Membaca Realitas

Lapak Pasar Diduga Diperjualbelikan, Pemkot Ternate di Minta Proaktif

TERNATE, Kalesang – Menjelang bulan suci Ramadan, stabilitas harga bahan pokok serta tata kelola pasar di Kota Ternate mulai menjadi sorotan. Selain persoalan harga pangan, praktik jual beli lapak atau meja pasar secara ilegal juga kembali mencuat akibat lemahnya pengawasan di lapangan.

Ansari, salah satu pedagang Barito (bawang, rica, dan tomat), mengaku kecewa terhadap sikap Pemerintah Kota Ternate yang dinilai kurang proaktif dalam menertibkan praktik tersebut. Ia menegaskan, meskipun pemerintah sering menyampaikan bahwa pasar merupakan aset daerah yang tidak boleh diperjualbelikan, kenyataan di lapangan justru masih ditemukan transaksi lapak oleh oknum tertentu.

“Pemerintah, baik wali kota maupun kepala dinas, hanya mengeluarkan kebijakan dari dalam saja tanpa pernah melakukan survei langsung bagaimana kondisi sebenarnya setiap tahun. Padahal tempat ini aset daerah, tapi banyak yang memperjualbelikan bahkan menjadikannya seperti milik pribadi,” ujar Ansari, Sabtu (7/3/2026).

Ia juga menyoroti proses pendataan KTP pedagang yang dilakukan hampir setiap tahun. Menurutnya, pendataan tersebut terkesan tidak efektif jika hanya berujung pada perubahan nama administratif pada meja pasar tanpa menyentuh akar persoalan praktik jual beli lapak secara ilegal.

Ansari berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi serius terhadap tata kelola pasar agar para pedagang merasa lebih nyaman dan tidak terbebani oleh praktik-praktik liar yang terjadi.

Sementara itu, terkait kondisi harga bahan pangan, Ansari menyebut harga sejumlah komoditas masih relatif stabil dan belum mengalami kenaikan signifikan menjelang Ramadan.

Saat ini, harga tomat berada di kisaran Rp12.000 per kilogram, bawang putih Rp50.000 per kilogram, dan bawang merah sekitar Rp55.000 per kilogram. Untuk komoditas cabai, rica nona dijual seharga Rp70.000 per kilogram, sedangkan rica keriting sekitar Rp50.000 per kilogram.

Ia memperkirakan kenaikan harga baru akan terjadi sekitar satu minggu menjelang Hari Raya Idulfitri, seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi kondisi pasar yang hingga kini masih belum terlalu ramai pengunjung.

“Harapan saya pemerintah lebih proaktif dalam hal ini, supaya kami para pedagang juga merasa nyaman dan tidak terbebani dengan praktik-praktik liar yang ada,” tutupnya.

Reporter: Nur Imaniar Naraya
Editor : Yunita Kaunar