Membaca Realitas

Kisah Riyono, Penjual Kerupuk Keliling

TERNATE (kalesang) – Setiap hari, Riyono, lelaki asal Solo, Jawa Tengah itu membawa 100 bungkus kerupuk di motornya untuk dijual di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Mungkin setiap hari Riyono merasa kelelahan yang tak banyak dirasakan orang lain. Itu tak menjadi penghalang untuk menafkahi anak dan istrinya.

Wajah cemas hanya muncul di raut lelaki 53 tahun itu apabila hujan turun. Riyono sendiri, pertama kali datang di Kota Ternate pada tahun 2007.

“Pertama saya datang di Ternate, saya ngekos di Kelurahan Takoma. Sampai sekarang saya masih tinggal di situ.” Kata Riyono saat ditemui reporter kalesang.id, Minggu (12/2/2023).

Di usia yang sudah tak lagi muda, tentu tenaganya tidak lagi sekuat dahulu. Tetapi harus terus bekerja, karena demi hidupi 4 orang anaknya dan istri.

Baca Juga: Dari Botol Plastik untuk Anak Yatim

“Setiap hari kadang laku semua, kadang juga tidak, tergantung. Tapi pasti tiap hari saya sediakan 100 bungkus.” Ucapnya sembari menunjukan motornya.

Kalau dibilang capek, lanjutnya, itu sudah pasti. Tapi tidak ada pilihan, semua demi keluarga dan anak. Walaupun hasilnya tidak seberapa.

“Menjadi seorang perantau, saya sudah lewati pahitnya hidup. Memilih untuk menjadi seorang perantau, harus mempunyai mental dan stamina yang kuat.” Bebernya.

 

Untuk bisa menghidupi keluarganya, Riyono harus pintar-pintar memutar otak untuk mendapatkan sumber pemasukan.

“Awalnya saya jualan pentolan, namun tidak berselang lama saya memilih untuk jualan kerupuk keliling, karena waktu itu masih sedikit yang menjaual.” Tutur Riyono.

Riyono mengatakan, pendapatannya sehari-hari dari berjualan kerupuk keliling ini kadang sangat tidak menentu.

“Itulah usaha, kita harus siap dari segi apapun. Prinsipnya jangan pernah patah semangat. Tuhan punya cara sendiri dalam memberikan rejeki kepada hambanya.” Terangnya.

Baca Juga: Sula Pijakan Terakhir

Kata Riyono, kerupuk yang dijualnya dipesan dari Jawa. Pertama kali berkencimpung dalam dunia ini, modalnya sangat pas-pasan. Namun karena keinginannya yang kuat, akhirnya tuhan membuka jalan.

“Kerupuk ini dipesan dari Jawa, tentu uang transportasi dan segala mecam juga harus disiapkan. Kemudian plastik pembungkus kerupuk juga kita siapkan.” Katanya.

Riyono menuturkan, ketika memutuskan untuk pergi merantau, maka dengan tidak langsung siap mengambil risiko serta tanggung jawab yang akan dipikul dengan sendirinya.

“Memutuskan pilihan untuk jauh dari anak dan istri memang merupakan hal yang tidak mudah, mungkin ini adalah tantangan khusus untuk saya sendiri.

Akan tetapi, lanjutnya, ketika melalui hidup diperantauan akan mengajarkan arti sesungguhnya hidup ini, butuh tekad dan semangat yang kuat.

“Rindu keluarga itu pasti, karena di umuran saya yang sekarang, saya juga ingin berkumpul dengan keluarga seperti orang-orang lainnya. Makanya ketika ada rejeki lebih, saya pulang.” Tandasnya.(tr-01)

 

Reporter: Juanda Umaternate
Redaktur: Junaidi Drakel