Ketika Tangan Perempuan Tidore Menjaga Saloi dari Kepunahan
TIDORE, Kalesang — Di sebuah rumah sederhana di RT 07/RW 02, Lingkungan Mangga Gole, Kelurahan Mafututu, Kecamatan Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, sejumlah bahan bambu tersusun di dapur.
Di tangan Mama Rugaya Maya (55), bahan-bahan itu perlahan berubah menjadi sebuah keranjang tradisional bernama saloi.
Jari-jarinya bergerak telaten. Bambu yang semula hanya berupa bilah-bilah kering dipotong, dibersihkan, lalu dianyam satu per satu. Tidak ada mesin. Hanya tangan, ketelitian, dan keterampilan yang dipelajarinya sejak kecil.
Bagi sebagian orang, saloi mungkin hanya sebuah keranjang. Namun bagi Mama Rugaya, anyaman itu adalah bagian dari perjalanan hidupnya.
Selama puluhan tahun, ia menggantungkan kehidupan keluarga dari membuat saloi. Dari keranjang-keranjang yang dianyamnya, ia membangun rumah, membiayai pendidikan anak, bahkan membantu suaminya menunaikan ibadah haji.
“Ngom kini-kini moju ge gahi saloi rai, masi toma SD moju, mama sajum ua se lila tomoi, istilah ilmu mata ge (kami masih kecil sudah membuat saloi, saat masih SD, Mama tidak mengajarkan proses pembuatan melainkan hanya melihat sendiri, istilahnya belajar lewat ilmu mata),”kata Mama Rugaya, dengan bahasa Tidore saat ditemui di rumahnya.
Mama Rugaya tidak banyak menggunakan bahasa Indonesia. Percakapan berlangsung menggunakan bahasa Tidore dengan bantuan suaminya yang mendampingi. Tetapi dari caranya memegang bambu dan menjelaskan tahapan pembuatan saloi, terlihat bahwa keterampilan itu telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupannya.
Anyaman yang Menjadi Sumber Kehidupan

Saloi telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku Utara, terutama di Tidore dan sejumlah wilayah di Halmahera.
Bentuknya khas. Bagian atasnya melebar dan berbentuk bulat, sedangkan bagian bawah mengecil. Dua tali dipasang di bagian belakang sehingga saloi dapat digendong di punggung, menyerupai ransel.
Dahulu, sebelum tas modern dikenal luas, saloi menjadi salah satu perlengkapan penting masyarakat ketika pergi ke kebun.
Hasil bumi seperti rempah-rempah, sayuran, hingga berbagai kebutuhan dari kebun dibawa pulang menggunakan saloi.
Keranjang itu dibuat dari bahan-bahan alami. Di antaranya moa atau bantang bamban, tui atau bambu tali apus, kayu telur, serta tali untuk bagian pengikat.
Proses pembuatannya tidak singkat.
Bambu terlebih dahulu dibersihkan dan dicukur agar permukaannya halus. Setelah itu dipotong sesuai ukuran dan dianyam untuk membentuk badan saloi. Kerangka kemudian dilengkapi kaki, sebelum akhirnya dipasang tali sebagai penggendong.
Bagi pembuat yang sudah terbiasa, satu hingga dua saloi dapat diselesaikan dalam sehari. Namun jumlah produksi tetap bergantung pada ketersediaan bahan dan tingkat kerumitan.
Mama Rugaya mengatakan bahan baku kini harus dibeli. Ia tidak lagi mengambilnya begitu saja dari hutan atau lingkungan sekitar.
Saloi yang dibuatnya dipasarkan di sejumlah tempat di Tidore, termasuk Pasar Rum dan Soasio, kemudian dibawa ke Ternate. Beberapa bahkan dipesan untuk dikirim ke Jakarta.
Harga saloi pun berubah dari waktu ke waktu.
“Dulu harganya sekitar Rp75 ribu. Sekarang bisa Rp125 ribu sampai Rp175 ribu, tergantung ukuran dan jenisnya,” ujarnya.
Dari penghasilan tersebut, memiliki kontribusi besar untuk Mama Rugaya membesarkan anak-anaknya.
“Rumah ini dibangun dari hasil membuat saloi. Mata pencaharian saya hanya ini. Dari menikah sampai sekarang, saya tetap membuat saloi. Anak-anak sekolah sampai SMA dan kuliah juga dari hasil ini. Suami juga berangkat haji tahun 2019 dari hasil membuat saloi,” tuturnya.
Bambu-bambu yang dianyam itu, dengan demikian, bukan sekadar bahan kerajinan. Ia menjadi sumber penghidupan sebuah keluarga.
Dari Kebun ke Pasar, dari Fungsi ke Karya Seni

