Membaca Realitas

Penduduk Ring 1 IWIP Bertambah 7.610 Jiwa, Sampah Ikut Menumpuk

HALTENG, Kalesang – Pertumbuhan industri nikel di Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, ikut mengubah wajah desa-desa di sekitar kawasan industri. Bertambahnya pekerja dan pendatang membuat jumlah penduduk meningkat, sementara persoalan sampah rumah tangga semakin terlihat di permukiman.

Perubahan paling mencolok terjadi di Desa Lelilef Sawai dan Desa Lelilef Waibulan yang berada di ring 1 kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, jumlah penduduk kedua desa tersebut meningkat dari 6.882 jiwa pada 2022 menjadi 14.492 jiwa pada 2025.

Artinya, dalam empat tahun, jumlah penduduk di dua desa itu bertambah 7.610 jiwa.

Pada 2022, penduduk Desa Lelilef Sawai tercatat sebanyak 3.639 jiwa dan Lelilef Waibulan 3.243 jiwa.

Setahun kemudian, jumlah penduduk Lelilef Sawai meningkat menjadi 4.650 jiwa, sedangkan Lelilef Waibulan mencapai 4.645 jiwa.

Pertumbuhan berlanjut pada 2024. Penduduk Lelilef Sawai menjadi 4.747 jiwa dan Lelilef Waibulan 4.842 jiwa.

Lonjakan terbesar terjadi pada 2025. Jumlah penduduk Lelilef Sawai mencapai 6.676 jiwa atau bertambah 1.929 jiwa dalam setahun. Sementara penduduk Lelilef Waibulan mencapai 7.816 jiwa atau bertambah 2.974 jiwa.

Pertumbuhan penduduk tersebut berjalan bersamaan dengan berkembangnya rumah kos, tempat usaha dan aktivitas ekonomi yang melayani pekerja serta pendatang di sekitar kawasan industri.

Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa persoalan baru, salah satunya peningkatan volume sampah domestik.

Mama Hafiza Puasa (51), warga Desa Lelilef Woebulen yang mengandalkan warung nasi kuning untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengatakan kondisi lingkungan berubah drastis sejak aktivitas pertambangan berkembang.

Menurut Hafiza, sebelum aktivitas industri berkembang, sampah rumah tangga warga umumnya berupa dedaunan.

“Dulunya kalau sampah di rumah hanya daun bunga atau daun mangga, jadi paling dibakar atau dibuang ke pantai. Tidak ada sampah plastik seperti saat ini,” kata Hafiza saat ditemui Jumat (14/8/2026).

Baca Juga:Krisis Sampah di Jantung Industri Nikel PT IWIP Weda Tengah

Baca Juga: Data Sampah Halmahera Tengah Beda Jauh, KLH Catat 53 Ton per Hari

Menurutnya, bertambahnya penduduk membuat sampah kemasan, terutama plastik, semakin banyak.

Persoalan semakin rumit karena lahan kosong yang sebelumnya dapat digunakan untuk membakar sampah kini banyak berubah menjadi kos-kosan dan tempat usaha.

Hafiza menyebut sepanjang 2018 hingga 2024, tumpukan sampah sempat terlihat di sejumlah bahu jalan mulai dari Trans Kobe, Lelilef Woebulen, Lelilef Sawai, Gemaf hingga Sagea.

“Sejak perusahaan buka sampai tahun 2024 itu hampir semua pinggir jalan orang taruh sampah. Kalau sudah terlalu banyak, akhirnya tong bakar, karena jalan-jalan sudah babou,” ujarnya.

Pada 2026, pemerintah mulai menyediakan tempat penampungan sementara (TPS) di Lelilef Waibulan dan Lelilef Sawai. Namun, warga mengatakan persoalan pembuangan sampah sembarangan belum sepenuhnya teratasi.

Nurlela (31), warga Lelilef Sawai, mengatakan sebagian warga yang tinggal dekat pantai masih membuang sampah ke laut.

“Sampah kebanyakan dibuang ke laut untuk orang yang rumahnya dekat pantai,” katanya.

Menurut Nurlela, meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas usaha membuat volume sampah ikut bertambah.

“Sekarang aktivitas orang hingga usaha raksasa sudah ada di sini. Orang datang begitu banyak dengan aktivitasnya masing-masing. Ini juga yang membuat sampah bertambah,” ujarnya.

Aktivis lingkungan sekaligus warga Desa Sagea, Rifya Rusdi, juga melihat perubahan serupa.

Menurutnya, sebelum aktivitas pertambangan berkembang, desa-desa di sekitar kawasan tersebut masih didominasi pepohonan dan kebun warga.

Baca Juga:Krisis Sampah di Jantung Industri Nikel PT IWIP Weda Tengah

“Dulu kita melewati jalan-jalan di Desa Lelilef Sawai, Lelilef Waibulen hingga Sagea, yang kita lihat hanya pepohonan dan kebun warga. Setelah tambang masuk, baru menjadi seperti kota yang ada di pulau kecil,” katanya.

Rifya mengatakan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi membuat sampah kemasan semakin mudah ditemukan di sepanjang jalan utama.

“Kondisi sampah saat ini sangat mengganggu. Kadang ada bau busuk ketika kita melintasi jalan utama di Weda Tengah ini,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dan perusahaan dapat memperkuat sistem pengangkutan serta menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai.

Pertumbuhan penduduk di kawasan ring 1 tambang dengan demikian tidak hanya mengubah struktur permukiman dan aktivitas ekonomi, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap layanan dasar, termasuk pengelolaan sampah.

Persoalannya kini adalah apakah pertumbuhan fasilitas pengelolaan sampah mampu mengikuti pertumbuhan penduduk yang dalam empat tahun terakhir meningkat lebih dari dua kali lipat.