Pernah Gunakan Sistem Bayar Seikhlasnya, Kini Kala Coffee Roastery Banyak Peminat
Adit: Sampai saat Ini Saya Bersyukur, Rezeki Sudah Diatur, Jalani Saja
TERNATE (kalesang) – Bayar seikhlasnya adalah langkah awal Kala Coffee Roastery memulai usaha di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.
Kala Coffe Roastery ini merupakan kedai yang berada di Kelurahan Dufa Dufa, Kecataman Ternate Utara, yang diminati banyak kalangan mahasiswa.
Kala Coffee Roastery, pertama kali dibuka sejak tahun 2020. Nama yang dipakai ini diambil dari nama anak dari pemilik kedai tersebut, yaitu Kalanila.
Owner Kala Coffee Roastery, Adhyatma Mansur bercerita, setelah lulus SMA di tahun 2007, ia mulai melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Bandung, Jawa Barat.
Di bangku kuliah, lelaki kelahiran 24 Februari 1990 itu mengaku, ia juga bekerja paruh waktu di kedai kopi. Dari situ banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan.
Salah satu alasan untuk bekerja paruh waktu itu, lanjutnya, agar bisa membeli alat musik dari uang sendiri, bukan dari orang tua.
Baca Juga: Penikmat Kopi yang Satu Ini Berhasil Bangun Kedai Renjana Coffee Ternate
“Terakhir saya kerja itu di salah satu kedai kopi, saya belajar tentang roastery biji kopi.” Katanya, Minggu (4/2/2023).
Dengan bekal pengalaman dan uang hasil kerja yang didapatkan, Adit kemudian beranikan diri untuk buka kedai kopi di Bandung dengan temannya di tahun 2015.
Sekitar tiga tahun kedai kopi bersama temannya, ia kemudian mendapat kesempatan untuk kerja kantoran di Bandung.
“Di tahun 2017 saya kemudian putuskan untuk kerja kantoran dan berhenti di dunia kopi.” Ucapnya.
Sejak Covid-19 melanda Indonesia tahun 2020, kata Aidt, hampir semua aktivitas lumpuh. Hal itu membuat Adit berpikir panjang, hingga akhirnya, ia dan istrinya, Nurfitriyanti putuskan untuk kembali ke Ternate dan meninggalkan segalanya di Kota Bandung.
“Keadaan waktu itu belum membaik lah. Jadi saya dan istri putuskan untuk menetap di Ternate saja.” Bebernya.
Sejak menetap di Ternate, Adit belum berpikir untuk bangun usaha. Namun, di beberapa kesempatan kedua suami istri itu sering datang di kedai kopi milik temannya.
“Saya dan istri nongkrong dengan teman-teman, diskusi tentang kopi. Dari situ saya mulai lihat peluang pasar.” Katanya.
Bagi Adit, kedai kopi di Kota Ternate cukup menjamur. Meski begitu, orang-orang begitu suka nongkrong di kedai kopi. Namun, beberapa pemilik kedai kopi masih kesulitan untuk mendapatkan biji kopi.
Baca Juga: Ini Alasan Ghozal Bangun Kedai Marsroom Coffee
“Hampir semua kedai yang ada di Ternate ini pesan biji kopi dari luar. Dari situ saya terpikir untuk sediakan biji kopi.” Ungkapnya.
Kemudian, sepasang suami istri (Pasutri) itu beranikan diri untuk beli mesin roastery dari uang tabungan mereka.
“Karena mesinnya mahal, kami beli yang sesuai dengan tabungan, tanpa modal pinjam dari siapapun.” Terangnya.
Sejak hadirnya mesin roastery, Adit bilang, ia hanya menyediakan biji kopi atau jual kopi. Namun, di beberapa kesempatan teman-temannya mensupport untuk buka kedai kopi. Ia kemudian buka kedai kopi, dengan konsep yang sangat sederhana, yaitu bayar seikhlasnya.
“Siapapun yang datang bisa bayar seikhlasnya. Saya juga tidak tulis harga, hanya kotak tisu bekas untuk orang yang bayar.” Katanya.
Bagi Adit, siapapun yang datang untuk ngopi tidak harus mengeluarkan banyak uang agar bisa menikmati kopi. Lambat laun, dari bayar seikhlasnya, Adit kemudian beranikan diri untuk tetapkan harga per menu yang telah disediakan.
“Tetapi harganya tetap standar tidak menguras kantong, apalagi untuk mahasiswa.” Katanya.
Di Kala Coffee Roastery ini, tidak hanya menikmati kopi, tetapi orang bisa belajar banyak tentang kopi. Adit selalu buka diri bagi siapa saja yang mau cari tahu tentag kopi.
Baca Juga: Pasutri Ini Sukses Bangun Kedai Kopi 66% di Kota Ternate
“Alhamdulillah, sejauh ini Kala tetap ramai, pelanggan bukan hanya mahasiswa, ada juga anak-anak sekolah yang setelah selesai ekstrakulikuler pasti ke sini.” Ujarnya.
Adit punya prinsip sendiri sejak mengenal dunia kerja dan usaha yang digeluti sebelumnya. Hal yang dilakukannya adalah jalani apa yang sudah jalan, serahkan kepada sang pencipta.
“Sampai saat ini saya bersyukur, rezeki sudah diatur, jalani saja.” Tuturnya.
Ke depannya, Adit berharap peminat kopi lebih banyak agar kedai kopi di Kota Ternate lebih menjamur. Jika begitu, maka ekosistem kopi di Ternate lebih sehat.
“Hal yang perlu dijaga dalam bangun usaha adalah kebersihan dalam kedai ataupun dari peralatan hingga bahan-bahan baku. Lakukan apa yang bisa dilakukan. Siapa yang lebih banyak berbuat, maka ia yang lebih banyak menuai.” Tandasnya.(tr-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Junaidi Drakel
