Membaca Realitas

Guru Dituding Aniaya Siswa, Ini Klarifikasi Pihak SMPN-6 Ternate

Kepala Sekolah: Siswa Bersangkutan Sering Buat Onar

TERNATE (kalesang) – Pihak SMPN-6 Kota Ternate, Maluku Utara mengklarifikasi informasi dugaan penganiayaan yang dilakukan guru berisial H, terhadap S, siswi kelas VIII, Sabtu (15/7/2023) lalu.

Berita Terkait:Diduga Dipukul Guru Siswa SMP Negeri 6 Ternate Masuk RS

Kepala SMPN-6 Kota Ternate, Astuti Djumati menuturkan, Sabtu sekitar pukul 7: 20 WIT, terjadi insiden pengeroyokan yang dilakukan siswa kelas VIII inisial S bersama rekanya terhadap siswa baru kelas VII inisial Z.

Saat dilanggil, Z yang merupakan korban  pengeroyokan itu menghampiri guru sambil menangis, lalu menceritakan tindakan pengeroyokan terhadap dirinya yang diduga dilakukan oleh S bersama rekanya.

Sementara S lamgsung menghilang, namun berhasil ditemukan dan dibawa kembalj ke sekolah.

“Sesampainya di sekolah  Wakasek Kesiswaan berinisial H  yang mengurus peristiwa pengeroyokan itu kesal hingga refleks menampar S di pipi kiri.” Ungkap Astuti.

Astuti mengaku, siswa S memang sudah menjadi biang kerok dan sudah terlibat kasus perkelahian berulangkali dan dan selalu membuat onar di sekolah.

“Bahkan korban Z saat ditanya menceritakan bahwa dirinya dihadang di gerbang sekolah dan langsung dikeroyok.”Beber sang Kepsek.

Diketahui kejadian pengeroyokan itu usai pelaksanaan kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah untuk siswa baru di SMPN-6 Kota Ternate.” Ujar Astuti.

Astuti menceritakan, waktu pihak sekolah meminta keterangan korban Z, ia mengaku selalu rudung oleh siswi K yang merupakan sepupu dari pelaku S.

Karena Z sakit hati terus dibully  siswi inisial K, sehingga membalas dengan kalimat yang menyinggung agama dari siswi inisial K.

K lantas melapor ke S yang kemudian  memprovokasi teman-temanya dan melakukan pengeroyokan terhadap Z.

Pihak guru melakukan panggilan orangtua di hari itu juga melalui telepon seluler, namun hanya orangtua Z yang datang memenuhi panggilan. sementara orangtua  S tidak mengangkat telpon sama sekali.

Awalnya, orang tua korban Z berniat melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian karena kondisi anaknya yang memar dan bengkak di wajahnya.

Namun  pihak guru berhasil  melakukan mediasi untuk menenangkan orangtua korban.

Dalam proses mediasi, guru BK kemudian melakukan pemanggilan orang tua melalui surat panggilan, yang dijadwalkan pada hari Senin (17/7/2023)

Juli 2023 pukul 9.00 WIT dengan tujuan menyelesaikan masalah ini agar tidak berlanjut ke pihak kepolisian.

Orang tua korban datang sesuai dengan waktu dalam surat panggilan. Namun, setelah menunggu sampai pukul 12.30 WIT orangtua pelaku tak kunjung datang.

“Tiba-tiba sekitar pukul 13.30 WIT orang tua pelaku S datang ke sekolah dan membawa serta pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kota Ternate, untukmelaporkan guru H yang menampar pelaku.”Ujar Astuti.

Astuti menuturkan, pihak sekolah sangat menyayangkan tindakan dari orangtua S karena tidak menghargai usaha mediasi dari oleh pihak sekolah.

Padahal  S sebagai pelaku pengeroyokan berusaha dilindungi pihak sekolah agar tidak dilaporkan oleh orangtua korban dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Pada hari Sabtu (22/7/2023) guru H bersama guru BK dan beberapa guru staf kesiswaan mengunjungi rumah siswa S untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.

“Pada kesempatan tersebut juga ditanyakan tentang alasan mengapa orangtua S tidak pernah mengambil raport anaknya selama ini, bahkan tidak melengkapi berkas administrasi sekolah yang sudah diminta berulang kali. Namun, alasannya sibuk.”Jelas Astui.

Orangtua pelaku mengatakan sudah memaafkan guru H tapi sudah terlanjur melaporkan perkara ini ke polisian, hingga nanti diselesaikan di kantor polisi.

Lanjut Astuti, perkara ini sebenarnya dinyatakan selesai oleh pihak Polres tetapi orangtua siswi S meminta uang sebesar Rp 2,5 juta kepada guru H yang katanya untuk biaya pengobatan.

Oknum guru H belum menyepakati permintaan orangtua siswa S karena belum berkoordinasi dengan pimpinan sekolah, dan pada saat itu tidak diperkuat dengan hasil visum.

Pada hari kamis tanggal 27 Juli 2023 tiba-tiba guru BK mendapat chat WhatsApp dari salah satu nomor yang mengaku sebagai paman dari siswa S, yang memberitahukan bahwa S sementara dirawat di rumah sakit.

Dalam isi pesan chat yang diterima guru BK itu mengancam jika sampe sore bapak guru yang pelaku pemukulan belum juga ke rumah sakit saya akan hadirkan wartawan ke rumah sakit.

Pada hari itu juga sekitar pukul 14.00 WIT oknum guru H bersama kepala sekolah dan beberapa guru menjenguk S di rumah sakit .

Saat di rumah sakit dokter mengatakan akan dilakukan pemeriksaan THT dan akan menyampaikan hasilnya kepada orang tua, apakah sakit yang diderita S pelaku pengeroyokan berkorelasi dengan tamparan guru H atau tidak.

Maka pihak sekolah masih menunggu informasi dari orangtua siswa S pelaku pengeroyokan terkait hasil diagnosa dokter.

Namun sampai saat ini pihak sekolah belum menerima informasi tersebut, justru berita sepihak yang dimuat di media yang terkesan memojok pihak sekolah.. (tr-02)

Reporter: Dedi Sero-Sero
Redaktur: Wawan Kurniawan