TIDORE (kalesang) – Lampu merah pasar Sarimalaha, Kelurahan Indonesiana, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, masih ramai dengan kendaraan.
Di tempat itu, seorang pria 70 tahun sering berdiri menawarkan koran kepada setiap orang yang lewat.
Tak kenal lelah, meski di usia yang sudah tidak lagi muda, pria pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu masih terus semangat menghadapi hidup.
Namanya Sofyan Assagaf, adalah mantan PNS di Dinas Transmigrasi Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) sejak tahun 1985.
Dengan hanya bermodal topi, Sofyan yang pensiun di tahun 2010 itu begitu kuat melawan panasnya matahari.
“Saat itu, saya dan 13 orang teman ikut tes dan lulus. Kami ditempatkan di Departemen Transmigrasi Halteng yang waktu itu masih berpusat di Soasio, Tidore.” Katanya saat ditemui kalesangi.id, Kamis (19/1/2023).
Tentu, pria kelahiran November 1953 itu mengatakan, ia masih dapat uang pensiunan hingga saat ini. Setiap bulan ia terima Rp3 juta lebih.
“Dengan uang sebesar itu tidak cukup dengan kebutuhan saya bersama istri dan anak.” Ungkap lelaki empat orang anak itu.
Saat ini, Sofyan bersama istri dan anak sedang kontrak rumah di Kelurahan Tuguwaji, Kota Tidore Kepulauan.
Baca Juga: Bukan Kota Ternate
“Uang sewa kontrakan dalam sebulan Rp1.210.000, biaya listrik Rp265 ribu per bulan, tagihan air Rp50 ribu per bulan, dan televisi kabel Rp40 ribu per bulan.” Tuturnya.
Sofyan mengaku, pertama kali jual koran pada tahun 2015. Awalnya ia masih malu-malu. Berjalannya waktu, dia memantapkan diri untuk berjualan koran di depan kantor Telkom Cabang Tidore.
“Koran yang saya jual itu ambil dari teman, nanti hasilnya kami bagi dua. Waktu itu dalam sehari sebanyak 150 eksempelar terjual habis.” Ujarnya.
Di tahun 2017, Sofyan menderita stroke. Selama setahun ia terbaring di atas tempat tidur. Sakit yang dideritanya itu tidak membuatnya menyerah. Sofyan terus berusaha agar cepat sembuh.
“Ketika sudah mulai pulih, setiap pagi saya berjalan kaki, ini dilakukan agar otot di tubuh saya terbiasa dengan aktivitas.” Katanya.
Jadi, lanjutnya, ketika sudah sembuh, di tahun 2019 ia kembali berjualan Koran. Tapi kali ini dia mulai berjualan di perempatan lampu merah pasar Sarimalaha.
“Setiap pagi saya jual koran sebanyak 25 eksempelar yang saya bungkus dengan kantong plastik.” Ucapnya.
Koran yang dijual sebanyak 25 eksempelar ini, kata Sofyan, pendapatannya tidak seperti sebelumnya. Sekarang hanya bisa bawa pulang uang sebesar Rp50 ribu per hari.
Baca Juga: Sarjana Bunga
“Itu sudah cukup untuk bisa beli kebutuhan sehari-hari.” Terangnya.
Sekarang, Sofyan tidak lagi ambil Koran dari temannya. Tetapi langsung ke kantor media seharga Rp4 ribu per eksempelar.
“Saya jual satu eksempelar itu dengan harga Rp6 ribu. Kadang ada yang bayar Rp7 ribu sampai Rp20 ribu, orang tidak mau ambil uang kembalian. Saya jualan dari pagi hingga pukul 12:00 WIT siang.” Ungkapnya.
Selain jualan koran, Sofyan juga merangkap sebagai nelayan. Jadi sebelum jualan koran, setiap pagi itu ia sudah keluar mancing.
“Jika hasil mancingnya dapat banyak ikan, saya jual di pasar. Tetapi kalau hanya berapa ekor ikan, saya bawa pulang ke rumah.” Katanya.
Di usia yang sudah lebih dari setengah abad, di tahun 2020 Sofyan harus jalani operasi mata.
“Setelah pulih satu tahun kemudian, saya kembali jual koran. Sekarang saya tidak lagi mancing. Anak terakhir saya yang baru saja lulus dari bangku SMA sering bantu saya jual koran.” Ungkapnya.
Baginya, yang terjadi dalam hidup ini tidak ada yang luar biasa, melainkan menjalaninya dengan prinsip dan semangat.
“Jadi dalam kehidupan, saya hanya berpegang pada dua hal, semangat dan prinsip.” Pungkasnya.
Reporter: M. Rahmat Syafruddin
Redaktur: Junaidi Drakel
