Oleh
Nurlila D. Yoisangaji
Bukan tentang seorang wanita yang telah diperkosa seperti yang viral disosial media
Bukan pula tentang si pemerkosa yang telah digantung kasusnya
Ini tentang negri kita yang digadaikan hanya untuk kesenangan sementara
Ini tentang budaya kita yang telah dilacurkan hanya untuk kepentingan semata
Puluhan tahun yang lalu para leluhur memperjuangkan negri ini denga susah payah
Kini anak negri kembali menjualnya dengan bermacam-macam gaya
Fatkauyon, negri yang berdiri dengan tumpah darah mengorbankan empat puluh nyawa
Kini tingal cerita manipulasi semakin merajalela
Karena pemimpin, kita terpecah belah
Tetua-tetua dibungkam, anak muda mulai tak terarah
Hancur berantakan…
Kini Predator bedebah hadir dengan misi membawa revolusi, nyatanya kita menghirup polusi dan negri kita diambil alih
Tempat pariwisata menjadi sektor mereka mengangkat nama, sementara kita membabi buta seolah sangat bahagia
Tarian bela yai yang dulunya diangap sakral
Ditampilkan hanya untuk tamu terhormat
Syair-syairnya berisi tentang nasehat
Kini dimainkan untuk menjemput para penjilat
Kita masih terdiam karena permainan mereka yang biadab
Lembaran merah biru kita Anggap lebih beradab
Anak muda semakin berkelas ketika disodorkan satu gelas, kita menuju waras katanya
Hey Bangun anda tidur terlalu miring, kataku
Krisis ekonomi dan pendidikan
Tak menjadi pusat perhatian
Anak negri putus harapan tak melanjutkan masa depan
Masa kita hanya diam?
Saya masih berharap perubahan walaupun hanya angan-angan
Jangan sampai syair tarian bela yai tak berarti di negri sendiri