Bagi masyarakat yang masih bertani dan berkebun, fungsi saloi belum sepenuhnya berubah.
Nurlela, seorang petani asal Tidore, masih menggunakan saloi ketika pergi ke kebun. Menurutnya, keranjang tersebut lebih praktis karena dapat membawa banyak hasil panen sekaligus.
“Kalau membawa saloi lebih nyaman karena bisa membawa banyak hasil panen dari kebun dibandingkan menggunakan tas atau keranjang lain,” katanya.
Baginya, saloi adalah bagian dari kehidupan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
“Dari dulu torang (kami) tidak tahu tas ransel atau keranjang pasar. Yang kami tahu hanya saloi. Kalau ke kebun harus bawa saloi, supaya saat pulang bisa diisi dengan apa saja yang didapat dari kebun,” ujarnya.
Namun perubahan zaman perlahan menggeser fungsi saloi.
Di Ternate, saloi tidak hanya dibeli untuk digunakan ke kebun. Keranjang tradisional tersebut mulai dilirik sebagai benda seni dan cendera mata.
Safitri, pedagang saloi di Pasar Higienis Ternate, mengatakan rata-rata pembeli justru dari wisatawan.
“Turis paling banyak membeli. Biasanya mereka menjadikannya karya seni untuk dipajang,” katanya.
Salah satu saloi yang dijual Safitri didatangkan dari Tidore (Mafututu) dan Makeang. Harganya berkisar Rp180 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung ukuran.
Permintaan biasanya meningkat ketika ada festival atau kegiatan besar.
“Kalau ada acara besar, justru sulit mendapatkannya karena stok cepat habis. Orang banyak memburu saloi untuk dipajangan,” ujarnya.
Persoalannya, mendapatkan saloi tidak semudah mencari barang produksi pabrikan.
Pedagang harus memesan terlebih dahulu kepada pengrajin. Ketika stok habis, mereka harus menunggu sampai saloi selesai dibuat.
“Kalau habis, kami butuh waktu untuk mendapatkannya lagi karena harus menunggu pengrajin selesai membuat. Kalau sudah siap, baru kami dihubungi untuk mengambil barang,” kata Safitri.
Perubahan fungsi itu membawa cerita lain. Saloi yang dahulu menjadi alat utama untuk mengangkut hasil kebun kini perlahan beralih menjadi benda dekorasi dan karya seni.
Tetapi perubahan tersebut juga membuka kemungkinan baru: saloi tetap hidup dengan fungsi yang berbeda.
Perempuan di Balik Bertahannya Saloi

