisa tidur.”Ungkap Hanan getir.

Bukan itu saja, pekerjaannya juga menguras waktu bersama keluarga, karena pekerjaan yang tak mengenal waktu, kadang ia harus bekerja hingga subuh. Namun Hanan mengaku itu semua sudah menjadi bagian hidupnya dan ia harus ikhlas dalam melayani, karena rasa cinta yang besar terhadap profesi.

“Tidak kenal waktu, pukul 3 pagi ada operasi harus dilayani. Istri dan anak saya alhamdulillah sudah paham.” Katanya.

Yang hingga kini membuat ayah dua anak itu tak habis mengerti, kenapa pihak manajemen RSUD ChB  tega menunda pembayaran Tambahan Penghasilan PNS (TTP). Baginya, berbagai masalah yang ada di manajemen rumah sakit, harusnya menjadi tanggungjawab pemerintah Provinsi Maluku Utara atau siapapun yang memiiki kuasa untuk itu.

Intinya hak harus dibayar, karena desakan ekonomi keluarga sangat terasa. Apalagi ia dan istri yang hanya seorang honorer harus menghidupi kebutuhan pendidikan dua orang anak.

“Padahal jika ada uang TTP bisa gunakan pendidikan anak, namun kini harus diambil dari tabungan untuk bangun rumah.”Ujarnya pilu.

Cerita Hanan tak jauh berbeda dengan Ifan Husni perawat yang sehari-hari bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU).

24 tahun sudah Ifan mengabdi di RSUD ChB, bekerja dengan tulus untuk merawat pasien di ruangannya bekerja. Meski sakit hati haknya belum dibayar, pelayanan tetap jadi prioritas, semua karena sudah menjadi pilihan hidupnya bekerja sebagai perawat.

“Kita sudah jalankan kewajiban tetapi hak kita tidak ada titik terang.”Geramnya.

Kata Ifan penundaan pembayaran TTP  sudah pernah terjadi pada tahun 2016 silam di RSUD ChB, tetapi tetap bisa diselesaikan secara bijak.

Ifan hanya berharap hak mereka segera diselesaikan. Apalagi dalam waktu dekat sudah memasuki bulan ramadan, tentu banyak kebutuhan yang harus disiapkan.

“Bagi para pejabat mungkin nilai TTP yang kami perjuangkan tidak terlalu besar, namun bagi kami, uang TTP bisa memenuhi mimpi yang ingin kita wujukan.”Tukasnya.

 

Reporter: Sitti Muthmainnah
Redaktur: Wawan Kurniawan