Membaca Realitas

Dari Kopi Sula ke Kentucky

SANANA (kalesang) – Lulus sebagai sarjana kehutanan membuat Ramli Sapsuha tidak membatasi ruang lingkup pekerjaannya. Ramli lebih memilih mengikuti gairah yang ia miliki untuk mencari nafkah.

Dengan modal berani, pria kelahiran Desa Wailau, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara itu memilih menjadi seorang wirausaha untuk menghidupi keluarga kecilnya.

“Kenapa saya pilih membuka usaha? Karena di waktu saya kuliah di Manado banyak bergaul dengan para pengusaha muda yang tergolong cukup sukses.” Ucap Ramli kepada kalesang.id, Rabu (17/1/2023).

Jatuh bangun sudah Ramli rasakan, apalagi kondisi ekonomi pasca pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia memaksa seluruh kalangan harus membuka lembaran baru.

Tentu, hal tersebut tidak pernah menyurutkan semangat Ramli untuk memulai kembali. Sebab yang ia pikirkan adalah bagaimana cara agar bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Memang, pilihan seseorang dalam bertahan hidup berbeda-beda, tetapi apapun profesi semua pada akhirnya mencari uang.

“Saya itu lebih berpikir bagaimana kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, setidaknya dimulai dari kalangan keluarga kita.” Ujarnya.

Ramli mengatakan, awalnya ia bergerak dalam bidang usaha sejak tahun 2018 bersama dua temannya, yakni Rifeni Gorontalo dan Amirudin Yakseb.

Inisiatif itu terlahir karena mereka ingin membantu petani untuk menjual hasil mereka secara online. Namun, keinginan tersebut harus kandas akibat hasil penelitian tiga anak muda itu mendapati nilai jual produk terlalu tinggi.

Baca Juga: Pensiunan PNS Kini Jadi Loper Koran

“Misalnya seperti harga madu dan sebagainya terlalu tinggi, sehingga kami tidak lanjut menjual.” Jelasnya.

Meski demikian, semangat itu tidak pernah padam, bersama dua temannya itu, mereka kembali membuat kopi Sula dengan menggunakan brand Yasago.

Arti dari Yasago sendiri, lanjut Ramli, adalah gabungan dari tiga marga yaitu Yakseb, Sapsuha dan Gorontalo. Namun, setelah dua orang temannya pekerjaannya masing-masing, usaha warung kopi tidak lagi bisa dilanjutkan.

“Menariknya kami pernah promosi kopi Sula di festival Tanjung Waka pertama di Desa Fatkauyon.” Ucapnya.

Berjalannya waktu, komunikasi mereka bertiga sudah tidak lagi intens, ini lantaran dua orang temannya itu sudah disibukkan dengan urusan masing-masing.

Mau tidak mau, Ramli melanjutkan usaha warung kopi seorang diri dengan menggunakan brand Sahabat pada pertengahan tahun 2018.

Alumni Unsrat Manado itu menyampaikan, pada akhirnya usaha kopi Sula dia pindahkan ke Desa Wailau. Siapa sangka, dari usaha yang ia bangun itu, kedai kopi miliknya itu pernah didatangi kaka kandung Menteri Pariwisata Sandiaga Uno, yakni Indra Cahyo yang gencar-gencar presensi terkait UMKM.

“Ternyata beliau juga sangat berminat dan pernah dia buat iklan untuk membantu promosi kopi Sula.” Ucapnya.

Baca Juga: Bukan Kota Ternate

Selain Indra Cahyo, kata Ramli, beberapa profesor serta wisatawan asing pernah mengunjungi tempat pengolahannya untuk melihat kualitet kopi. Bahkan, seorang profesor melakukan penelitian keaslian kopi dengan tujuan ke depan dijadikan wisata tak bergerak.

“Di masa kepemimpinan mantan Bupati Hendrata Thes, beliau bawa salah satu media televisi untuk mewancarai saya.” Serunya.

Walaupun usaha kopi masih terus berjalan, lelaki kelahiran 1991 itu mengungkapkan, merasa terkendala di bahan baku kopi karena para petani di Kepulauan Sula tidak budi daya pohon kopi, melainkan hanya merawat pohon yang sudah ada, sehingga berpengaruh pada harga.

“Buktinya, saat ini membeli biji kopi yang berada di Desa Sama, Kecamatan Sulabesi Timur nilainya Rp100 ribu per kilogram.” Ujarnya.

Di samping usaha kopi, ia mencoba beralih membuat halua kenari dengan lima jenis varian rasa. Mulai dari rasa original, pandan, coklat, balado hingga rasa kopi.

Baca Juga: Sarjana Bunga

“Sekarang masih berjalan. Hanya saja di Kepulauan Sula tidak ada tempat khusus menjual kuliner produk khas Sula. Saya juga sudah pernah minta Diskoperindag, namun sampai sekarang belum juga ada.” Keluhnya.

Jadi, pria 32 tahun itu sudah memiliki beberapa usaha, yakni air dalam kemasan yang dibeli dari daerah lain, halua kenari, kopi Sula, jus buah.

Selain itu, Ramli juga memiliki ayam kentucky pada tahun 2022. Usaha itu ia bekerja sama dengan seorang teman yang sekarang berada di depan Polres Kepulauan Sula.

“Kalau untuk ayam kentucky penghasilannya sehari bisa Rp1-2 juta. Sedangkan jus buah kalau ramai, sehari bisa dapat Rp300 ribu.” Katanya.

Meskipun lelaki dua orang anak itu adalah serjana, tetapi dia sudah menghibahkan dirinya untuk jadi pengusaha di tingkat UMKM. Kalau mau dilihat sekarang apapun bentuk profesinya tapi tentu bertujuan untuk mencari uang.

“Mau dia seorang ASN, atau berprofesi lainnya, tapi semua hanya ingin mencari uang. Jadi tidak salah jika saya memilih jalan ini.” Tandasnya.

 

Reporter: Karman Samuda

Redaktur: Junaidi Drakel