TIDORE (kalesang) – Warga Dusun Trans Maidi, Desa Maidi, Kecamatan Oba Selatan, Kota Tidore Kepulauan (Tikep) menolak direlokasi.
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) dan DPRD Tikep berencana untuk mencari solusi terhadap Dusun Trans Maidi yang sering terjadi banjir dan peristiwa diterkam buaya. Mengingat di dusun tersebut terdapat buaya yang mendiami di lokasi itu.
Jadi, ada dua solusi yang menjadi tawaran bagi Pemkot dan DPRD Tikep, yang pertama relokasi dan untuk tawaran kedua adalah pembangunan kanal.
Dari dua tawaran itu, ternyata warga menolak untuk direlokasi dan setuju untuk dilakukan pembuatan kanal agar aliran air menjadi lancar, sehingga pemukiman warga menjadi kering.
“Kita tidak mau direlokasi, Trans Maidi ini sudah menjadi perkampungan. Kami minta baiknya bangun kanal saja.” Kata Hanafi Hasan, salah satu warga Trans Maidi kepada kalesang.id, Sabtu (8/10/2022).
Hanafi mengatakan, dinas teknis terkait seharusnya turun langsung untuk dapat meninjau di lokasi. Sebab ada lahan di belakang dusun trans yang tanahnya masih kering.
”Jangan hanya datang, rapat lalu pulang.” Sesalnya.
Yang namanya wilayah trans, lanjut Hanafi, ketika turun hujan deras tetap saja terjadi banjir. Akan tetapi jika aliran air diatur dengan baik, habis hujan banjir langsung surut.
“Ambil contoh Trans Subaim, dan Trans Kosa. Karena dibangun kanal, sehingga habis hujan banjir langsung ikut surut. Setiap wilayah trans ketika hujan pasti banjir.” Jelasnya.
Yang terjadi di Trans Maidi, kata Hanafi, aliran air kali tidak lancar karena ada tanaman kangkung dan jenis rumput lainnya sehingga alirannya tersumbat.
”Ini yang mengakibatkan binatang buas menerobos ke pemukiman warga, karena meluapnya air kali ke pemukiman.” Ungkap Hanafi.
Baca Juga: Pemkot dan DPRD Tikep Rencana Relokasi 52 KK Warga Trans Maidi
Senada dengan itu, Sahrul Muhammad, salah satu warga Desa Maidi mengatakan, sudah terdapat sekitar 8 rumah warga Trans yang telah dibangun parmanen.
“Selain itu, ada beberapa rumah juga dibangun pakai beton. Jika direlokasi, mereka merasa keberatan. Ini berdasarkan bincang-bincang saya dengan kepala dusun pada hajatan dusun trans beberapa hari lalu.” Kata Sahrul.
Terkair hewan buas yang sering mencelakai warga setempat, Sahrul menambahkan, karena kali di tepi dusun yang tidak mengalir sehingga mengakibatkan genangan-genangan air ke pemukiman.
“Tapi dulu waktu air kali masih lancar mengalir, binatang buas itu tidak pernah dilihat. Baru-baru ini saja yang paling sering warga melihat hewan tersebut.” Ujarnya.
Hewan buas itu, kata Sahrul, warga sudah sering kali temui buaya menyeberangi jalanan umum, terutama anak-anak sekolah yang melihatnya.
”Selalu ditemukan jejaknya saat ke sekolah. Bahkan anak ibu yang korban itu, sebelum kejadian menimpa ibunya, terlihat buaya saat hendak ke sekolah. Namun hewan itu hanya menyeberangi jalan saja.” Pungkasnya.(tr-04)
Reporter: M. Rahmat Syafruddin
Redaktur: Junaidi Drakel
