Membaca Realitas

Bukan Kota Ternate

TERNATE (kalesang) – Kepulan asap rokok masih bertebaran di ruangan berukuran 3×4, jarak Sukardi dengan laptop yang menjadi senjata utamanya mencari uang tak sampai satu meter.

Tak jauh dari laptop, stempel flash dengan jumlah yang cukup banyak berbaris rapi dengan ukuran yang berbeda-beda.

Di dinding sebelah timur ruangan itu, terpampang foto Sukardi bersama dua sahabatnya sewaktu masih di Kota Ambon, Provinsi Maluku.

Sukardi adalah orang Ambon, hampir semua keluarganya masih tinggal dan menetap di sana, kedatangan lelaki tiga anak itu ke Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara (Malut) pun bukanlah tujuan utamanya.

Dengan baju hanya di badan, ia terpaksa harus turun ke Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, sebab kapal Kota Teratai yang ditumpanginya kala itu tidak lagi melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya di Ambon, Maluku.

“Saya orang Ambon. Di Ternate sejak kerusuhan 1999, tidak ada tujuan sebenarnya untuk datang ke sini.” Kata Sukardi saat berbincang dengan reporter kalesang.id, Selasa (17/1/2023) pagi.

Di usianya yang tidak muda lagi, Sukardi mencoba mengingat kembali bagaimana dirinya bisa sampai ke Kota Ternate. Kata dia, saat itu Kota Ambon diterpa konflik besar-besaran. Mendengar kabar itu, mertua Sukardi menyuruhnya agar pulangkan istri dan anaknya ke Kota Manado.

Kenangan bersama sahabat

Sukardi yang terlanjur berjanji kepada mertuanya, mau tidak mau harus mencari informasi kapal dengan tujuan ke Kota Manado di tengah konflik di Kota Ambon. Beruntung, kapal Kota Teratai diinformasikan akan berangkat menuju ke kota dengan julukan Tinutuan itu.

“Karena saya di Ambon tinggal di kompleks tentara, saya cari informasi kepada tentara saat itu. Ternyata, ada kapal ke Manado yang berlabuh di pangkalan angkatan laut, tapi tiga hari lagi baru berangkat.” Kisahnya.

Baca Juga: Sarjana Bunga

Pagi-pagi, pakaian sudah terisi di dalam tas. Sukardi, istri, serta anaknya yang tinggal di kompleks Skip di Kota Ambon harus cepat-cepat menuju pangkalan angkatan laut yang berada di Halong, Kecamatan Baguala.

Mereka menumpang dump truk milik tentara. Lelaki berusia 58 tahun itu mengatakan, jarak yang ditempuh untuk sampai ke Halong sekitar 9-10 kilometer.

“Setiba di Halong, kami sempat nginap dua malam baru berangkat ke Manado. Sabtu pagi sampai di Manado, saya bawa anak-anak ke tempat nenek mereka.” Sambungnya.

Tiga hari di Manado, anak nomor tujuh dari sembilan bersaudara itu berniat balik ke Ambon pada Senin sore dengan kapal yang sama.

Sebab, menurut Sukardi, orang tua dan saudaranya masih berada di sana. Jika tidak balik, ia tidak akan pernah tahu keadaan keluarganya.

“Sampai di Ternate pagi hari, kapal sudah tidak bisa lanjut ke Ambon. Tidak tahu kenapa. Mau tidak mau, saya turun di Ternate. Jadi tujuan saya itu balik ke Ambon, bukan Ternate.” Ucapnya sambil tersenyum.

Dengan keadaan pasrah, Sukardi lontang-lantung di Kota Ternate. Hingga beberapa hari ke depan, nasib baik datang kepadanya, ia diberi tempat oleh seseorang untuk membuka usaha stempel di Jl. Hasan Boesoirie, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate.

Baca Juga: Demi Nafkahi Anak Istri, Pria 55 Tahun Ini Nekat ke Ternate

Kelincahan Sukardi merancang desain stempel tidak bisa diragukan lagi. Sebab pekerjaan itu sudah ia tekuni sewaktu masih menetap di Ambon. Bahkan pekerjaan itu pula yang membuat dirinya tidak lagi melanjutkan sekolah ke jenjang menengah pertama.

Di dalam toko percetakan Semeru miliknya, Sukardi menceritakan, ia pernah disidang oleh ayahnya. Itu karena ayahnya mendapat kabar bahwa anaknya tidak pernah sampai ke sekolah lantaran sudah mendapatkan pekerjaan.

“Betul kamu sudah kerja? Ayah saya tanya begitu. Saya jawab betul papa, saya sudah dapat kerja, biar bantu-bantu papa cari uang. Langsung ayah jatuhkan vonis berhenti sekolah.” Cerita Sukardi diikuti dengan tertawa kecilnya.

Tetapi kebahagiaan Sukardi yang mendapatkan tempat usaha itu tidak berlangsung lama, sebab ia harus mencari cara agar membeli alat-alat pembuat stempel, baik itu karet runaflek minyak, pemotong karet, maupun bahan-bahan perlengkapan lainnya.

