Membaca Realitas

Pria Disabilitas dan Rumput Laut

 

SANANA (kalesang) – Pagi-pagi, asap rokok kretek mengepul di ruang tamu. Aroma kopi hitam akan menjadi awal perjalanan. Di utara, seorang lelaki 60 tahun jadikan laut sebagai sumber kehidupannya.

Dengan modal perahu sampan, Jainal Umasangadji, lelaki asal Desa Fukweu, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, mulai melanjutkan aktivitasnya sebagai pekerja rumput laut.

Ada organ tubuh Jainal yang tak senormal seperti lelaki pada umumnya. Karena, di kaki kirinnya telah cacat sejak masih kecil. Meski begitu, ia tak pernah menyerah untuk mencari uang.

Saat ini, lelaki kelahiran 1963 itu tinggal bersama kaka perempuan, yakni Ramisa Umasangadji dan suaminya Nasir Duwila, di Desa Fukweu.

Biasanya, sebelum berangkat kerja Jainal harus sarapan lebih dulu dengan lauk seadanya yang sudah tersaji di meja makan. Setelah itu, langkah kakinya mulai menuju ke pesisir pantai dan menarik perahu, lalu menuju ke Pulau Kucing, tempat di mana rumput lau itu diikat.

Baca Juga: Kisah Riyono, Penjual Kerupuk Keliling

Di Pulau Kucing, Jainal mulai membersihkan sejumlah tali yang diikat dengan rumput laut. Jika matahari sudah di atas kepala, ia beristirahat di pulau yang di kelilingi dengan mangrove itu sambil makan siang. Setelah itu, lanjut minum kopi dengan menarik beberapa kretek.

“Sampai di lokasi rumput laut, saya mulai bersihkan tali yang tersangkut dengan rumput yang dibawa oleh arus, dan menggantikan bibit rumput laut jika ada yang rusak atau dimakan oleh ikan.” Katanya kepada kalesang.id, Sabtu (11/2/2023).

Dengan kondisinya yang cacat ini, Jainal mengaku akan terus mencari nafkah dengan cara yang halal. Biasnya, pada pukul 15:00 WIT, ia kembali naik ke perahunya untuk mendayung ke lokasi rumput laut. Kemudian, menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas pulang.

Meski begitu, anak kelima dari enam bersaudara itu benar-benar menghibahkan dirinya untuk budidaya rumput laut. Buktinya, sejak 1993, Jainal sudah melakukan budidaya rumput laut.

“Pekerjaan yang saya lakukan selama ini cukup dibilang sulit. Karena harus membeli tali hingga berusaha mendapat bibit rumput laut.” Ujarnya.

Belum lagi, kata Jainal, mengikat bibit pada bagian tali dan harus membayar orang mengambil kayu untuk menancapkan ke laut. Tidak hanya sampai di situ, tetapi dia kembali membayar orang untuk buatkan tempat jemuran rumput laut yang berbentuk para-para.

Baca Juga: Dari Botol Plastik untuk Anak Yatim

 

“Lumayan sulit, tapi mau tidak mau saya harus berusaha. Karena mata pencaharian yang bisa diharapkan untuk memperoleh uang, yaitu budidaya rumput laut.” Jelasnya.

Rumput laut ini, kata Jainal, biasanya waktu panen itu butuh waktu 30 sampai 40 hari. Sekali panen, biasanya 70-250 kilo gram.

“Saya terkadang hanya bisa dapat Rp500.000 sampai dengan Rp2.000.000. Tetapi saat ini rumput laut belum bisa berkembang, lantaran kondisi laut kurang baik.” Pungkasnya.

 

Reporter: Karman Samuda

Redaktur: Junaidi Drakel