Membaca Realitas

Sukses Bangun Rumah dari Hasil Jualan Rujak

 

TERNATE (kalesang) – Suradi dan Tri, pasangan suami istri (Pasutri) asal Kabupaten Surakarta, Provinsi Jawa Tengah yang mengadu nasib di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Siang itu, tepatnya di Kelurahan Takoma, Kecamatan Ternate Tengah, Sri dan Suradi sibuk melayani pelanggan yang datang berbelanja.

Rujak yang mereka jual ini, bisa dibilang sudah tak asing di lidah masyarakat Kota Ternate. Saat ini, dikenal dengan Rujak Ulek Mba Ndut. Modal mereka hanya sebuah gerobak sederhana, tapi banyak sekali memiliki pelanggan tetap.

Awalnya saya jualan keliling tahun 2012. Waktu itu harga rujak masih Rp5 ribu. Sekarang sudah naik menjadi Rp20 ribu.” Terang Tri seraya mengulek bumbu rujak, Minggu (6/2/2023).

Tri menceritakann, pertama kali datang ke Kota Ternate, pada tahun 2007. Itu dilakukan semata-mata demi bisa menyambung hidup untuk keluarga kecilnya.

Baca Juga: Dari Botol Plastik untuk Anak Yatim

“Jadi pertama datang itu kita ngekos, dan masih jualan pop ice di depan Taman Nukila, dari tahun 2007 sampai 2012. Mengais rezeki itu emang sangat susah. Namun harus sabar.” Katanya.

Tentu, lanjut Tri, alasan berhenti menjual pop ice dan memilih jual rujak karena pendapatannya yang tidak memungkinkan. Sebab, sebagai perantauan harus pintar-pintar membangun usaha untuk mendapat keuntungan lebih.

Pertama berjualan rujak kita selalu dibentak-bentak oleh Satpol-PP ketika dilakukan penertiban. Karena belum punya tempat jualan tetap. Belum lagi difitnah sama orang. Pokoknya rintangannya begitu banyak.” Ucapnya.

Wanita lulusan SMP itu juga mengaku, dengan modal berjualan rujak selama 9 tahun, akhirnya ia dan suami berhasil membangun rumah sendiri. Tetapi, kata dia, jangan dilihat dari suksesnya saja, tanpa tahu prosesnya seperti apa.

Baca Juga: Sula Pijakan Terakhir

“Alhmdulillah saat ini kita sudah punya rumah sendiri. Bisa sekolahin anak-anak. Itu sudah sangat cukup. Tetapi perjuangannya memang sangat luar biasa. Intinya berjualan itu harus konsisten.” Ungkap Ibu dari dua anak itu.

Soal pendapatan, kata Sri, tidak bisa ditebak. Semua tergantung rezeki yang diberikan oleh Tuhan. Terserah Tuhan mau kasihnya berapa, dia tetap bersyukur.

“Semua tergantung buahnya, karena kesukaan pembeli itu berbeda-beda. Misalnya ada yang maunya hanya nanas sama mangga, ada juga yang kedondong sama pepaya. Jadi tidak bisa ditebak larisnya berapa banyak.” Ungkap perempuan 36 tahu itu.

Tri mengungkapkan, dalam berjualan, yang namanya untung rugi itu merupakan hal biasa. Modalnya utamanya adalah yakin dan sabar. Kadang satu hari itu pembelinya sepi, kadang juga ramai.

“Kami tidak ada strategi dalam jualan. Tinggal Allah yang tentukan rezekinya.” Ucapnya.

Baca Juga: Sarjana Hukum dan Daun Selada

Meskipun sudah 17 tahun Pasutri ini hidup merantau dan membuka usaha rujak di Kota Ternate, mereka belum punya keinginam untuk balik ke kampung halamannya di Jawa Tengah.

“Untuk saat ini kita belum tahu balik ke kampung kapan. Masih pengen hidup di sini. Tapi tidak tahu suatu saat nanti. Karena rumah kan juga suda ada, terus anak-anak juga sekolahnya di Ternate.” Tandasnya.(tr-01)

 

Reporter: Juanda Umaternate
Redaktur: Junaidi Drakel