Membaca Realitas

Menyambung Rantai Ekosistem Gofasa-Tifa

 

Ada rantai tak kasat mata yang selama ratusan tahun mengikat hutan, bunyi, dan manusia di Hutan Gofasa menyusut dibabat untuk membangun rumah dan ruko. Maestro Tifa tinggal tanah Maluku Utara. Nama rantainya: Gofasa-Tifa. Gofasa adalah pohon. Tifa adalah gendang. Di antara keduanya ada maestro, ada ritual, ada identitas, ada harga diri sebuah kepulauan.

Hari ini rantai itu putus hitungan jari. Tifa buatan pabrik dari kayu sembarang menggantikan suara yang dulu hanya boleh lahir dari Gofasa tua. Ritual Kololi Kie kehilangan detak jantungnya karena Tifa-nya bisu. Anak muda tak kenal suara itu, lalu tak kenal dirinya.

Pertanyaannya: siapa yang bertugas menyambung rantai yang putus? Jawabannya bukan hanya Dinas Kehutanan atau Dinas Pariwisata. Jawaban paling mendasar ada di ruang kelas IPS.

Sebab putusnya rantai Gofasa-Tifa adalah akibat cara berpikir yang terpisah-pisah.
Selama ini kita memisahkan urusan.

Gofasa=urusan kehutanan.Tifa=urusan sanggar. Ritual urusan adat. Ekonomi maestro = urusan koperasi. Pendidikan urusan hapalan. Padahal di lapangan, satu pohon tumbang berarti satu Tifa tidak lahir, satu maestro kehilangan kerja, satu ritual kehilangan suara, satu identitas kehilangan nada.

IPS Terpadu lahir justru untuk menyambung cara berpikir yang rantai-rantainya diputus oleh sekat birokrasi dan sekat mapel.

Pertama, menyambung lewat nalar ruang: Geografi.

Siswa harus tahu di mana Gofasa tumbuh, berapa hektare tersisa, berapa laju hilangnya per tahun. Peta itu bukan tugas Geografi bab 2. Peta itu akta kelahiran Tifa. Kalau anak Ternate tidak bisa memetakan Gofasa, ia tidak akan pernah paham kenapa Tifa mahal dan langka. Kemandirian ekologis dimulai dari melek peta.

Kedua, menyambung lewat nalar waktu: Sejarah.

Kenapa dulu setiap kampung wajib tanam Gofasa? Kenapa Tifa tidak boleh dibuat dari kayu lain? Sejarah bukan hafalan tahun. Sejarah adalah alasan. Ketika siswa wawancara maestro dan dengar cerita “Gofasa ditebang sembarang musiba datang”, mereka tidak sedang belajar mitos. Mereka sedang belajar peringatan dini berbasis budaya. Memutus rantai sejarah berarti memutus sistem imun komunitas.

Ketiga, menyambung lewat nalar nilai: Sosiologi & PKn.

Siapa yang paling rugi kalau Tifa hilang? Bukan turis. Yang rugi adalah anak cucu kita yang tidak punya penanda identitas saat ditanya “asal mana” di perantauan. Ini soal keadilan antargenerasi. PKn bukan soal hapal pasal, tapi soal berani merancang Perda Perlindungan Gofasa-Tifa. Sosiologi bukan soal definisi, tapi soal tanya: “Kenapa anak muda malu main Tifa?” Jawabannya mungkin karena tidak ada ekosistem ekonomi di sana. Maka rantai harus disambung ke Ekonomi.

Keempat, menyambung lewat nalar perut: Ekonomi.

Maestro Tifa berhenti karena anaknya tidak mau mewarisi miskin. Gofasa tidak ditanam karena pala lebih cepat jadi uang. Menyambung rantai Gofasa-Tifa berarti menyambung rantai ekonomi. Siswa IPS perlu belajar hitung: berapa nilai satu Gofasa 20 tahun dibanding satu pohon pala 5 tahun? Bagaimana koperasi Tifa masuk perdagangan elektronik? Bagaimana sertifikasi “Tifa Gofasa Asli” menaikkan harga? Tanpa ini, semua pidato pelestarian cuma jadi romantisme.

Jadi, apa peran IPS Terpadu?
IPS Terpadu adalah bengkel untuk menyambung rantai itu di kepala generasi baru. Tema “Krisis Gofasa-Tifa” ditaruh di tengah kelas. Siswa jadi ekolog, sejarawan, ekonom, jubir adat selama satu bulan. Produknya bukan mading. Produknya: peta sebaran Gofasa, podcast maestro, draf naskah akademik Perwako, proposal koperasi, dan 100 bibit ditanam di halaman sekolah.

Itu namanya Kurikulum Berdampak. Dampaknya bukan nilai rapor. Dampaknya adalah rantai yang kembali tersambung: pohon tumbuh, maestro dapat murid, Tifa bunyi lagi, ritual hidup, identitas tegak.

Penutup: Yang Kita Selamatkan Bukan Kayu dan Kulit Kambing

Ketika bicara Gofasa-Tifa, kita tidak sedang romantis dengan masa lalu. Kita sedang menyelamatkan masa depan. Sebab masyarakat yang kehilangan bunyinya adalah masyarakat yang kehilangan cara memanggil dirinya sendiri.

Memisahkan urusan Gofasa ke Dinas Kehutanan dan urusan Tifa ke sanggar adalah cara lama yang membuat rantai ini putus. Memadukannya di ruang kelas lewat IPS Terpadu adalah cara baru untuk menyambungnya lagi.

Rantai itu sudah dititipkan di tangan guru IPS. Kalau bukan di kelas, di mana lagi kita bisa pastikan anak cucu kita masih tahu bahwa suara Tifa yang sah itu lahir dari pohon Gofasa, dan keduanya lahir dari tanah Kie Raha?

Jangan sampai kita hanya mewariskan foto Tifa di museum, sambil bilang ke cucu. (*)