MALUT, Kalesang – Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) akan menggelar rangkaian kegiatan Anugerah Pendidikan Tinggi 2026 pada Selasa, 10 Maret 2026, di Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Kegiatan ini menghadirkan dua agenda utama, yakni seminar strategis pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama serta malam penganugerahan bagi sivitas akademika berprestasi. Jumat (6/3/2026).
Seminar yang berlangsung pukul 14.00–17.30 WIB ini bertujuan merumuskan rekomendasi arah pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) dalam 15 tahun ke depan. Kegiatan tersebut akan diikuti oleh seluruh pimpinan PTNU dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada sesi pembaruan kurikulum dan metode pembelajaran, sejumlah rektor dijadwalkan menjadi pemateri utama, yakni Prof. Dr. Fatkul Anam (UNU Sidoarjo), Prof. Dr. Junadi Mistar (Unisma Malang), dan Prof. Dr. Muammar Bakry (UIM Makassar). Diskusi ini akan dimoderatori oleh Dr. Baiq Mulianah dari UNU NTB.
Sementara itu, sesi pembangunan ekosistem riset dan inovasi menghadirkan Prof. Dr. Helmy Purwanto (Unwahas Semarang), Prof. Dr. Tri Yogi Yuwono (UNUSA Surabaya), serta Prof. Dr. Hamdani (UNU Kalimantan Timur), dengan Dr. Ali Formen sebagai moderator.
Seluruh pimpinan PTNU juga akan menyampaikan tanggapan secara tertulis yang nantinya dikompilasi dan dibahas dalam sesi perumusan rekomendasi. Proses tersebut akan dipimpin oleh Dr. Abu Amar Bustomi dari UNU Pasuruan.
Ketua LPTNU, Prof. Dr. H. Ainun Na’im menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, memastikan PTNU mampu merespons dan beradaptasi secara cepat terhadap berbagai perubahan yang terjadi di dunia pendidikan tinggi.
“Pendidikan tinggi memiliki persoalan yang kompleks sehingga perlu diurai sekaligus dipersiapkan berbagai skenario dan perencanaan untuk menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.
Tujuan kedua, kata Ainun, adalah memberikan apresiasi kepada sivitas akademika PTNU melalui Anugerah Pendidikan Tinggi LPTNU 2026.
“Anugerah ini diharapkan dapat menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi lembaga,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris LPTNU, Dr. H. M. Faishal Aminuddin menjelaskan bahwa penghargaan LPTNU tahun ini mencakup sejumlah kategori. Di antaranya kategori ilmuwan muslim berpengaruh di bidang kedokteran, sains terapan, teknologi, ekonomi, dan lingkungan hidup.
Selain itu terdapat kategori pengabdi sepanjang hayat bagi tokoh NU yang berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi, baik melalui kebijakan, filantropi, maupun pembangunan infrastruktur.
Kategori lainnya meliputi dosen dengan karya ilmiah terbaik di bidang sains dan teknologi, sosial humaniora, ilmu agama, serta karya pengabdian masyarakat dengan total 18 bidang ilmu. LPTNU juga memberikan penghargaan bagi tenaga kependidikan terbaik, lembaga atau pusat studi unggulan, serta mahasiswa berprestasi di bidang akademik, olahraga, keagamaan, dan Duta PTNU.
“Anugerah ini merupakan pengakuan bersama atas dedikasi, ketekunan, dan capaian sivitas akademika dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta kontribusinya kepada masyarakat dan jam’iyyah,” ujar Faishal.
Ketua Tim Juri, Prof. Dr. Fatkul Anam menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara berjenjang oleh panel juri. Data kandidat diperoleh dari penambangan data oleh tim LPTNU serta usulan nominasi dari berbagai PTNU.
Seluruh data yang masuk diverifikasi, dinilai, dan diseleksi hingga menghasilkan tiga kandidat terbaik pada setiap kategori sebelum diputuskan dalam rapat pleno.
“Tim LPTNU telah mengumpulkan data sejak awal Januari 2026. Kami menjaga integritas, kehati-hatian, dan kerahasiaan dalam seluruh proses penilaian,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sistem penjurian dilakukan secara objektif, sehingga tidak ada jaminan sebuah perguruan tinggi akan masuk dalam nominasi hanya karena memiliki perwakilan di panel juri.
Seminar ini akan dibuka oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. M. Nuh sebagai keynote speaker. Ia dijadwalkan menyampaikan materi mengenai tantangan perguruan tinggi dalam 10 tahun ke depan serta peran strategis PTNU dalam menghadapi dinamika global pendidikan.
Ketua Panitia Seminar, Dr. Abu Amar Bustomi menyebutkan bahwa seminar ini lahir dari kebutuhan untuk merespons dinamika global pendidikan tinggi, termasuk disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi sosial, serta kompleksitas geopolitik.
“Institusi pendidikan tinggi saat ini dituntut menjadi motor penggerak yang adaptif, kolaboratif, serta mampu menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan kebangsaan,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan Malam Anugerah Pendidikan Tinggi LPTNU 2026 yang digelar pukul 19.30–22.00 WIB setelah salat tarawih.
Ketua Panitia Malam Anugerah, Dr. Mustadin menyampaikan bahwa acara tersebut akan dihadiri sekitar 300 undangan, terdiri dari 200 perwakilan PTNU serta 100 undangan dari pengurus NU, badan otonom (Banom), dan lembaga terkait lainnya.
Dalam malam penghargaan tersebut, penerima kategori ilmuwan muslim berpengaruh dan pengabdian sepanjang hayat akan menerima plakat emas. Sementara dosen dengan karya ilmiah terbaik dan karya kemasyarakatan akan menerima plakat perak, serta kategori tenaga kependidikan dan pusat studi terbaik memperoleh plakat perunggu.
Untuk kategori mahasiswa, penghargaan diberikan dalam bentuk medali bintang emas, perak, dan perunggu bagi Duta PTNU, serta medali bagi mahasiswa berprestasi di berbagai bidang.
Selain penghargaan kompetitif, panitia juga menyiapkan sejumlah penghargaan khusus yang bersifat apresiatif.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) turut diundang sebagai peserta sekaligus kandidat penerima penghargaan dari LPTNU Pusat.
Rektor UNUTARA, M. Nasir Tamalene menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik undangan tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap kontribusi perguruan tinggi NU di daerah.
“Kami diundang sebagai peserta dan juga berpeluang memperoleh penghargaan dari LPTNU Pusat,” ujarnya.
