TERNATE (kalesang) – Habibah Samiun, salah satu perempuan di Kota Ternate yang telah jual kue khas Maluku Utara sejak tahun 80-an.
Saat ini, usaha yang dimiliki Habibah dikenal dengan Sarilaha, yang telah dikembangkan bersama bersama anak kandungnya dan menantu di tahun 2000. Dengan sistem kerja kelompok.
Rumah produksi Sarilaha tepatnya di Kelurahan Kalumpang, Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara.
Habibah menuturkan, sebelum Sarilaha dikenal banyak orang. Di tahun 1989, ia jual kue-kue khas Maluku Utara untuk menambah penghasilan tambahan. Karena, suaminya bekerja sebagai buruh di pelabuhan.
“Waktu itu, mau tidak mau saya harus punya simpanan sendiri agar tidak harapkan dari suami saja.” Ungkapnya, saat ditemui reporter kalesang.id, Senin (23/1/2023).
Baca Juga: Ketua DPRD Maluku Utara Diduga Lecehkan Tenaga Kesehatan RSUD Chasan Boesorie Ternate
Kata perempuan kelahiran 1 Januari 1958 itu, tidaklah mudah mulai sebuah usaha. Sebab, di tahun tersebut untuk dapatkan Rp10 ribu, butuh kerja keras.
Dengan usaha yang ditekuni oleh Habibah, ia kemudian mendapat kesempatan untuk ikut pelatihan di tahun 1980-an. Pelatihan itu ada 15 kelurahan yang ada di Kota Ternate.
“Di saat pelatihan banyak orang membuat berbagai macam olahan. Saya memilih untuk buat kecap ikan pada waktu pelatihan tersebut.” Ucapnya.
Bukan tanpa alasan, Habibah memilih buat olahan kecap ikan ini. Sebab, menurutnya, Maluku Utara punya sumber daya alam di sektor perikanan sangat melimpah. Hal ini merupakan peluang besar baginya.
“Kan bahan baku yang lain untuk membuat kecap ikan, sangat mudah didapatkan di pasar.” Ujarnya.
Melihat masih ada kekurangan dalam produk yang dibuat oleh Habibah, ia memilih untuk kembangkan lagi di rumah. Dengan alasan jika masih kurang ia akan kembangkan lagi produknya. Namun, jika sudah cocok ia akan lanjutkan pada pelatihan tersebut.
Baca Juga: Tenggelam di Perairan Sofifi, Warga Desa Durian Tidore Meregang Nyawa
“Waktu itu, ikut pelatihan, Kota Ternate masih kabupaten. Tapi, Alhamdulillah saya yang mulai dari tingkat Dasawisma, kabupaten dan tingkat provinsi, saya dapat juara I dengan produk kecap ikan ini.” Bebernya.
Dari juara yang didapat oleh Habibah, ia kemudian diberi modal untuk kembangkan usahanya tersebut.
“Waktu itu, saya dapat modal Rp25 ribu. Dari modal tersebut, saya kembangkan terus kecap ikan saya. Tahun itu dapat modal Rp25 ribu, sangat banyak.” Ucapnya sambil tersenyum.
Habibah sangat bersyukur, karena diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan. Habibah sendiri mengaku belum punya pemahaman untuk mengelola usaha yang dijalankan tersebut.
Selain dari ikut pelatihan, Habibah mendapatkan kesempatan untuk label produk gratis tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun dan produknya langsung terdaftar di pusat.
“Dari pelatihan tersebut saya mulai kembangkan usaha. Maklum saya masih muda, masih kuat. Kenapa tidak ambil kesempatan itu.” Bebernya.
Selain sektor perikanan yang melimpah, ia kemudian manfaatkan sumber daya alam lain, seperti buah pala. Menurutnya, buah pala di Maluku Utara hampir rata-rata ditumbuhi salah satu tanaman yang menjadi incaran bangsa Eropa tersebut.
Baca Juga: Berikut Prediksi BMKG Tentang Prakiraan Cuaca Malam Hari di Maluku Utara
“Saya kemudian kembangkan lagi buah pala jadi kecap pala. Sebenarnya, saya hanya manfaatkan apa yang ada di sekitar kita saat ini.” Jelasnya.
Dari usah yang cukup berhasil, Habibah tidak hanya menelannya sendiri untuk kembangkan usahanya. Ia pun berbagi pengetahuan kepada warga kelurahan sekitar. Dengan membuat pelatihan bagi pelaku usaha pemula.
Lambat laun, dengan usahanya yang cukup dikenal orang tersebut. Kini Habibah tidak sekuat dulu, kakinya sering sakit-sakitan.
“Saya dibantu oleh anak-anak saya. Usaha Sarilaha kemudian dikembangkan lagi oleh anak saya yang bungsu, yaitu Rosleni.” Ucapnya.
Baca Juga: Kedai Sinar Gemilang dan UD. Kentjana Berhasil Memikat Hati Pelanggan
Dengan kemampuan anak-anaknya yang masih muda. Saat ini Sarilaha sudah punya berbagai macam produk, yaitu olahan kecap ikan, olahan kecap pala, sambal roa, ikan abon tuna dan kue bilolo cemilan khas Maluku Utara.
Namun, kenyataan pahit harus diterima oleh Habibah, anak bungsu yang kembangkan usahanya tersebut meninggal dunia.
“Ini hari ke 128 setelah anak saya meninggal.” Kata Habibah yang mengenang anaknya.

Walaupun begitu, Habibah yang sudah lebih dari 60 tahun itu tetap semangat agar Sarilaha ke depannya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Anak-anak saya sampai saat ini tetap membantu saya.” Terangnya.
Bagi Habibah, untuk bangun sebuah usaha hal yang perlu disiapkan adalah kemauan dan niat baik. Kemudian harus menjaga kualitas rasa dari produk yang dibuat, tambah lagi dengan kemasan yang harus lebih menarik.
Habibah sangat bersyukur dengan bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah kepadanya hingga saat ini. Ia juga berharap agar pemerintah perhatikan para pelaku usaha yang baru berkembang.
“Saya juga berharap pemerintah mempromosikan produk kami, misalnya dengan banyaknya warung makan di Kota Ternate, satu produk kecap milik saya bisa dititipkan di tempat tersebut.” Harapnya.(tr-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Junaidi Drakel