Di balik keberadaan saloi, ada perempuan-perempuan yang menjaga keterampilan tersebut agar tidak hilang.
Mama Rugaya merupakan generasi ketiga dalam keluarganya yang masih membuat saloi. Keterampilan itu kini hanya dikuasai beberapa orang.
Di keluarganya, keterampilan membuat saloi masih dimiliki oleh suami, seorang anak, dan menantunya.
Mama Rugaya berharap keterampilan itu tidak berhenti pada generasinya.
“Semoga kami sehat dan keterampilan ini bisa diteruskan anak-anak. Jangan sampai warisan ini hilang,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah memberi perhatian kepada para pengrajin.
Menurutnya, membuat saloi membutuhkan ketekunan. Bagi orang yang tidak terbiasa, proses menganyam bambu dapat terasa melelahkan dan membuat seseorang memilih berhenti.
“Kalau pemerintah membantu, bagus supaya kami bisa terus mewariskan keranjang tradisional ini. Membuat saloi membutuhkan kesabaran. Kalau tidak terbiasa, orang bisa menyerah dan tidak mau membuat lagi,” ujarnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Hudan Irsyadi, mengatakan perubahan zaman dan perkembangan teknologi turut memengaruhi keberlangsungan pengetahuan tradisional masyarakat.
Menurutnya, saloi merupakan salah satu produk budaya masyarakat Maluku Utara yang tidak hanya ditemukan di Tidore dan Ternate, tetapi juga di sejumlah wilayah Halmahera.
“Tradisi saloi memang terancam punah. Penyebab utamanya adalah regenerasi yang terputus. Sebagian besar pembuat saloi adalah ibu-ibu yang sudah tua, sementara generasi muda cenderung memilih sesuatu yang lebih praktis,” jelasnya.
Hudan menilai perempuan memiliki posisi penting dalam keberlangsungan saloi. Mereka bukan hanya menjadi pembuat, tetapi juga pengguna utama dalam aktivitas bertani dan berkebun.
Karena itu, menurutnya, upaya pelestarian tidak cukup hanya dengan meminta generasi muda membuat saloi. Pemerintah perlu membuat ekosistem yang membuat kerajinan tersebut memiliki nilai ekonomi.
Langkah awal dapat dilakukan dengan mengidentifikasi bahan baku saloi sekaligus menjaga ketersediaannya.
“Bahan baku harus mempunyai nilai bagi masyarakat sehingga masyarakat terdorong untuk memeliharanya. Pembuat saloi yang sudah sepuh juga perlu diberi penghargaan atau insentif,” katanya.
Setelah itu, saloi dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan ekowisata.
Saloi dapat diposisikan sebagai cendera mata, atraksi budaya, maupun bagian dari festival kebudayaan. Salah satu gagasan yang ia tawarkan adalah festival yang melibatkan generasi muda untuk mengenal kembali keterampilan tersebut.
“Saloi adalah buah karya dari pengetahuan tradisional masyarakat setempat. Bisa disiasati dalam bentuk festival, misalnya festival 1.000 saloi, dengan melibatkan siswa SMP dan SMA,” ujarnya.
Memiliki Bentuk Saloi yang Berbeda

Saloi tidak selalu memiliki bentuk yang sama di setiap wilayah Maluku Utara.
Hudan menjelaskan perbedaan dapat dilihat dari bentuk dan bahan yang digunakan. Saloi Tidore, misalnya, cenderung lebih kecil dibandingkan saloi dari sejumlah wilayah di Halmahera seperti Sahu, Tobelo, maupun Tabaru.
Saloi Tidore memiliki bagian atas yang lebih bulat dan besar, dengan bagian bawah yang mengecil. Sementara di sejumlah wilayah Halmahera, bentuknya cenderung lebih besar di bagian atas dan semakin mengecil ke bawah, menyerupai kerucut yang terpancung.
Secara sederhana, saloi merupakan keranjang tradisional yang dibuat dari bahan alami seperti bambu, rotan, maupun kulit kayu. Fungsi utamanya adalah membawa hasil kebun.
Namun bagi Hudan, makna saloi tidak berhenti pada fungsi praktis.
“Secara denotatif, saloi adalah keranjang tradisional untuk membawa hasil kebun. Tetapi secara budaya, ia menunjukkan nilai budaya tempatan dan sistem sosial masyarakatnya,” katanya.
Agar Tidak Berhenti di Tangan Generasi Tua

Sore mulai turun di Mafututu ketika Mama Rugaya masih berkutat dengan anyaman.
Bambu-bambu kering itu perlahan membentuk tubuh saloi. Satu per satu bilah diselipkan hingga menjadi keranjang yang siap digunakan.
Puluhan tahun telah berlalu sejak ia pertama kali belajar dengan cara melihat orang tua membuat saloi.
Kini, tantangannya bukan lagi sekadar menghasilkan keranjang untuk dijual. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan pengetahuan tentang cara membuatnya tidak ikut hilang bersama generasi yang menua.
Di tangan Mama Rugaya, saloi masih menjadi sumber kehidupan.
Di tangan anak-anak dan generasi muda, masa depan keranjang tradisional itu sedang dipertaruhkan.Sebab ketika sebuah saloi berhenti dianyam, yang hilang bukan hanya satu keranjang.
Ada pengetahuan, keterampilan, cerita tentang perempuan, kehidupan kebun, dan bagian dari identitas budaya Maluku Utara yang ikut terancam putus. (*)
Reporter : Yunita Kaunar
Liputan ini merupakan hasil kolaborasi Kalesang. id dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org
