Membaca Realitas

20 Tahun, Man Masih Bertahan Jadi Tukang Sol Sepatu di Kepulauan Sula

SANANA (kalesang) –  Matahari tepat di atas kepala. Motor dan mobil masih terus lalu-lalang. Udara di sekitar situ cukup berdebu. Meski situasinya seperti itu, mau tidak mau, salah satu warga Desa Mangon, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Provinsi Maluku Utara, Man harus bertahan selama 20 tahun.

Pukul 08:30 WIT pagi, di trotoar depan toko Sinar Agape, Desa Fagudu, Kecamatan Sanana, lelaki 60 tahun itu mulai mengais rejeki sebagai tukang sol sepatu.

Sejak Kepulauan Sula belum dimekar menjadi daerah otonom atau kabupaten, Man menceritakan, sepatu yang ia jahit masih dibayar dengan harga Rp3 ribu.

Di waktu itu, lanjutnya, semua kebutuhan hidup sehari-hari yang ada di Sanana masih serba murah. Jadi, dengan penghasilan yang hanya Rp3 ribu per sepatau, sudah bisa menghidupi keluarga.

“Dalam sehari saya bisa dapat pemasukan sebesar Rp20 ribu. Saya sudah 20 tahun menjadi tukang sol sepatu di sini.” Kata Man saat ditemui reporter kalesang.id, Jumat (16/9/2022).

Di saat Kepulauan Sula dinyatakan sebagai kabupaten, lelaki tujuh anak itu mengaku bahwa pendapatannya cukup besar. Biasanya, dari pagi hingga pukul 05:00 WIT sore sebesar Rp150 hingga Rp200 ribu.

Namun, kata Man, jumlah uang sebesar itu tidak cukup dengan menghidupi istri dan tujuh anaknya. Karena, hampir seluruh bahan pokok jadi mahal.

Man, tukang sol sepatu asal Desa Mangon

“Iya benar, Rp150 hingga 200 ribu bisa saya dapat dalam sehari. Karena harga jahit per sepatu sebesar Rp40 ribu.” Ujarnya.

Alat yang digunakan menjahit sepatu dan sendal, kata Man, berupa jarum, benang seharga Rp70 ribu dan lem seharga Rp10.

“Dari hasil yang didapatkan dari sol sepatu dan sendal ini, tidak bisa beli sesuatu yang istimewa untuk keluarga. Karena hanya cukup untuk makan saja.” Tuturnya.

Sebelumnya, Man mengungkapkan, ada beberapa orang Sula yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu yang menetap di emperan toko. Tetapi, sekarang hanya tinggal kurang lebih dua orang saja. Termasuk dirinya.

“Tempat yang saya mengais rejeki ini, tergantung sinar matahari. Kalau matahari masih di arah laut, saya duduk di toko yang satunya. Tapi kalau matahari sudah di arah gunung, saya pindah lagi di depannya.” Ucap Man.

Sebelum keluar kerja, suami Maryam (56) itu mengatakan, dia sudah makan lebih dulu. Setiba di pertokoan, Man tidak pernah merasakan makan siang seperti orang lainnya.

“Saya hanya makan pagi. Nanti kalau sudah pulang kerja pukul 05:00 sore, tiba di rumah baru saya makan lagi.” Pungkasnya.(tr-02)

Reporter: Karman Samuda

Redaktur: Junaidi Drakel