“Lagi-lagi Tuhan bantu saya. Ada teman saya namanya Abang Sidi, mamanya itu orang Ambon, kebetulan mereka juga orang yang punya uang, Ayahnya itu dulu kepala Telkom di Ambon. Beliau bantu beli karet, bahan-bahan cap semua. Baru saya mulai kerja.” Katanya.

Tiga bulan sudah Sukardi bekerja sebagai seorang pembuat stempel setelah dirinya tiba pertama kali di Kota Ternate, dengan modal yang cukup, ia berniat untuk mengajak istri dan anaknya untuk datang ke Kota Ternate.

“Sekitar tiga bulan saya kerja. Saya kabari istri saya untuk datang ke sini.” Bebernya.

Di tengah perbincangan, handphone berwarna biru memotong pembicaraan Sukardi. Walau begitu, ia tak mau menghiraukan.

Pria yang duduk di kursi kayu itu lebih memilih mengeluarkan sebatang rokok miliknya yang terletak di atas meja kerjanya.

“Awalnya itu kami ngekos di Gamalama, rumah panggung. Sekitar dua bulan, satu bulan Rp40 ribu. Waktu itu masih murah.” Sambung Sukardi.

Meski sudah ngekos, bagi Sukardi, tempat tersebut tidak layak untuk mereka tempati, bukan karena kosnya. Melainkan lingkungan sekitar yang tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat tinggal, sebab di sekitar situ terdapat tempat usaha ayam potong.

“Baunya minta ampun. Tidak bisa tinggal di situ, apalagi istri saya saat itu sedang hamil anak yang bungsu, saya juga rasa kasihan lihat istri. Mau tidak mau cari tempat yang layak.” Ucap Sukardi.

Tak habis-habisnya Sukardi mendapat cobaan, sebagai seorang lelaki, tentu dirinya tidak mungkin menyerah begitu saja. Pagi harinya, ketika ia hendak menuju tempat kerja, ia dikejutkan dengan suara teriakan yang memanggil namanya.

Baca: Istrinya Meninggal, Seorang Buruh di Kepulauan Sula Besarkan 4 Anaknya

“Jokerrr!! Saya kaget, nama itu kan cuma orang yang kenal saya di Ambon. Ternyata itu teman saya. Ia sudah menikah di sini. Dia ajak ke Makassar Timur tunjukkan tempat tinggalnya.” Ujar Sukardi sembari mengaku telah menceritakan tempat tinggalnya kepada sahabatnya itu.

“Jadi teman saya sudah kontrak rumah. Hanya saja mertua dari teman saya itu tidak mau menantunya tinggal di kontrakan. Makanya kontrakan teman saya dikasih ke saya untuk tinggal bersama istri dan anak saya. Sembilan bulan free, sudah ada kursi dan tempat tidur.” Aku Sukardi.

Toko percetakan stempel flash Semeru

 

Beberapa bulan berlalu, lingkungan kembali tak mendukung, Sukardi terpaksa harus kembali memilih pindah, mengontrak rumah di seputaran Masjid Kesultanan Ternate. Di situ, ia menetap selama dua tahun. Hanya karena biaya kontrak yang naik tiap tahunnya, ia kemudian kembali memilih pindah.

“Terakhir itu di Tarau, Rp1.500.000 per tahunnya, dua kamar, ada juga kamar mandinya, lengkap. Tidak pikir jauhnya, yang penting terjangkau harganya. Saya di Ternate sama dengan burung, pindah ke sana kemari. Pernah juga tinggal di Kampung Pisang, Mangga Dua, dan Kelurahan Santiong.” Jelasnya.

Selama di Tarau, Sukardi bekerja seperti biasanya, adalah seorang pembuat cap. Beberapa bulan menetap di Tarau, dirinya mendapat informasi ada program bantuan perumahan bagi warga pra sejahtera di Kelurahan Ngade, Ternate Selatan.

Persyaratan untuk mendapatkan rumah tersebut membuat Sukardi berpikir panjang. Sebab, ia harus membuat buku rekening dengan tabungan sebesar Rp2 juta lebih.

“Jika terlambat bayar perumahan, mungkin mereka bisa potong di situ.” Katanya.

Alhasil, salah seorang pegawai bank, Sukardi bilang, kembali menolongnya dengan memberikan uang secara cuma-cuma untuk membuat buku rekening tersebut.

“Pegawai bank itu berikan saya uang secara cuma-cuma, mungkin dia juga rasa simpati kepada saya. Sampai sekarang saya tinggal di perumahan itu. Beberapa bulan lagi sudah lunas.” Ujarnya.

Lorong kecil di depan percetakan Toko Semeru tak henti-hentinya orang lalu lalang, di toko itu pula, Sukardi menghabiskan banyak waktunya.

Harapan dan semangat yang tinggi membuat dirinya bertahan hingga saat ini. Berpikir untuk balik ke Ambon adalah peluang yang kecil bagi lelaki tiga anak tersebut.

 

Reporter: Rahmat Akrim

Redaktur: Junaidi Drakel