Manfaatkan Limbah Jadi Miniatur Patung
TERNATE (kalesang) – Mengolah limbah sebagai produk kreatif merupakan sebuah rasa kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, mengolah limbah menjadi produk kreatif memberikan motivasi bagi masyarakat.
Namun, tidak semua anak muda punya keinginan dan keberanian untuk bangun usaha ataupun mengolah limbah untuk jadi nilai rupiah.
Wahyu Umagapi, pengrajin miniatur kayu dan limbah koran mengaku, terjun di dunia Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sejak 2015 silam. Satu tahun setelah Pasar Swalayan Tara Noate diaktifkan.
Produk pertama yang dibuat oleh Wahyu adalah gantungan kunci parang sederhana dari ukiran kayu yang dibuat sendiri.
Pertama kali, lanjutnya, hasil kerajinan miliknya belum diterima sepenuhnya oleh pengelola Pasar Swalayan Tara Noate. Tak henti di situ, ia pun semakin semangat untuk buat sesuai dengan permintaan.
“Setelah buat, saya antar lagi. Alhamdulillah diterima, saya disuruh buat lebih banyak lagi. Sekitar 1000 buah.” Ungkapnya saat ditemui reporter kalesang.id, Selasa (7/2/2023).
Namun, keterbatasan tenaga kerja, dan produksi masih manual, ia hanya mampu membuat 50 buah. Dari situ peminat mulai banyak. Hal ini membuatnya semakin semangat lagi.
Baca Juga: Bangun Kedai Kopi Beanice Berkat Nonton YouTube
Meski demikian, pekerjaan yang digelutinya, masih minim untuk mendapatkan orang yang membantunya. Jika permintaan banyak pun ia sendiri tidak sanggup.
Menurut Wahyu, sebenarnya pekerjaan pengrajin seperti ini, tidak semua orang punya keinginan. Walaupun punya skill, namun percuma kalau tidak punya keinginan.
“Alhamdulillah pekerjaan ini sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.” Ucapnya.
Selain itu, lelaki lulusan Teknik Pertambangan ini punya skill yang tidak diragukan lagi, ia juga desain logo Tara Noate dengan gaya khas Maluku Utara, yaitu tarian soya-soya.
“Jadi waktu itu ada tawaran dari saudara saya untuk desain logo. Saya dengan semangat datang untuk interview. Dari hasil interview saya dipercayakan untuk desain logo Tara Noate.” Bebernya.
Hal ini, kata lelaki 33 tahun itu, merupakan satu kebanggaan sendiri baginya. Ia mulai jadikan hal itu sebagai peluang agar skill desain yang dimilikinya bisa tersalurkan.
“Semua orang punya skill. Namun beberapa di antaranya yang tidak mau mengasah kemampuan itu.” Ujarnya.
Baca Juga: Ayo Merapat! Kedai Kopi 66% Punya Promo Menarik dan Ruang Bagi Komunitas
Seiring berjalannya waktu, di tahun 2016, kata lelaki dua anak itu, ia mulai geluti lagi bisnis sablon. Namun, tetap fokus untuk buat kerajinan.
“Masuk di dunia sablon karena waktu itu pasar lagi bagus. Banyak orang yang buat usaha tersebut. Saya mulai coba.” Katanya.
Wahyu bilang, usaha sablonnya sangat laku di pasaran. Jadi, usaha sablon tersebut orang tua dan temannya ikut terlibat untuk membantunya.
Setahun berjalan usaha sablon yang digeluti oleh Wahyu harus berhenti. Karena harus memilih memfokuskan diri di kerajinan. Dan memutuskan menikah dengan Purwaningsih Yunus.
“Jadinsetelah menikah saya sudah tidak fokus ke sablon lagi, meskipun pasarannya bagus saat itu. Saya kembangkan lagi kerajinan.” Bebernya.
Lambat laun, lanjut lelaki kelahiran Kota Ternate itu, memilih untuk manfaatkan limbah koran maupun kertas-kertas yang tidak dimanfaatkan. Hal ini dilakukan karena lebih mudah didapatkan.
Kata Wahyu, pakai limbah koran ini, menurutnya, sangat mudah dibentuk, tidak membutuhkan waktu lama. Yang terpenting adalah konsentrasi agar hasilnya lebih memuaskan.
Tentunya, alumni Universitas Veteran Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan mengaku, di tiap akhir tahun ia selalu menyiapkan beberapa kerajinan baru yang dibuatnya.
Hingga di tahun 2020, ia mengikuti event yang dilakukan di Pasar Swalayan Tara Noate, yaitu Dekranasda, ia mendapat juara I dari beberapa orang yang mengikuti lomba tersebut. Dengan karya terbarunya, yaitu patung soya-soya dari ukiran kayu.
“Alhamdulillah, saya dapat juara. Kebetulan waktu itu istri saya lahiran anak kedua. Sangat bersyukur ada rezeki dengan hasil kerja keras, saya pun diterima baik.” Tuturnya.
Meski begitu, dalam perjalanan usaha, tidak semudah dibayangkan. Karena jatuh bangun dalam sebuah usaha sudah pasti. Namun, ia tetap semangat, hal itu tidak membuat dirinya patah semangat.
Baca Juga: Berhenti dari Pramugari, Gustin dan Suami Bangun Usaha Coconut Kai di Ternate
Dengan perjalanan usaha yang digelutinya, di beberapa kesempatan, Wahyu hadir sebagai narasumber di Universitas Khairun Ternate, bagi wirausaha pemula.
Tak berhenti di situ, Wahyu selalu membuka ruang bagi siapapun untuk belajar kerajinan dan manfaatkan limbah yang ada di sekitar.
“Produk saya saat ini dititipkan di Pasar Swalayan Tara Noate. Brand dan kualitas harus seimbang. Sebab, jika kualitas bagus brand juga disambut baik di pasaran.” Ucapnya.
Untuk saat ini, Wahyu menambahkan, ia dan para pelaku UMKM yang lain juga dapat bantuan dari pemerintah. Jika punya keinginan, harus lakukan, karena jika ada yang jual pasti ada yang membeli.
“Hasil produk saya bisa diterima di pasar, keuntungan juga saya dapatkan. Saat ini, ada beberapa yang saya buat dengan mengangkat ikon Maluku Utara, seperti soya-soya dan cakalele.” Pungkasnya.(tr-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Junaidi Drakel
