Pemkot Tikep Siapkan Dana Rp10 Miliar Bebaskan Lahan Bandara Loleo
Pemprov Maluku Utara Anggarkan Rp30 Miliar Secara Bertahap
TIDORE (kalesang) – Pemerintah Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara, menyiapkan duit sebanyak Rp10 Miliar untuk pembebasan 5 hektar lahan, dalam rangka pembangunan Bandara Internasional di Dusun Loleo, Desa Aketobololo, Oba Tengah, Tidore Kepualauan.
“Pemkot Tidore akan kucurkan dana Rp10 miliar untuk pembebasan lahan.” Ungkap Kepala Dinas Perumahan, Pemukiman, dan Pertanahan Kota Tidore, Muslihin, Kamis (9/2/2023).
Kendati begitu, dia bilang hal itu masih menunggu penetapan Lokasi Bandara Loleo oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
“Jika sudah penetapan lokasi, baru kita akan anggarkan.” Jelasnya.
Pembebasan lahan ini, kata Muslihin, ada sharing dana antara pemerintah provinsi (Pemprov) Maluku Utara sebesar 80 persen, dan 20 persen dari Pemkot Tidore.
Kedua sumber dana ini, akan digunakan pada kebutuhan lahan Bandara Loleo yang memakan total lokasi sebesar seluas 400 hektar.
Dari informasi yang dihimpun kalesang, Pemprov Malut telah menganggarkan dana sebesar Rp30 miliar untuk pembebasan lahan bandara tersebut, dimana Rp10 miliar dianggarkan dalam APBD Perubahan 2022 lalu, dan Rp20 miliar sisanya dalam APBD induk tahun anggaran 2023.
Lanjut Muslihin, ada 9 bidang lahan dari 5 pemilik seluas 4 hektar, yang segera dibayar Pemprov, namun menunggu hasil penilaian tanah tim penilai pusat.
“Jika penilaiannya sudah keluar, 9 bidang lahan itu, akan dibayar secepatnya, kemungkinan per meter seharga Rp35 ribu, tetapi jelasnya ke Dinas Perkim Provinsi.” Ucapnya.
Sedangkan, PLT, Kepala Dinas Perkim Provinsi Maluku Utara, Adnan, saat dikonfirmasi terkait kepastian pembayaran lahan yang telah dibebaskan, belum bisa memberikan penjelasan lantaran masih berada di luar daerah.
“Saya ada rapat di Jakarta, nanti baru konfirmasi lagi.” Jawabnya singkat.
Informasinya dari lahan yang sudah dibebaskan, diketahui sebanyak 15 bidang lahan di Desa Loleo adalah milik keluarga Walikota Tidore, Capten Hi. Ali Ibrahim.
“Iya memang lahan itu masuk dalam pembebasan lahan, itu milik kakek nenek saya ketika dulu berkebun di sana.” ketika dikonfirmasi awak media.
Dia menjelaskan bahwa dahulu, orang-orang di Pulau Tidore banyak yang ke daratan Halmahera untuk berkebun.
“Kalau di Akelamo itu, ada Kampung Soasio, ada Kampung Gamtufkange, Kampung Rum, dan Seli. Kalau di Loleo itu ada orang-orang Gurabati, salah satunya kakek nenek saya.”Terangnya.
Lanjut dia, sejak beberapa kali bertemu dengan warga untuk memfasilitasi proses pembebasan lahan dirinya mendapat sambutan baik dari masyarakat terkait rencana pembangunan Bandara.
“Di satu kesempatan saya bertemu warga, mereka bilang agar lahannya segera dibayar mumpung mereka masih hidup, jangan sampai anak cucunya berkelahi karena harta.”Katanya blak-blakan menutup wawancara sembari tersenyum.
Reporter: M. Rahmat Syafruddin
Redaktur: Wawan Kurniawan
