Nilai Tukar Petani Maluku Utara Turun, Biaya Hidup Petani Naik
Ternate, Kalesang – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 sebesar 101,68 atau turun 0,19 persen dibandingkan Mei 2026 yang berada di angka 101,88. Meski mengalami penurunan, NTP masih berada di atas angka 100 yang menunjukkan daya beli petani secara umum masih lebih baik dibandingkan tahun dasar 2018.
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid, menjelaskan bahwa NTP merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani melalui perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani.
“Pada Juni 2026, NTP Maluku Utara tercatat sebesar 101,68 atau mengalami penurunan 0,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, karena nilainya masih berada di atas angka 100, secara umum kondisi daya beli petani masih lebih baik dibandingkan tahun dasar,” ujar Harim saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS), Rabu (1/7/2026).
Harim menjelaskan, penurunan NTP dipengaruhi oleh turunnya tiga subsektor, yakni tanaman pangan sebesar 2,50 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,81 persen, dan peternakan sebesar 3,02 persen. Sebaliknya, subsektor hortikultura mengalami kenaikan sebesar 8,26 persen, sementara subsektor perikanan meningkat 2,48 persen.
Menurutnya, secara umum indeks harga yang diterima petani (It) memang naik sebesar 1,42 persen. Namun, kenaikan tersebut masih lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang mencapai 1,61 persen, sehingga menyebabkan NTP mengalami penurunan.
Selain NTP, BPS juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani Maluku Utara naik 1,69 persen menjadi 133,72 pada Juni 2026. Kenaikan terbesar berasal dari kelompok pengeluaran transportasi yang meningkat 3,71 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,01 persen.
Di sisi lain, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) meningkat 0,47 persen menjadi 103,89. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh membaiknya kinerja subsektor hortikultura yang naik 8,49 persen dan subsektor perikanan sebesar 2,80 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa dari sisi usaha pertanian, kemampuan petani dalam menutup biaya produksi masih mengalami perbaikan.
Harim berharap berbagai pihak terus menjaga stabilitas harga komoditas pertanian serta mengendalikan biaya produksi agar kesejahteraan petani tetap terjaga.
“BPS akan terus memantau perkembangan harga yang diterima maupun yang dibayar petani sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang berpihak kepada sektor pertanian,” tutupnya.
