TERNATE (kalesang)– Akademisi Universitas Muhammadiyah (UMMU) Maluku Utara, Herman Oesman menanggapi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Maluku Utara yang didominasi oleh perempuan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara, per Agustus 2023, TPT Maluku Utara menurut jenis kelamin didominasi oleh perempuan sebanyak 4,94 persen dan laki-laki mencapai 3,94 persen.
Kepada kalesang.id, Herman mengatakan, sesuai data yang diterbitkan BPS Maluku Utara 2023 terkait Keadaan Ketenagakerjaan, memperlihatkan bidang pengolahan industri menempati posisi tertinggi yang didominasi laki-laki.
Berita Terkait: Perempuan Dominasi Angka Pengangguran Maluku Utara
“Data itu menunjukkan telah terjadinya okupasi lahan pekerjaan terhadap perempuan.” Katanya, Selasa (14/11/2023).
“TPT untuk perempuan per Agustus 2023, mengalami peningkatan lebih 4 persen dibanding Agustus 2022.” Tambahnya.
Selain itu, perempuan di Maluku Utara yang lebih terpusat pada lahan-lahan pertanian dan perkebunan mengalami perpindahan tumpuan ekonomi, karena proses industrialisasi yang telah berjalan.
“Maraknya kehadiran perusahaan tambang membuat lahan-lahan yang semestinya menjadi tumpuan ekonomi bagi perempuan berpindah, sehingga memberikan dampak bagi pekerjaan.” Ungkapnya.
“Ditambah laki-laki yang terserap ke industri, mengakibatkan tak ada lagi lahan yang bisa dijadikan tumpuan.” Lanjutnya.
Ia menuturkan, persoalan yang harus dipikirkan saat ini adalah, bagaimana resiliensi kelompok perempuan dan keluarganya ketika mengalami benturan kebutuhan pangan. Sebab, baginya, kondisi itu, menjadi pemicu naikknya angka kemiskinan dan ketimpangan di Maluku Utara.
“Dengan ketiadaan lahan dan sumber-sumber pangan, menjadi ancaman bagi lahirnya kemiskinan dan ketimpangan akibat ketiadaan pekerjaan.” Tuturnya.
Herman menegaskan, Pemerintah Daerah (Pemda) harusnya tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Sehingga, tidak terlihat mengabaikan kebutuhan dasar warga, terutama lahan yang menjadi sumber mata pencaharian.
“Apalah artinya pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi masyarakat justru mengalami kelaparan, ketimpangan, dan kemiskinan.” Pungkasnya.
Reporter: Sitti Muthmainnah
Redaktur: Wawan Kurniawan
