TERNATE (kalesang) – Kulit kakek itu perlahan mulai mengerut. Tubuhnya ringkih dimakan usia. Namun harus memaksanakan diri untuk bekerja, itu karena himpitan ekonomi yang mendera.
Bakri, warga asal Kabupaten Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang bekerja sebagai pengumpul besi tua di Kota Ternate, Maluku Utara.
Jadi, lelaki 65 tahun itu sudah bekerja sebagai pengumpul besi tua di Kota Ternate sudah selama 10 tahun.
Seharusnya, di usia yang telah memasuki senja, Bakri sudah harus beristrihat di rumah dan menikmati masa tuanya bersama keluarga, tapi apalah daya nasib berkata lain.
Meskipun tenaganya yang sudah tidak lagi sekuat dulu, namun niat untuk mengais rezeki masih menjadi prioritas utama menyambung hidup di negeri perantauan.
Tidak punya keluarga dan hanya bermodal nekat, Bakri datang ke Kota Ternate menggunakan transportasi laut pada tahun 2012 silam. Itu dilakukan semata-semata untuk bisa mencari pekerjaan di negeri rempah-rempah ini.
Saat ini, Bakri numpang tinggal di gudang besi tua milik bos mereka di Kota Baru, Kecamatan Ternate Tengah. Kendati kulit tangan dan kakinya sudah terlihat keriput, ia tak gampang menyerah.
Baca Juga: HIV dan Berbagi Kebaikan
Dengan berpakaian seadanya, tidak lupa menggunakan topi yang dijadikan sebagai pelindung wajah, Bakri mulai berkeliling mencari besi tua di setiap lorong-lorong setiap kelurahan yang ada di Kota Ternate.
Selama ini, Bakri hanya berharap besi tua sebagai sumber pendapatan ta. Ia menggunakan gerobak. Tidak peduli merek apapun, semua besi dikumpulkan untuk menjadi satu, barulah akan dijual ke langganannya.
“Di Lombok itu awalnya saya bekerja di tempat pangkas rambut, masih berusia 20 tahun. Dari siang sampai malam kerjaannya potong rambut saja. Itu selama 15 tahun.” Kata Bakri saat ditemui kalesang.id, Jumat (17/2/2023).
Tentu, bekerja sebagai pengumpul besi tua sering membuat Bakri kelelahan. Sehingga sesekali ia memilih berjalan-jalan dengan sepeda bututnya untuk menghibur diri. Kadang-kadang, Bakri harus beristirahat karena kakinya sering sakit.
“Saya cape, hari-hari bekerja, makanya istrahat dulu atau jalan-jalan. Kalau ngantuk ya tidur. Kumpul besi tua saya biasanya pakai gerobak dengan berjalan kaki.” Ungkapnya seraya menggosok-gosok kakinya.
Sebagai pencari besi tua, Bakri menceritakan, proses jualnya tidak langsung dalam seharian, tetapi biasanya ditampung selama berhari-hari, bahkan minggu. Setelah sudah terkumpul cukup banyak, barulah ia jual.
Baca Juga: Faya, Antara Pascasarjana, Event Organizer dan Kopi
“Besi tua yang kita jual ke bos itu kemudian akan dijual lagi ke Jakarta. Tapi ditampung dulu 5-6 ton barulah dikirim memakai kontener.” Kata Bakri sambil membenarkan topinya yang sedikit miring.
Bakri mengaku, pendapatan dari hasil jualan besi tua itu biasanya Rp400-500 ribu. Dari hasil tersebut, ditabung selama bertahun-tahun untuk dijadikan uang tiket balik ke kampung halaman.
“Saya sering-sering pulang ke Lombok lihat anak dan istri. Jadi satu tahun atau dua tahun pulang bawa Rp5 juta. Kemudian nanti balik lagi ke Ternate.” Kata lelaki satu anak itu.
Kendati demikian, bagi Bakri, hidup memang harus dijalani. Apalagi di negeri orang. Sejak remaja hingga kini, ia selalu menjalani kehidupan dengan baik. Meski saat ini separuh tubuhnya mulai lemah.
“Mau bekerja apapun harus dijalani dengan sabar. Itu kuncinya, sebab pintu rezeki akan selalu terbuka kalau kita mau berusaha.” Tandasnya.(tr-01)
Reporter: Juanda Umaternate
Redaktur: Junaidi Drakel
